BAB 2
Nama di Surat Pemberitahuan
Malam itu aku memindahkan surat tersebut sebanyak tiga kali.
Dari meja jahit ke atas lemari.
Dari atas lemari ke dalam buku pesanan.
Lalu dari dalam buku pesanan kembali ke meja jahit.
Pada pemindahan terakhir, aku menelungkupkannya dan meletakkan gunting di atasnya, seolah selembar kertas bisa melarikan diri kalau tidak diberi pemberat.
“Kalau masih ada pekerjaan, lanjut besok.”
Ayah berdiri di ambang pintu kamar. Kaus tidurnya sedikit lembap di bagian dada karena baru membasuh muka.
“Sebentar lagi.”
Ia melihat mesin yang sudah tertutup kain.
“Apa yang ditunggu?”
Aku menahan tanganku agar tidak menyentuh surat itu.
“Tidak ada.”
Ayah mengangguk. Sebelum masuk kamar, ia mengingatkan supaya lampu depan dimatikan.
Aku menunggu sampai pintunya tertutup.
Lalu mengambil ponsel.
Di kolom pencarian, kutulis nama yang baru saja kubaca berkali-kali.
Arga Mahendra.
Jempolku berhenti di atas layar.
Aku menghapusnya.
Beberapa detik kemudian, kutulis lagi.
Hasil pencarian menampilkan terlalu banyak orang. Seorang penjual kendaraan, seorang mahasiswa, seorang laki-laki dengan foto keluarga di depan rumah makan.
Aku hampir merasa lega.
Kemudian wajahnya muncul.
Foto itu berasal dari halaman sebuah biro arsitektur. Arga berdiri di depan bangunan berkaca bersama empat orang lain. Lengannya terlipat, senyumnya tipis.
Aku memperbesar foto tersebut.
Dulu ada bekas luka kecil di dekat alis kirinya. Ia mendapatkannya saat mencoba mengambil layang-layang untuk anak tetangga, meskipun sudah kuingatkan bahwa tembok yang dipanjatnya licin.
Bekas itu masih ada.
Aku meletakkan ponsel, kemudian mengambilnya lagi.
Di bawah foto tertulis riwayat pendidikan dan beberapa proyek yang pernah ia kerjakan. Nama kota tempatnya kuliah membuat mataku berhenti.
Kota yang dulu hendak kami tuju bersama.
Aku membaca sampai kalimat terakhir, lalu menutup halaman itu sebelum sempat membuka foto lain.
Jam di layar menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh.
Aku masih harus bangun pagi.
Tetapi saat berbaring, pikiranku justru sibuk menghitung.
Kalau ia datang pukul sembilan, aku punya waktu selesai menyapu, menyiapkan sarapan Ayah, dan menerima pelanggan yang biasanya datang sebelum bekerja.
Aku bisa meminta Sari menemui petugas survei.
Aku bisa pergi membeli kain.
Aku bisa mengatakan ada keperluan.
Dari balik dinding terdengar batuk Ayah, disusul bunyi gelas diletakkan di meja.
Aku membalik badan menghadap tembok.
Pada usia dua puluh tujuh tahun, ternyata aku masih bisa ketakutan hanya karena harus bertemu seseorang.
Aku bangun sebelum alarm berbunyi.
Untuk beberapa saat, aku merasa pagi itu sama seperti pagi lain. Ada bunyi sendok dari dapur, suara keran tetangga, dan cahaya pucat yang masuk melalui celah gorden.
Lalu aku mengingat surat tersebut.
Aku tetap berbaring sampai alarm menyala.
Di lemari, tanganku sempat mengambil blus biru muda.
Aku mengembalikannya.
Mengambil kemeja putih.
Mengembalikannya juga.
Akhirnya aku memakai blus cokelat yang biasa kupakai bekerja, mengikat rambut, dan mencuci muka sekali lagi.
Di dapur, Ayah sudah menanak nasi.
“Ayah kok tidak bangunkan aku?”
“Masih pagi.”
Aku melihat panci kecil di atas kompor. Airnya belum mendidih, tetapi dua telur sudah dimasukkan.
“Itu nanti terlalu matang.”
“Telur matang memangnya kenapa?”
“Kuningnya jadi abu-abu.”
“Masih bisa dimakan.”
Aku hendak mengambil alih, tetapi Ayah lebih dulu menggeser tubuhnya.
“Biar Ayah.”
