‹ Daftar isi · Setelah Kamu Berhenti Menunggu

BAB 1

Toko yang Buka Terlalu Pagi

Pukul lima lewat dua belas, jarum mesin jahit patah.
Aku memandangi potongan kecil yang tergeletak di atas kain putih, lalu menarik napas pelan. Dari luar terdengar suara motor penjual sayur melewati gang. Sebentar lagi pasar mulai ramai. Sebentar lagi Bu Rini datang mengambil seragam anaknya.
Dan aku masih harus memasang satu lengan.
“Bagus,” gumamku. “Sekarang saja patahnya.”
Aku mematikan mesin, meraba kotak perlengkapan di samping meja, lalu mengambil jarum cadangan. Mata terasa panas. Semalam aku berniat tidur setelah memasang kerah, tetapi selalu ada pekerjaan kecil yang kelihatannya sayang ditinggalkan.
Satu kancing.
Satu kelim.
Satu jahitan yang kurang lurus.
Ketika akhirnya kulihat jam, malam sudah habis.
Di dinding, foto Ibu tergantung sedikit miring. Dalam foto itu ia mengenakan blus biru hasil jahitannya sendiri. Senyumnya lebar, meskipun aku ingat betapa lama ia mengeluh karena Ayah mengambil gambar sebelum ia sempat merapikan rambut.
“Jangan lihat begitu, Bu. Ini pesanan terakhir.”
Aku bangkit untuk meluruskan bingkai fotonya.
Kemudian kembali duduk.
Di atas meja terdapat tiga tumpuk pakaian yang belum kusentuh.
Aku menghindari melihatnya.
Suara batuk Ayah terdengar dari ruang belakang ketika aku selesai memasang jarum.
“Ra?”
“Iya, Yah.”
“Sudah pagi?”
“Belum. Ayah tidur lagi.”
Ada jeda, kemudian bunyi sandal diseret.
Ayah muncul dari balik tirai pemisah toko dan rumah dengan sarung yang ujungnya terlipat. Rambutnya mencuat di satu sisi. Ia menatap jendela, lalu menatapku.
“Ayam sudah bunyi.”
“Ayam sebelah memang suka buru-buru.”
Ayah mendekat. Matanya turun ke gelas kopi di sebelah mesin jahit.
“Kamu belum tidur?”
“Sudah.”
“Kapan?”
Aku memasukkan benang ke lubang jarum.
“Tadi.”
“Tadi kapan?”
“Waktu Ayah tidak lihat.”
Ayah menarik kursi plastik dan duduk di dekat pintu. Kursi itu berderit di bawah tubuhnya. Beberapa tahun lalu ia selalu membetulkan sendiri barang-barang yang berbunyi begitu. Sekarang ia hanya mengubah posisi duduk agar bebannya jatuh pada kaki kursi yang masih kuat.
“Pesanan siapa?”
“Dimas. Hari ini upacara.”
“Yang ibunya jual gorengan?”
Aku mengangguk.
Ayah mengambil gunting kecil yang hampir jatuh di ujung meja, meletakkannya lebih ke tengah.
“Harusnya kamu bilang selesai besok.”
“Kalau besok, Dimas upacara pakai apa?”
“Kan bisa pinjam.”
Aku menurunkan sepatu mesin. “Bisa. Tapi dia sudah keburu senang waktu ukur badan kemarin.”
Ayah tidak menjawab.
Aku masih ingat Dimas berdiri di depan cermin dengan seragam lamanya. Pergelangan tangannya muncul jauh dari ujung lengan. Saat kutanyakan ingin saku seperti apa, ia malah bertanya apakah namanya boleh dijahit dengan benang biru tua.
Seperti seragam milik teman-temannya.
Mesin kembali berdengung. Ayah duduk menemaniku tanpa bicara. Sesekali aku melihatnya mengusap lutut kanan.
“Obat Ayah diminum setelah sarapan,” kataku.
“Iya.”
“Nasinya masih ada. Nanti aku hangatkan.”
“Iya.”
“Jangan cuma minum teh.”
“Kamu ini kalau sudah pagi mirip ibumu.”
Tanganku melambat.
Ayah tampaknya menyadari sesuatu dalam suaranya sendiri. Ia segera berdiri.
“Ayah beli bubur saja. Dua.”
“Tiga. Buat Bu Rini kalau belum sarapan.”
