BAB 1
Tamu di Tengah Hujan
Alya membaca surat itu untuk ketiga kalinya. Angka di bagian bawah tidak berubah: delapan puluh juta rupiah, harus dilunasi dalam tiga puluh hari.
Di luar, hujan menghantam atap rumah peninggalan ibunya. Alya menggeser ember untuk menampung tetesan dari langit-langit, lalu kembali memandangi surat tagihan di meja.
Rumah ini satu-satunya yang masih ia miliki. Di kusen pintu dapur, garis pensil buatan ibunya masih menandai tinggi badan Alya dari tahun ke tahun. Ia belum sanggup membayangkan orang lain mengecatnya hingga hilang.
Ketukan terdengar dari pintu depan.
Seorang pria berdiri di teras, memegang payung hitam. Ujung lengan jasnya basah. Ia melirik nomor rumah sebelum menatap Alya.
“Alya Prameswari?”
“Kalau Anda dari penagihan, saya sudah meminta waktu.”
“Saya bukan penagih.” Pria itu menutup payungnya. “Nama saya Raka Adhitama. Saya ingin membicarakan rumah ini.”
Alya menahan pintu agar tidak terbuka lebih lebar.
“Tidak dijual.”
“Saya tidak ingin membelinya.”
“Lalu?”
Raka mengeluarkan sebuah amplop dari saku bagian dalam jasnya. Sudut amplop itu sudah menguning. Di depannya tertulis nama ibu Alya.
Napas Alya tertahan.
“Dari mana Anda mendapatkan itu?”
“Ibu saya menyimpannya.”
Alya mengenali tulisan pada amplop tersebut. Ia pernah melihatnya di balik sebuah foto lama, tetapi ibunya selalu mengalihkan pembicaraan saat ditanya.
“Boleh saya masuk?” tanya Raka.
Alya ragu, lalu menyingkir dari ambang pintu. Ia mempersilakannya duduk di kursi yang paling jauh dari ember bocor.
Raka meletakkan amplop di meja, tetapi tangannya belum melepaskannya.
“Saya bisa membantu melunasi utang rumah ini.”
Alya menatapnya. “Sebagai pinjaman?”
“Sebagai bagian dari kesepakatan.”
“Kesepakatan apa?”
Untuk pertama kalinya, Raka tampak kesulitan memilih kata. Ia menarik napas sebelum menjawab.
“Saya membutuhkan seseorang untuk menikah dengan saya. Selama satu tahun.”
Alya tidak langsung bereaksi. Bunyi air menetes ke dalam ember terdengar begitu keras di antara mereka.
“Anda bahkan tidak mengenal saya.”
Raka menunduk ke arah amplop.
“Itu yang perlu kita bicarakan.”
Di luar, hujan menghantam atap rumah peninggalan ibunya. Alya menggeser ember untuk menampung tetesan dari langit-langit, lalu kembali memandangi surat tagihan di meja.
Rumah ini satu-satunya yang masih ia miliki. Di kusen pintu dapur, garis pensil buatan ibunya masih menandai tinggi badan Alya dari tahun ke tahun. Ia belum sanggup membayangkan orang lain mengecatnya hingga hilang.
Ketukan terdengar dari pintu depan.
Seorang pria berdiri di teras, memegang payung hitam. Ujung lengan jasnya basah. Ia melirik nomor rumah sebelum menatap Alya.
“Alya Prameswari?”
“Kalau Anda dari penagihan, saya sudah meminta waktu.”
“Saya bukan penagih.” Pria itu menutup payungnya. “Nama saya Raka Adhitama. Saya ingin membicarakan rumah ini.”
Alya menahan pintu agar tidak terbuka lebih lebar.
“Tidak dijual.”
“Saya tidak ingin membelinya.”
“Lalu?”
Raka mengeluarkan sebuah amplop dari saku bagian dalam jasnya. Sudut amplop itu sudah menguning. Di depannya tertulis nama ibu Alya.
Napas Alya tertahan.
“Dari mana Anda mendapatkan itu?”
“Ibu saya menyimpannya.”
Alya mengenali tulisan pada amplop tersebut. Ia pernah melihatnya di balik sebuah foto lama, tetapi ibunya selalu mengalihkan pembicaraan saat ditanya.
“Boleh saya masuk?” tanya Raka.
Alya ragu, lalu menyingkir dari ambang pintu. Ia mempersilakannya duduk di kursi yang paling jauh dari ember bocor.
Raka meletakkan amplop di meja, tetapi tangannya belum melepaskannya.
“Saya bisa membantu melunasi utang rumah ini.”
Alya menatapnya. “Sebagai pinjaman?”
“Sebagai bagian dari kesepakatan.”
“Kesepakatan apa?”
Untuk pertama kalinya, Raka tampak kesulitan memilih kata. Ia menarik napas sebelum menjawab.
“Saya membutuhkan seseorang untuk menikah dengan saya. Selama satu tahun.”
Alya tidak langsung bereaksi. Bunyi air menetes ke dalam ember terdengar begitu keras di antara mereka.
“Anda bahkan tidak mengenal saya.”
Raka menunduk ke arah amplop.
“Itu yang perlu kita bicarakan.”