Aku berhenti.
Ia jarang bersikeras untuk hal kecil. Aku akhirnya mengambil piring dan membiarkannya menjaga panci.
Kami sarapan dengan telur rebus yang bagian kuningnya benar-benar berwarna abu-abu di pinggir.
Aku tidak berkomentar.
“Pertemuan warga kapan?” tanya Ayah.
“Jumat malam.”
“Di balai kelurahan?”
Aku mengangguk.
“Suratnya mana? Nanti Ayah baca.”
Sendokku menyentuh piring terlalu keras.
“Di depan.”
Ayah mengupas sisa kulit telur yang menempel di jarinya.
“Mereka mau ukur bangunan juga?”
“Hari ini.”
“Oh.”
Aku memperhatikan wajahnya, mencoba mengetahui apakah ia sudah mendengar nama orang yang akan datang.
Tetapi Ayah hanya meraih gelas.
“Dokumen rumah ada di lemari Ibu. Map merah.”
“Iya, nanti aku ambil.”
Aku menunggu pertanyaan lain.
Tidak ada.
Sari tiba pukul delapan kurang sepuluh dengan kantong berisi pisang rebus.
Ia masuk sambil mengeluh karena ban motornya kurang angin. Keluhannya berhenti ketika melihatku sedang mengelap kaca etalase.
“Wah.”
Aku menoleh. “Kenapa?”
“Biasanya kaca itu dibersihkan kalau sudah bisa dipakai menulis nama.”
“Memang sudah kotor.”
Sari meletakkan kantong di meja. Ia memperhatikan rambutku, lalu etalase, lalu tumpukan kain yang sudah tersusun lebih rapi dari biasanya.
“Ada tamu?”
“Petugas survei.”
“Oh, soal penataan kawasan?”
“Iya.”
Ia menarik kursi dan mengambil sebuah pisang.
“Bagus. Tanyakan juga soal selokan depan. Kalau hujan, airnya masuk ke—”
“Sar.”
“Hm?”
Aku menyerahkan lembar jadwal kepadanya.
Sari membacanya sambil mengunyah. Matanya bergerak turun, kemudian berhenti.
Aku melihat rahangnya melambat.
Ia menelan sebelum menatapku.
“Arga?”
Aku mengangguk.
“Arga yang itu?”
“Fotonya ada.”
Sari melihat bagian bawah lembar.
Lama sekali ia tidak bicara.
Aku mengambil kain lap dan menggosok sudut etalase yang sama.
“Kamu tahu dari kapan?”
“Kemarin sore.”
“Kenapa tidak menelepon?”
Aku mengangkat bahu.
Sari meletakkan pisangnya.
“Ra.”
“Aku tidak tahu harus bilang apa.”
Ia menatapku dengan wajah yang membuatku ingin segera membicarakan hal lain.
“Sudah tujuh tahun,” kataku.
“Iya.”
“Harusnya biasa saja.”
Sari melipat surat itu dengan hati-hati.
“Kamu tidak perlu memutuskan harus merasa apa pagi ini.”
Aku menunduk pada bekas air di kaca.
“Kalau kamu mau, aku yang menemui mereka,” lanjutnya. “Kamu bisa di belakang.”
Tanganku berhenti.
Semalam aku memikirkan kemungkinan itu berkali-kali. Mendengarnya dari mulut Sari justru membuatnya terasa menyedihkan.
Aku menggeleng.
“Ini tokoku.”
“Iya.”
“Aku harus tahu mereka mau melakukan apa.”
“Baik.”
Sari menggeser kotak benang agar aku punya tempat meletakkan kain lap.
“Aku di sini,” katanya.
Aku mengangguk tanpa melihatnya.
Pukul delapan lewat dua puluh, Bima datang membawa hasil cetakan nota.
“Pesanan seratus lembar,” katanya, meletakkan bungkusan di meja. “Saya tambah lima. Untuk mengantisipasi salah tulis atau salah jatuh cinta.”
Sari mendengus.
“Kalau yang kedua bisa dibetulkan pakai karbon?”
“Bisa. Tapi tembus sampai lembar belakang.”
Biasanya aku akan membalas sesuatu.
Pagi itu aku hanya memeriksa potongan kertas.
Bima memperhatikanku.
“Kurang tidur lagi?”
“Sedikit.”
“Kopinya mau?”
“Tidak usah.”
