‹ Daftar isi · Setelah Kamu Berhenti Menunggu

BAB 3

Orang yang Pernah Kutunggu

Kursi plastik itu berderit ketika Arga duduk.
Aku hampir mengatakan kaki sebelah kirinya harus digeser sedikit supaya tidak goyah.
Kalimat itu sudah sampai di ujung lidah sebelum kutahan.
Arga mengubah posisi duduknya sendiri. Ia meletakkan tas di lantai, mengeluarkan buku catatan, lalu menaruh sebuah alat kecil berwarna hitam di sampingnya.
Tangannya kini tampak asing.
Dulu aku mengenal tangan itu dengan noda tinta pada sisi kelingking dan kuku ibu jari yang selalu digigit saat mengerjakan soal. Sekarang ada jam berbingkai perak di pergelangannya. Kukunya rapi. Pada jari tengahnya masih terlihat bekas tekanan pena.
“Pendataannya kami mulai dari identitas pemilik dulu, Bu,” kata Pak Dedi.
Aku menggeser map merah.
“Ini dokumennya.”
Pak Dedi membuka lembar formulir. Ia menanyakan nama lengkap, nomor bangunan, dan penggunaan ruang. Aku menjawab satu per satu sambil berusaha tidak memandangi orang di sebelahnya.
“Pemilik yang tercantum Ibu Sri Lestari Prameswari?”
“Ibu saya.”
“Beliau ada?”
Aku menggeleng.
“Ibu sudah meninggal.”
Ujung pena Arga berhenti bergerak.
Pak Dedi segera menundukkan kepala sedikit.
“Turut berduka, Bu. Untuk penggunaan bangunan sekarang berarti dikelola Ibu Nara?”
“Iya. Saya tinggal di belakang bersama ayah.”
“Baik.”
Ia melanjutkan pencatatan.
Aku melihat Arga meletakkan penanya. Matanya sempat naik ke foto di dinding.
Lalu kembali kepadaku.
Aku merapikan ujung map yang tertekuk.
“Kami perlu melihat ruang depan dan batas bangunan,” katanya akhirnya. Suaranya lebih rendah daripada saat menyapaku. “Untuk bagian tempat tinggal, kami masuk kalau diizinkan.”
“Apakah semuanya harus difoto?”
“Bagian yang berkaitan dengan kondisi bangunan. Kalau ada ruang pribadi yang tidak ingin difoto, beri tahu kami.”
Aku mengangguk.
Pak Dedi menjelaskan bahwa kunjungan itu belum menentukan perubahan apa pun. Mereka sedang mencocokkan data lama dengan keadaan di lapangan.
“Jadi toko tetap bisa beroperasi?” tanyaku.
“Untuk pendataan ini, iya,” jawabnya. “Rencana berikutnya akan dibahas dalam pertemuan warga.”
“Termasuk kalau pemilik tidak setuju?”
“Ibu bisa menyampaikan keberatan di sana.”
Aku menulis jawabannya pada buku pesanan.
Arga melihat halaman itu.
Aku segera menggeser buku lebih dekat ke tubuhku.
Seorang pelanggan datang ketika Pak Dedi sedang memeriksa nomor dokumen.
Bu Wati membawa kain dalam kantong belanja dan langsung mengangkatnya di depan wajahku.
“Nara, warna begini bikin saya kelihatan pucat tidak?”
Aku berdiri terlalu cepat.
“Coba sini, Bu.”
Kain itu berwarna merah muda pucat dengan motif bunga kecil. Bu Wati menempelkannya di bahu, lalu mencari wajahnya di cermin.
“Anak saya bilang bagus. Tapi dia kalau ditanya selalu bilang bagus. Asal ibunya cepat selesai belanja.”
Aku tersenyum.
“Mau dibuat model yang kemarin?”
“Iya. Tapi lengannya jangan terlalu pas. Yang terakhir kalau saya angkat tangan begini—”
Ia mengangkat kedua lengan, lalu baru menyadari ada dua laki-laki di meja.
“Oh, sedang ada tamu?”
“Pendataan bangunan, Bu.”
“Yang mau bangun kawasan baru itu?”
“Iya.”
Bu Wati menoleh kepada mereka.
“Selokannya sekalian dibetulkan, ya, Pak. Kalau hujan, saya lewat sini sampai angkat rok.”
Pak Dedi tersenyum sambil mencatat.
Aku meminta Bu Wati masuk ke dekat cermin. Pita ukur sudah melingkar di leherku, tetapi aku lupa kapan mengambilnya.