Ia mengangguk, lalu mengambil dompet dari rak dekat pintu. Sebelum keluar, ia berhenti di bawah foto Ibu.
Aku menunduk, pura-pura sibuk merapikan ujung kain.
Ada hal-hal yang masih membuat kami sama-sama kikuk meskipun sudah tiga tahun berlalu.
Bu Rini datang pukul enam kurang sepuluh.
Ia berdiri di depan pintu kaca dengan rambut yang masih basah, memegang kantong berisi gorengan. Di belakangnya, Dimas mengintip melewati siku ibunya.
Aku baru selesai menyetrika seragam itu.
“Masuk, Bu.”
“Aduh, sudah jadi, Mbak?”
“Sudah. Coba dulu, Dim.”
Dimas melepas sandal dengan cepat. Satu sandalnya terbalik, tetapi ia telanjur mendekati seragam yang kuangkat dari meja.
“Ini punya saya?”
Aku tersenyum. “Memangnya ada Dimas lain yang pesan di sini?”
Ia meraba bordir namanya.
Pelan sekali.
Bu Rini membantunya berganti di balik tirai kamar pas. Ketika keluar, Dimas langsung berdiri di depan cermin panjang.
Bahu pas. Panjang lengan pas. Hanya kerahnya yang perlu kurapikan sedikit.
Aku berjongkok di depannya.
“Coba angkat tangan.”
Ia mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi.
“Tidak perlu menyerah sama polisi juga.”
Dimas tertawa.
Bu Rini ikut tertawa, kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompet kecilnya. Sebagian uang itu masih terlipat-lipat.
“Mbak Nara, ini dulu boleh? Sisanya habis jualan nanti siang.”
Aku melihat jumlahnya, lalu mengambil buku pesanan.
“Boleh, Bu.”
“Kurangnya—”
“Sudah saya catat.”
Ia melirik buku itu untuk memastikan. Aku membiarkannya melihat angka yang kutulis. Bu Rini selalu lebih tenang kalau urusan uang jelas.
“Gorengannya dimakan, ya, Mbak. Masih hangat.”
“Wah, ini bisa buat sarapan.”
“Itu jangan dihitung potongan ongkos.”
“Tidak, Bu.”
Dimas masih memandangi dirinya di cermin.
“Dim,” panggil ibunya. “Ayo. Nanti malah terlambat.”
Ia mendekatiku sebelum keluar.
“Terima kasih, Kak.”
“Sama-sama. Sekolah yang rajin.”
“Iya.”
Lalu, dengan wajah sangat serius, ia menambahkan, “Nanti kalau sudah sempit, saya ke sini lagi.”
“Jangan cepat-cepat besar. Kakak baru selesai jahitnya.”
Ia tertawa sambil berlari menyusul ibunya.
Aku berdiri di ambang pintu sampai keduanya menghilang di tikungan.
Udara pagi membawa bau tanah basah dan bawang goreng dari warung bubur. Toko-toko di seberang masih tertutup. Hanya percetakan Bima yang lampu terasnya menyala.
Aku hendak membalik papan menjadi BUKA ketika sebuah suara menyapaku.
“Kalau tokonya buka sebelum matahari, tagihan listrik dapat diskon?”
Bima berdiri di depan percetakannya sambil mengangkat segelas kopi.
“Dapat. Khusus orang rajin.”
“Oh. Pantas saya bayar penuh terus.”
Ia menyeberang setelah sebuah sepeda lewat. Kemeja kotaknya belum dikancingkan di bagian pergelangan. Ada noda tinta kecil di dekat ibu jari.
“Sudah sarapan?”
“Ayah beli bubur.”
“Berarti ini buat nanti.”
Ia meletakkan bungkusan roti di meja dekat pintu.
Aku memandanginya. “Kemarin juga kamu kasih roti.”
“Kemarin rasa cokelat.”
“Hari ini?”
“Keju. Saya masih punya variasi.”
Aku menggeleng, tetapi membiarkan bungkusan itu di sana.
Bima melihat wajahku lebih lama.
“Belum tidur?”
“Kenapa semua orang tanya itu?”
“Karena matamu kelihatan seperti habis rapat keluarga tiga malam.”
Aku mengusap bawah mata dengan punggung tangan.
“Separah itu?”
“Lumayan.”
“Terima kasih sudah jujur.”
“Sama-sama.”