Ia melihat Sari, barangkali menunggu penjelasan. Sari sibuk melepaskan kulit pisang.
“Pagi ini ada survei bangunan,” kataku.
“Oh, iya. Percetakan juga kebagian jam sepuluh.”
Bima mengambil surat dari saku belakang celananya. Kertas itu sudah terlipat kecil, jauh lebih kusut daripada milikku.
“Mereka datang berdua, katanya. Saya sudah telepon nomor yang di bawah.”
Aku menatap tangannya.
“Sudah telepon?”
“Iya. Tanya perlu fotokopi sertifikat atau cukup diperlihatkan.”
“Apa katanya?”
“Untuk pendataan awal cukup diperlihatkan. Yang dicatat luas sama penggunaan ruang.”
Aku menelan ludah.
“Siapa yang angkat?”
Bima membuka lipatan suratnya.
“Pak Dedi. Ini.” Ia menunjuk nomor administrasi di bagian tengah. “Kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
Ia masih memandangiku.
Aku mengambil nota paling atas dan menghitung garis kolomnya, meskipun tidak ada yang perlu diperiksa.
“Biayanya nanti aku transfer.”
“Tidak buru-buru.”
Bima merapikan kembali suratnya.
“Kalau belum sempat fotokopi, bawa ke tempat saya saja.”
“Iya. Terima kasih.”
Ia mengangguk, lalu kembali menyeberang.
Dari balik kaca, kulihat ia berhenti untuk mengangkat kardus yang menghalangi pintu percetakan. Gerakannya biasa. Pagi di seberang jalan tetap berlangsung sebagaimana mestinya.
Aku iri pada hal itu.
Map merah tersimpan di rak paling bawah lemari Ibu.
Aku harus berjongkok untuk menariknya keluar. Di atasnya ada kantong kain berisi pola lama, sebuah kotak kacamata, dan kalender yang entah mengapa belum pernah kami buang.
Ayah masuk ketika aku sedang memeriksa sertifikat.
“Ketemu?”
“Ini?”
Ia mengenakan kacamatanya.
“Iya.”
Aku mengeluarkan lembar pajak, menumpuknya di samping sertifikat.
Ayah duduk di tepi tempat tidur.
“Kalau ditanya, luas bangunannya mengikuti yang tertulis. Bagian dapur dulu sudah masuk.”
Aku mengangguk.
“Jangan serahkan dokumen aslinya.”
“Cuma diperlihatkan.”
“Bagus.”
Ia hendak berdiri ketika aku memanggilnya.
“Yah.”
Ayah kembali duduk.
“Ayah pernah dengar kabar keluarga Mahendra?”
Wajahnya tidak langsung berubah. Ia hanya berhenti membetulkan lipatan sarung.
“Kenapa?”
Aku memegang ujung map.
“Yang menangani survei namanya Arga Mahendra.”
Di luar, Sari menyalakan mesin jahit.
Ayah memandang lantai.
“Arga?”
“Iya.”
“Anaknya Bu Ratih?”
Aku mengangguk.
Ia melepas kacamata dan mengusap salah satu lensanya dengan ujung kaus.
“Dari perusahaan mereka?”
“Aku belum tahu. Suratnya dari perusahaan pengembang. Dia arsiteknya.”
Ayah menggosok lensa yang sama sekali lagi.
Aku menunggu ia menanyakan keadaanku, atau mengatakan sesuatu tentang betapa lama kami tidak mendengar nama itu.
Tetapi yang keluar justru, “Ayah ke rumah Pak Yusuf dulu.”
“Sekarang?”
“Ada yang mau dibicarakan.”
Aku melihat jam kecil di atas lemari.
Delapan lewat empat puluh.
“Ayah tidak mau ikut menemui?”
“Kamu saja. Kamu lebih paham urusan toko.”
Ia menyerahkan sertifikat kepadaku, lalu berdiri.
Gerakannya agak terburu-buru ketika mengambil dompet.
Aku memperhatikannya mengenakan sandal di dekat pintu belakang.
“Ayah.”
Ia menoleh.
“Lututnya sedang sakit?”
“Tidak.”
“Jangan jalan terlalu jauh.”
“Iya.”
Setelah ia pergi, aku tetap berjongkok di depan lemari.
Ada rasa tidak nyaman yang sulit kutentukan. Mungkin karena Ayah meninggalkanku menghadapi urusan bangunan. Mungkin karena ia tampak lebih ingin pergi daripada mendengar penjelasan.