Mengukur orang adalah pekerjaan yang bisa kulakukan hampir tanpa berpikir.
Lebar bahu.
Lingkar lengan.
Panjang dari pangkal leher.
Aku menyebutkan angka, dan Sari menulis dari mesin sebelah.
“Dua puluh sembilan,” kataku.
Sari mendongak.
Aku melihat pita ukur lagi.
“Tiga puluh sembilan.”
Bu Wati memutar kepala.
“Wah, kalau dua puluh sembilan, saya harus berhenti makan sampai Lebaran.”
Aku tertawa kecil.
“Maaf, Bu.”
“Tidak apa-apa. Saya senang sebentar tadi.”
Kami menyelesaikan pengukuran. Bu Wati meninggalkan uang muka dan meminta bajunya selesai dua minggu lagi.
“Jangan semalaman terus,” katanya sebelum pergi. “Kemarin saya lihat lampu sini masih nyala waktu mau subuh.”
“Iya, Bu.”
Setelah pintu tertutup, aku berdiri sebentar dengan pita ukur masih tergantung di leher.
Arga sedang melihat ke arahku.
Aku mengambil kantong kain Bu Wati dan menuliskan namanya besar-besar pada kertas pesanan.
“Ruang depan ini tetap untuk usaha sejak awal?” tanya Arga.
Ia berdiri sambil memegang alat ukur.
“Sejak Ibu mulai menjahit.”
“Tahun berapa?”
Aku menyebutkan tahunnya.
Arga mencatat.
Pak Dedi menerima telepon dan meminta izin keluar agar suaranya tidak mengganggu. Sari kembali menyalakan mesin, meskipun aku tahu ia tetap mendengarkan.
Arga mengarahkan alat ke dinding, menekan tombol, lalu menuliskan angka.
Aku berdiri di dekat meja potong.
“Boleh saya ambil foto dari pintu?” tanyanya.
“Boleh. Pelanggan jangan sampai masuk gambar.”
Ia menunggu dua orang lewat di depan kaca, kemudian mengangkat ponselnya.
Aku menyingkirkan keranjang kain dari jalur.
“Tidak perlu dipindahkan,” katanya. “Saya bisa ambil dari sini.”
“Keranjangnya memang menghalangi.”
Aku mengangkatnya ke bawah meja.
Ketika kembali berdiri, ujung pita ukurku tersangkut gagang laci. Tubuhku tertarik sedikit ke belakang.
Arga bergerak hendak membantu.
Aku lebih dulu melepaskannya.
“Sudah.”
Ia berhenti.
Jarak kami tidak sampai dua langkah. Dari dekat tercium aroma sabun dan kopi yang samar.
Aku berbalik mengambil buku.
“Bagian mana lagi?”
“Dinding sebelah kiri.”
Ia mundur untuk memberiku ruang.
Dulu Arga selalu bergerak mendahului pertanyaan. Menarikkan kursi, mengambil benda di rak tinggi, menyentuh siku ketika kami menyeberang.
Pagi itu ia meminta izin bahkan untuk memindahkan bangku.
Aku tidak tahu apakah sikap itu membuatku lega atau justru semakin sadar bahwa kami pernah berbeda.
Pak Dedi kembali bersama Bima.
Bima membawa beberapa lembar fotokopi yang dijepit menjadi satu.
“Dokumen saya,” katanya kepada Pak Dedi. “Sekalian saya antarkan sebelum lupa.”
Lalu ia menatapku.
“Punyamu sudah?”
Aku mengangguk.
“Sudah. Yang asli cuma diperlihatkan.”
“Bagus.”
Bima meletakkan selembar kertas lain di mejaku.
“Ini nota yang tadi tertinggal. Bagian bawahnya ada nomor rekening baru. Yang lama sudah tidak saya pakai.”
Aku mengambilnya.
“Kenapa ganti?”
“Aplikasi banknya bikin saya ingin pensiun.”
Sari tertawa pendek dari belakang mesin.
Aku akhirnya tersenyum.
Bima hendak kembali ke pintu ketika Pak Dedi memperkenalkannya kepada Arga.
“Ini Pak Bima, pemilik percetakan seberang. Nanti setelah di sini kita ke tempat beliau.”
Arga mengulurkan tangan.
“Arga.”
“Bima.”
Mereka berjabat tangan sebentar.
“Sudah lama buka di sini?” tanya Arga.
“Hampir lima tahun.”
Arga mengangguk.
Bima menunjuk papan nama di luar.
“Kalau mau fotokopi tambahan, langsung saja. Mesin saya sudah hidup.”