Ia mengambil papan BUKA dari tanganku, membaliknya, lalu menggantungkannya pada kait di pintu.
“Tidur sebentar habis makan. Kalau ada pelanggan, nanti saya suruh tunggu.”
“Kamu mau jaga toko saya?”
“Saya bisa.”
“Bisa ukur kebaya?”
Bima diam sejenak.
“Saya suruh pulang dulu.”
Aku tertawa. Rasanya aneh mendengar suaraku sendiri setelah semalaman hanya ditemani dengung mesin.
Dari ujung jalan, Ayah muncul membawa kantong bubur. Bima segera menghampirinya dan mengambil satu kantong yang terlihat hampir terlepas.
Mereka berbicara sebentar. Aku tidak mendengar apa yang dikatakan Ayah, tetapi Bima tertawa sambil menoleh ke arahku.
“Apa?” tanyaku.
“Tidak ada,” jawab mereka hampir bersamaan.
Aku menyipitkan mata.
Ayah melewatiku menuju belakang toko dengan wajah terlalu tenang.
Menjelang siang, kantukku kalah oleh pekerjaan.
Seorang pelanggan datang untuk mengecilkan celana. Seorang lagi ingin memendekkan gorden, tetapi belum tahu ukuran jendelanya. Lalu seorang ibu membawa contoh kebaya dari ponsel dengan gambar yang terlalu kecil untuk dilihat jelas.
Aku makan roti pemberian Bima sambil memisahkan benang berdasarkan warna.
Pada pukul sebelas, Sari datang membawa es teh dan kabar bahwa harga telur naik.
“Hubungannya sama toko jahit kita apa?” tanyaku.
“Kalau telur naik, harga kue naik. Kalau harga kue naik, uang jajan kita berkurang. Semuanya berhubungan, Nara.”
Ia meletakkan tas, menyingsingkan lengan, lalu melihat meja kerjaku.
“Kamu mengerjakan seragam Dimas semalaman?”
“Hanya sampai pagi.”
Sari berhenti membuka tutup es teh.
“Aku sedang berusaha tidak memarahimu.”
“Terima kasih.”
“Itu bukan pujian.”
Ia memeriksa jahitan di salah satu blus, lalu duduk di mesin sebelah.
Kami bekerja beberapa saat dalam diam yang nyaman. Sari sudah empat tahun membantuku. Ia tahu kapan aku ingin bicara dan kapan aku hanya ingin ada orang lain di ruangan.
“Ra,” katanya kemudian.
“Hm?”
“Ruko bekas toko sepatu ujung jalan itu katanya sudah dibeli.”
“Oh, ya?”
“Sama yang beli gudang belakang pasar.”
Aku memotong ujung benang. “Mau dibuat apa?”
“Belum tahu. Ada yang bilang pertokoan. Ada yang bilang tempat makan.”
“Di sini sudah banyak tempat makan.”
“Yang ini mungkin nasinya pakai sertifikat.”
Aku tersenyum.
Sari menyeruput es teh, kemudian memandangi bagian depan toko kami.
“Kalau daerah sini jadi bagus, kamu harus ganti papan nama.”
Aku ikut melihat keluar.
Papan kayu di atas pintu bertuliskan JAHIT LESTARI. Warna hijaunya sudah pudar. Salah satu sudutnya mengelupas, memperlihatkan lapisan cokelat di bawah cat.
Nama Ibu.
Dulu aku pernah mengusulkan menggantinya dengan papan yang lebih terang. Ibu menolak karena menurutnya papan lama masih bisa dibaca.
Sekarang, setiap kali ingin menggantinya, aku selalu teringat nada suaranya saat mengatakan itu.
“Bisa dicat ulang,” jawabku.
“Iya. Tidak harus diganti.”
Sari kembali menunduk pada pekerjaannya.
Aku tahu ia sengaja tidak melanjutkan.
Pelanggan terakhir pergi menjelang magrib.
Sari pulang lebih dulu karena harus menjemput keponakannya. Ayah tertidur di depan televisi. Aku menghitung uang yang masuk hari itu, memisahkan belanja rumah dari uang bahan dan ongkos listrik.
Setelah semuanya dicatat, aku membuka halaman belakang buku pesanan.
Di sana ada perhitunganku sendiri.
Dua mesin tambahan. Meja potong yang lebih lebar. Kipas angin baru.
Dan, ditulis lebih kecil di bagian bawah:
Kelas jahit Sabtu sore?