Dari depan, Sari memanggil.
“Ra, ada pelanggan.”
Aku memasukkan dokumen ke map.
“Sebentar.”
Pelanggan itu hendak mengambil celana suaminya.
Aku menyerahkan bungkusan, menerima pembayaran, lalu memberi kembalian lima ribu rupiah terlalu banyak.
Sari menyentuh sikuku.
Aku segera meminta maaf dan menghitung ulang.
Setelah pelanggan pergi, aku membuka buku pesanan pada halaman kosong.
Tanggal hari itu kutulis di sudut kanan atas.
Di bawahnya, aku membuat daftar pertanyaan.
Pendataan untuk apa?
Kapan hasil rencana disampaikan?
Apakah kegiatan toko akan terganggu?
Aku menatap tiga kalimat tersebut.
Ada pertanyaan lain yang sudah jauh lebih lama menunggu. Tanganku bahkan tahu bagaimana menuliskannya.
Aku menutup pena.
Pukul delapan lewat lima puluh enam, sebuah mobil abu-abu berhenti di seberang jalan.
Aku berdiri sebelum menyadarinya.
Seorang laki-laki berkemeja biru turun dari kursi penumpang sambil membawa map. Ia melihat deretan toko, mencocokkan nomor bangunan dengan kertas di tangannya.
Pintu pengemudi terbuka.
Aku tidak bisa melihat wajah orang yang turun karena terhalang mobil yang lewat.
Tetapi aku melihat tangannya ketika ia menutup pintu.
Lalu bahunya.
Lalu wajahnya saat ia melangkah ke tepi jalan.
Ada bagian dari diriku yang selama semalam berharap foto pada surat itu salah.
Harapan itu habis di seberang jalan.
Arga berdiri beberapa detik di depan percetakan Bima. Ia menatap papan kayu di atas pintuku.
Aku tahu saat ia membaca nama Ibu.
Tatapannya bergerak turun.
Kami saling melihat melalui kaca.
Aku mencengkeram pena sampai ujungnya menekan telapak tangan.
Arga tidak tersenyum.
Laki-laki yang bersamanya mengatakan sesuatu. Ia menoleh sebentar, mengangguk, kemudian keduanya menyeberang.
Sari berdiri di samping meja. Ia tidak menyentuhku, tetapi jaraknya cukup dekat sehingga aku bisa meminta bantuan tanpa perlu memanggil.
Lonceng kecil di atas pintu berbunyi.
Orang berkemeja biru masuk lebih dulu.
“Selamat pagi. Dengan Ibu Nara?”
“Iya.”
Suara itu keluar lebih pelan daripada yang kuinginkan.
“Saya Dedi, dari tim pendataan. Kemarin sudah menerima surat pemberitahuan, ya, Bu?”
“Sudah.”
“Baik. Ini rekan saya yang akan memeriksa ukuran bangunan.”
Ia bergeser sedikit.
Arga melangkah masuk.
Ruangan itu masih sama sempitnya. Ia masih harus memiringkan bahu agar tidak menyentuh gantungan pakaian di dekat pintu.
Aku ingat ia pernah menertawakan gantungan itu karena selalu menghalangi jalan.
Sekarang ujung lengan bajunya kembali menyentuhnya.
Sebuah hanger bergeser dan jatuh.
Bunyinya membuat kami sama-sama menunduk.
Arga lebih dulu mengambilnya. Ia menggantungkan kembali dengan hati-hati, lalu menatapku.
Dari dekat, wajahnya terlihat lebih lelah daripada di foto.
“Selamat pagi, Nara.”
Aku sudah menyiapkan banyak kalimat sejak semalam.
Tak satu pun berguna saat mendengar namaku diucapkan olehnya.
Aku membuka buku pesanan, mencari daftar pertanyaan yang baru saja kutulis.
Halaman pertama yang terbuka ternyata berisi ukuran seragam Dimas.
Aku membaliknya.
Satu halaman.
Satu lagi.
Lalu akhirnya berhenti, meletakkan telapak tangan di atas kertas agar tidak terlihat gemetar.
“Silakan duduk, Pak Arga.”
Tangannya masih berada di dekat sandaran kursi.
Ia menatapku sesaat sebelum menariknya.
Dan untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun, Arga duduk di hadapanku—cukup dekat untuk diajak bicara, sementara aku belum sanggup menanyakan hal yang paling ingin kuketahui.
Dari meja jahit ke atas lemari.
Dari atas lemari ke dalam buku pesanan.
Lalu dari dalam buku pesanan kembali ke meja jahit.
Pada pemindahan terakhir, aku menelungkupkannya dan meletakkan gunting di atasnya, seolah selembar kertas bisa melarikan diri kalau tidak diberi pemberat.
“Kalau masih ada pekerjaan, lanjut besok.”
Ayah berdiri di ambang pintu kamar. Kaus tidurnya sedikit lembap di bagian dada karena baru membasuh muka.
“Sebentar lagi.”
Ia melihat mesin yang sudah tertutup kain.
“Apa yang ditunggu?”
Aku menahan tanganku agar tidak menyentuh surat itu.
“Tidak ada.”
Ayah mengangguk. Sebelum masuk kamar, ia mengingatkan supaya lampu depan dimatikan.
Aku menunggu sampai pintunya tertutup.
Lalu mengambil ponsel.
Di kolom pencarian, kutulis nama yang baru saja kubaca berkali-kali.
Arga Mahendra.
Jempolku berhenti di atas layar.
Aku menghapusnya.
Beberapa detik kemudian, kutulis lagi.
Hasil pencarian menampilkan terlalu banyak orang. Seorang penjual kendaraan, seorang mahasiswa, seorang laki-laki dengan foto keluarga di depan rumah makan.
Aku hampir merasa lega.
Kemudian wajahnya muncul.
Foto itu berasal dari halaman sebuah biro arsitektur. Arga berdiri di depan bangunan berkaca bersama empat orang lain. Lengannya terlipat, senyumnya tipis.
Aku memperbesar foto tersebut.
Dulu ada bekas luka kecil di dekat alis kirinya. Ia mendapatkannya saat mencoba mengambil layang-layang untuk anak tetangga, meskipun sudah kuingatkan bahwa tembok yang dipanjatnya licin.
Bekas itu masih ada.
Aku meletakkan ponsel, kemudian mengambilnya lagi.
Di bawah foto tertulis riwayat pendidikan dan beberapa proyek yang pernah ia kerjakan. Nama kota tempatnya kuliah membuat mataku berhenti.
Kota yang dulu hendak kami tuju bersama.
Aku membaca sampai kalimat terakhir, lalu menutup halaman itu sebelum sempat membuka foto lain.
Jam di layar menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh.
Aku masih harus bangun pagi.
Tetapi saat berbaring, pikiranku justru sibuk menghitung.
Kalau ia datang pukul sembilan, aku punya waktu selesai menyapu, menyiapkan sarapan Ayah, dan menerima pelanggan yang biasanya datang sebelum bekerja.
Aku bisa meminta Sari menemui petugas survei.
Aku bisa pergi membeli kain.
Aku bisa mengatakan ada keperluan.
Dari balik dinding terdengar batuk Ayah, disusul bunyi gelas diletakkan di meja.
Aku membalik badan menghadap tembok.
Pada usia dua puluh tujuh tahun, ternyata aku masih bisa ketakutan hanya karena harus bertemu seseorang.
Aku bangun sebelum alarm berbunyi.
Untuk beberapa saat, aku merasa pagi itu sama seperti pagi lain. Ada bunyi sendok dari dapur, suara keran tetangga, dan cahaya pucat yang masuk melalui celah gorden.
Lalu aku mengingat surat tersebut.
Aku tetap berbaring sampai alarm menyala.
Di lemari, tanganku sempat mengambil blus biru muda.
Aku mengembalikannya.
Mengambil kemeja putih.
Mengembalikannya juga.
Akhirnya aku memakai blus cokelat yang biasa kupakai bekerja, mengikat rambut, dan mencuci muka sekali lagi.
Di dapur, Ayah sudah menanak nasi.
“Ayah kok tidak bangunkan aku?”
“Masih pagi.”
Aku melihat panci kecil di atas kompor. Airnya belum mendidih, tetapi dua telur sudah dimasukkan.
“Itu nanti terlalu matang.”
“Telur matang memangnya kenapa?”
“Kuningnya jadi abu-abu.”
“Masih bisa dimakan.”
Aku hendak mengambil alih, tetapi Ayah lebih dulu menggeser tubuhnya.
“Biar Ayah.”
Aku berhenti.