Aku menatap kalimat itu cukup lama.
Pernah ada masa ketika aku yakin akan memiliki ruang kerja besar, dengan jendela lebar dan lemari kain yang disusun berdasarkan warna. Aku akan membuat pakaian dengan namaku sendiri pada label kecil di bagian kerah.
Sekarang meja potongku bahkan harus digeser kalau pintu lemari ingin dibuka penuh.
Aku menambahkan harga kursi pada daftar, lalu mencoretnya lagi.
Bulan ini lutut Ayah harus diperiksa.
Di luar, langit mulai gelap. Aku mengangkat kepala ketika terdengar ketukan pada pintu kaca.
Seorang petugas berompi abu-abu berdiri membawa map.
“Selamat sore. Betul ini tempat usaha milik Ibu Nara Prameswari?”
“Iya, saya sendiri.”
Ia mengambil sebuah amplop putih.
“Pemberitahuan pendataan bangunan dan undangan pertemuan warga, Bu. Mohon tanda tangan penerimaan.”
Aku menandatangani lembar yang disodorkannya.
“Pendataan untuk apa, Pak?”
“Rencana penataan kawasan. Penjelasan lengkap nanti waktu pertemuan. Jadwal surveinya juga ada di dalam.”
Aku mengucapkan terima kasih.
Petugas itu melanjutkan ke toko sebelah. Aku menutup pintu, kemudian meletakkan amplop di atas meja.
Nama sebuah perusahaan tercetak pada sudut kiri atas. Di bawahnya ada judul yang panjang tentang rencana penataan kawasan perdagangan.
Aku merobek sisi amplop dengan ujung gunting.
Dua lembar kertas keluar.
Lembar pertama berisi undangan untuk pemilik bangunan. Lembar kedua memuat jadwal pendataan, daftar dokumen, dan nama orang yang akan datang melakukan survei.
Aku membacanya sambil berdiri.
Lalu duduk.
Kertasnya bergeser sedikit di antara jari-jariku.
Dari belakang, Ayah memanggil.
“Ra, pintunya sudah dikunci?”
Aku tidak menjawab.
Ada satu nama di bagian bawah lembar kedua.
Nama yang dulu kutulis di sudut buku sekolah, lalu kuhapus sampai kertasnya menipis.
Nama yang bertahun-tahun kuhindari dalam percakapan.
Penanggung jawab survei arsitektur: Arga Mahendra.
Aku membacanya lagi, mencari kemungkinan bahwa ada orang lain dengan nama sama.
Di sebelah nama itu tercantum nomor telepon dan sebuah foto kecil untuk keperluan identifikasi petugas.
Rambutnya lebih pendek. Wajahnya lebih tegas. Ia mengenakan kemeja putih yang tidak kukenal.
Tetapi aku mengenali matanya.
“Surat apa?” Ayah sudah berdiri di balik tirai.
Aku membalik lembar itu menghadap meja.
“Undangan pertemuan.”
“Soal ruko ujung jalan?”
“Mungkin.”
Ayah menungguku melanjutkan. Ketika aku diam, ia mengangguk dan kembali ke belakang.
Aku duduk sampai lampu jalan menyala.
Percetakan di seberang mulai tutup. Kudengar Bima menarik pintu besinya, lalu bercakap-cakap dengan seseorang. Sebuah motor dinyalakan. Anak-anak berlarian menuju musala.
Aku merapikan gunting.
Meratakan buku pesanan.
Memindahkan gelas kosong ke sisi kiri meja, kemudian mengembalikannya ke kanan.
Setelah tidak ada lagi yang bisa kurapikan, aku membalik kertas itu.
Jadwal kunjungan: Selasa, pukul 09.00.
Besok pagi.
Dari kejauhan terdengar kereta melintas di belakang pasar.
Tanganku berhenti di atas kertas.
Aku tahu kereta itu tidak berhenti di stasiun kecil kami. Sudah bertahun-tahun hanya beberapa perjalanan tertentu yang singgah di sana.
Tetap saja, aku mendapati diriku menghitung bunyi rodanya sampai hilang.
Lalu kulipat surat itu tepat pada garis semula.
Besok pukul sembilan, aku harus membuka pintu untuk Arga.
Aku belum tahu bagaimana cara menyebut namanya tanpa terdengar seperti sedang menanyakan sesuatu.