Ia jarang bersikeras untuk hal kecil. Aku akhirnya mengambil piring dan membiarkannya menjaga panci.
Kami sarapan dengan telur rebus yang bagian kuningnya benar-benar berwarna abu-abu di pinggir.
Aku tidak berkomentar.
“Pertemuan warga kapan?” tanya Ayah.
“Jumat malam.”
“Di balai kelurahan?”
Aku mengangguk.
“Suratnya mana? Nanti Ayah baca.”
Sendokku menyentuh piring terlalu keras.
“Di depan.”
Ayah mengupas sisa kulit telur yang menempel di jarinya.
“Mereka mau ukur bangunan juga?”
“Hari ini.”
“Oh.”
Aku memperhatikan wajahnya, mencoba mengetahui apakah ia sudah mendengar nama orang yang akan datang.
Tetapi Ayah hanya meraih gelas.
“Dokumen rumah ada di lemari Ibu. Map merah.”
“Iya, nanti aku ambil.”
Aku menunggu pertanyaan lain.
Tidak ada.
Sari tiba pukul delapan kurang sepuluh dengan kantong berisi pisang rebus.
Ia masuk sambil mengeluh karena ban motornya kurang angin. Keluhannya berhenti ketika melihatku sedang mengelap kaca etalase.
“Wah.”
Aku menoleh. “Kenapa?”
“Biasanya kaca itu dibersihkan kalau sudah bisa dipakai menulis nama.”
“Memang sudah kotor.”
Sari meletakkan kantong di meja. Ia memperhatikan rambutku, lalu etalase, lalu tumpukan kain yang sudah tersusun lebih rapi dari biasanya.
“Ada tamu?”
“Petugas survei.”
“Oh, soal penataan kawasan?”
“Iya.”
Ia menarik kursi dan mengambil sebuah pisang.
“Bagus. Tanyakan juga soal selokan depan. Kalau hujan, airnya masuk ke—”
“Sar.”
“Hm?”
Aku menyerahkan lembar jadwal kepadanya.
Sari membacanya sambil mengunyah. Matanya bergerak turun, kemudian berhenti.
Aku melihat rahangnya melambat.
Ia menelan sebelum menatapku.
“Arga?”
Aku mengangguk.
“Arga yang itu?”
“Fotonya ada.”
Sari melihat bagian bawah lembar.
Lama sekali ia tidak bicara.
Aku mengambil kain lap dan menggosok sudut etalase yang sama.
“Kamu tahu dari kapan?”
“Kemarin sore.”
“Kenapa tidak menelepon?”
Aku mengangkat bahu.
Sari meletakkan pisangnya.
“Ra.”
“Aku tidak tahu harus bilang apa.”
Ia menatapku dengan wajah yang membuatku ingin segera membicarakan hal lain.
“Sudah tujuh tahun,” kataku.
“Iya.”
“Harusnya biasa saja.”
Sari melipat surat itu dengan hati-hati.
“Kamu tidak perlu memutuskan harus merasa apa pagi ini.”
Aku menunduk pada bekas air di kaca.
“Kalau kamu mau, aku yang menemui mereka,” lanjutnya. “Kamu bisa di belakang.”
Tanganku berhenti.
Semalam aku memikirkan kemungkinan itu berkali-kali. Mendengarnya dari mulut Sari justru membuatnya terasa menyedihkan.
Aku menggeleng.
“Ini tokoku.”
“Iya.”
“Aku harus tahu mereka mau melakukan apa.”
“Baik.”
Sari menggeser kotak benang agar aku punya tempat meletakkan kain lap.
“Aku di sini,” katanya.
Aku mengangguk tanpa melihatnya.
Pukul delapan lewat dua puluh, Bima datang membawa hasil cetakan nota.
“Pesanan seratus lembar,” katanya, meletakkan bungkusan di meja. “Saya tambah lima. Untuk mengantisipasi salah tulis atau salah jatuh cinta.”
Sari mendengus.
“Kalau yang kedua bisa dibetulkan pakai karbon?”
“Bisa. Tapi tembus sampai lembar belakang.”
Biasanya aku akan membalas sesuatu.
Pagi itu aku hanya memeriksa potongan kertas.
Bima memperhatikanku.
“Kurang tidur lagi?”
“Sedikit.”
“Kopinya mau?”
“Tidak usah.”
Ia melihat Sari, barangkali menunggu penjelasan. Sari sibuk melepaskan kulit pisang.
“Pagi ini ada survei bangunan,” kataku.
“Oh, iya. Percetakan juga kebagian jam sepuluh.”
Bima mengambil surat dari saku belakang celananya. Kertas itu sudah terlipat kecil, jauh lebih kusut daripada milikku.
“Mereka datang berdua, katanya. Saya sudah telepon nomor yang di bawah.”
Aku menatap tangannya.
“Sudah telepon?”
“Iya. Tanya perlu fotokopi sertifikat atau cukup diperlihatkan.”
“Apa katanya?”
“Untuk pendataan awal cukup diperlihatkan. Yang dicatat luas sama penggunaan ruang.”
Aku menelan ludah.
“Siapa yang angkat?”
Bima membuka lipatan suratnya.
“Pak Dedi. Ini.” Ia menunjuk nomor administrasi di bagian tengah. “Kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
Ia masih memandangiku.
Aku mengambil nota paling atas dan menghitung garis kolomnya, meskipun tidak ada yang perlu diperiksa.
“Biayanya nanti aku transfer.”
“Tidak buru-buru.”
Bima merapikan kembali suratnya.
“Kalau belum sempat fotokopi, bawa ke tempat saya saja.”
“Iya. Terima kasih.”
Ia mengangguk, lalu kembali menyeberang.
Dari balik kaca, kulihat ia berhenti untuk mengangkat kardus yang menghalangi pintu percetakan. Gerakannya biasa. Pagi di seberang jalan tetap berlangsung sebagaimana mestinya.
Aku iri pada hal itu.
Map merah tersimpan di rak paling bawah lemari Ibu.
Aku harus berjongkok untuk menariknya keluar. Di atasnya ada kantong kain berisi pola lama, sebuah kotak kacamata, dan kalender yang entah mengapa belum pernah kami buang.
Ayah masuk ketika aku sedang memeriksa sertifikat.
“Ketemu?”
“Ini?”
Ia mengenakan kacamatanya.
“Iya.”
Aku mengeluarkan lembar pajak, menumpuknya di samping sertifikat.
Ayah duduk di tepi tempat tidur.
“Kalau ditanya, luas bangunannya mengikuti yang tertulis. Bagian dapur dulu sudah masuk.”
Aku mengangguk.
“Jangan serahkan dokumen aslinya.”
“Cuma diperlihatkan.”
“Bagus.”
Ia hendak berdiri ketika aku memanggilnya.
“Yah.”
Ayah kembali duduk.
“Ayah pernah dengar kabar keluarga Mahendra?”
Wajahnya tidak langsung berubah. Ia hanya berhenti membetulkan lipatan sarung.
“Kenapa?”
Aku memegang ujung map.
“Yang menangani survei namanya Arga Mahendra.”
Di luar, Sari menyalakan mesin jahit.
Ayah memandang lantai.
“Arga?”
“Iya.”
“Anaknya Bu Ratih?”
Aku mengangguk.
Ia melepas kacamata dan mengusap salah satu lensanya dengan ujung kaus.
“Dari perusahaan mereka?”
“Aku belum tahu. Suratnya dari perusahaan pengembang. Dia arsiteknya.”
Ayah menggosok lensa yang sama sekali lagi.
Aku menunggu ia menanyakan keadaanku, atau mengatakan sesuatu tentang betapa lama kami tidak mendengar nama itu.
Tetapi yang keluar justru, “Ayah ke rumah Pak Yusuf dulu.”
“Sekarang?”
“Ada yang mau dibicarakan.”
Aku melihat jam kecil di atas lemari.
Delapan lewat empat puluh.
“Ayah tidak mau ikut menemui?”
“Kamu saja. Kamu lebih paham urusan toko.”
Ia menyerahkan sertifikat kepadaku, lalu berdiri.
Gerakannya agak terburu-buru ketika mengambil dompet.
Aku memperhatikannya mengenakan sandal di dekat pintu belakang.
“Ayah.”
Ia menoleh.
“Lututnya sedang sakit?”
“Tidak.”
“Jangan jalan terlalu jauh.”
“Iya.”
Setelah ia pergi, aku tetap berjongkok di depan lemari.
Ada rasa tidak nyaman yang sulit kutentukan. Mungkin karena Ayah meninggalkanku menghadapi urusan bangunan. Mungkin karena ia tampak lebih ingin pergi daripada mendengar penjelasan.
Dari depan, Sari memanggil.
“Ra, ada pelanggan.”
Aku memasukkan dokumen ke map.
“Sebentar.”
Pelanggan itu hendak mengambil celana suaminya.
Aku menyerahkan bungkusan, menerima pembayaran, lalu memberi kembalian lima ribu rupiah terlalu banyak.
Sari menyentuh sikuku.
Aku segera meminta maaf dan menghitung ulang.
Setelah pelanggan pergi, aku membuka buku pesanan pada halaman kosong.
Tanggal hari itu kutulis di sudut kanan atas.
Di bawahnya, aku membuat daftar pertanyaan.
Pendataan untuk apa?
Kapan hasil rencana disampaikan?
Apakah kegiatan toko akan terganggu?
Aku menatap tiga kalimat tersebut.
Ada pertanyaan lain yang sudah jauh lebih lama menunggu. Tanganku bahkan tahu bagaimana menuliskannya.
Aku menutup pena.
Pukul delapan lewat lima puluh enam, sebuah mobil abu-abu berhenti di seberang jalan.
Aku berdiri sebelum menyadarinya.
Seorang laki-laki berkemeja biru turun dari kursi penumpang sambil membawa map. Ia melihat deretan toko, mencocokkan nomor bangunan dengan kertas di tangannya.
Pintu pengemudi terbuka.
Aku tidak bisa melihat wajah orang yang turun karena terhalang mobil yang lewat.
Tetapi aku melihat tangannya ketika ia menutup pintu.
Lalu bahunya.
Lalu wajahnya saat ia melangkah ke tepi jalan.
Ada bagian dari diriku yang selama semalam berharap foto pada surat itu salah.
Harapan itu habis di seberang jalan.
Arga berdiri beberapa detik di depan percetakan Bima. Ia menatap papan kayu di atas pintuku.
Aku tahu saat ia membaca nama Ibu.
Tatapannya bergerak turun.
Kami saling melihat melalui kaca.
Aku mencengkeram pena sampai ujungnya menekan telapak tangan.
Arga tidak tersenyum.
Laki-laki yang bersamanya mengatakan sesuatu. Ia menoleh sebentar, mengangguk, kemudian keduanya menyeberang.
Sari berdiri di samping meja. Ia tidak menyentuhku, tetapi jaraknya cukup dekat sehingga aku bisa meminta bantuan tanpa perlu memanggil.
Lonceng kecil di atas pintu berbunyi.
Orang berkemeja biru masuk lebih dulu.
“Selamat pagi. Dengan Ibu Nara?”
“Iya.”
Suara itu keluar lebih pelan daripada yang kuinginkan.
“Saya Dedi, dari tim pendataan. Kemarin sudah menerima surat pemberitahuan, ya, Bu?”
“Sudah.”
“Baik. Ini rekan saya yang akan memeriksa ukuran bangunan.”
Ia bergeser sedikit.
Arga melangkah masuk.
Ruangan itu masih sama sempitnya. Ia masih harus memiringkan bahu agar tidak menyentuh gantungan pakaian di dekat pintu.
Aku ingat ia pernah menertawakan gantungan itu karena selalu menghalangi jalan.
Sekarang ujung lengan bajunya kembali menyentuhnya.
Sebuah hanger bergeser dan jatuh.
Bunyinya membuat kami sama-sama menunduk.
Arga lebih dulu mengambilnya. Ia menggantungkan kembali dengan hati-hati, lalu menatapku.
Dari dekat, wajahnya terlihat lebih lelah daripada di foto.
“Selamat pagi, Nara.”
Aku sudah menyiapkan banyak kalimat sejak semalam.
Tak satu pun berguna saat mendengar namaku diucapkan olehnya.
Aku membuka buku pesanan, mencari daftar pertanyaan yang baru saja kutulis.
Halaman pertama yang terbuka ternyata berisi ukuran seragam Dimas.
Aku membaliknya.
Satu halaman.
Satu lagi.
Lalu akhirnya berhenti, meletakkan telapak tangan di atas kertas agar tidak terlihat gemetar.
“Silakan duduk, Pak Arga.”
Tangannya masih berada di dekat sandaran kursi.
Ia menatapku sesaat sebelum menariknya.
Dan untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun, Arga duduk di hadapanku—cukup dekat untuk diajak bicara, sementara aku belum sanggup menanyakan hal yang paling ingin kuketahui.