“Terima kasih.”
Sebelum pergi, Bima menoleh kepadaku.
“Makan siang nanti titip?”
“Belum tahu.”
“Nanti saya tanya lagi.”
Ia melangkah keluar tanpa menunggu jawaban lain.
Aku melipat nota yang dibawanya dan menyelipkannya ke buku.
Ketika mengangkat wajah, kudapati Arga sedang merapikan tali tasnya.
“Bisa lanjut?” tanyaku.
“Bisa.”
Pengukuran bagian depan selesai menjelang pukul sepuluh.
Pak Dedi masih perlu mencocokkan data di percetakan, sementara Arga ingin memastikan batas ruang usaha dan tempat tinggal.
“Ruang belakang sekarang dipakai apa?” tanyanya.
“Ruang tengah, dua kamar, dapur.”
“Semua berada dalam bangunan yang sama?”
“Iya.”
Aku menarik tirai sedikit, cukup untuk memperlihatkan lorong dan dinding pembatas.
“Untuk hari ini sampai batas sini dulu. Ayah sedang tidak di rumah.”
Arga mengangguk.
“Tidak masalah. Sisanya bisa dijadwalkan.”
Ia tidak mencoba melihat lebih jauh.
Aku berterima kasih dalam hati atas hal sekecil itu.
Pak Dedi membereskan map.
“Saya ke seberang dulu, Pak Arga. Sekalian cek nomor bangunannya.”
“Iya. Saya menyusul.”
Pintu berbunyi pelan saat ia keluar.
Sari mematikan mesin.
“Aku ambil minum,” katanya.
Aku menoleh cepat.
Ia menunjuk dapur, lalu membawa gelas kosongnya. Tirai bergerak di belakangnya dan kembali diam.
Aku tahu ia masih cukup dekat untuk mendengar kalau aku memanggil.
Arga menutup buku catatannya.
“Kalau ada pertanyaan soal pendataan, nomor kantor ada di surat.”
“Iya.”
“Jadwal kunjungan berikutnya akan dikonfirmasi lebih dulu.”
“Baik.”
Seharusnya setelah itu ia mengambil tas dan keluar.
Aku sudah berdiri di samping meja, siap mengantarnya sampai pintu seperti tamu lain.
Tetapi Arga memandang foto Ibu lagi.
“Bu Lestari meninggal kapan?”
Tanganku mengencang pada sandaran kursi.
“Tiga tahun lalu.”
Ia menunduk.
“Aku tidak tahu.”
Aku mengusap serpihan benang di meja dengan ujung jari.
“Banyak orang tidak tahu.”
“Nara…”
Aku menunggu.
Ia menarik napas sebelum melanjutkan.
“Beliau sakit?”
Aku melihat gelas Ibu yang kini menjadi tempat pensil di sudut meja. Motif bunganya sudah hampir hilang karena terlalu sering dicuci.
“Sudah beberapa lama.”
Arga mengangguk pelan.
“Aku turut berduka.”
“Terima kasih.”
Ia menatap foto itu sekali lagi.
Aku teringat Ibu menyuruhnya mengangkat gulungan kain ke atas lemari. Ia sering datang dengan alasan meminjam buku, lalu pulang membawa daftar belanja karena Ibu tahu ia melewati pasar.
Ibu tidak pernah lupa menawarkan makan.
Arga juga hampir tidak pernah menolak.
Ingatan itu datang begitu jelas sampai aku harus memalingkan wajah.
“Seharusnya aku tahu,” katanya.
Aku tidak langsung menjawab.
Dari luar terdengar bunyi klakson dan tawa seseorang di warung sebelah. Kehidupan terus bergerak di dekat pintu, sementara aku berdiri memikirkan satu kursi kosong di meja makan.
“Kamu sudah tidak tinggal di sini,” kataku akhirnya.
Arga menerima kalimat itu tanpa membantah.
Ia memasukkan alat ukur ke dalam tas.
Aku menutup map merah. Salah satu sudut sertifikat terselip keluar, dan aku harus membukanya lagi untuk merapikan.
“Nara, aku—”
“Untuk urusan toko, apa lagi yang perlu disiapkan?”
Ia terdiam.
Aku menatapnya agar pertanyaanku tidak terdengar seperti kekeliruan.
“Daftar penggunaan ruangan,” jawabnya kemudian. “Kalau ada gambar bangunan lama, boleh disertakan. Tidak wajib.”
“Tidak punya.”
“Tidak apa-apa.”
“Dan Jumat nanti kami cukup datang?”
“Iya.”
Aku mengangguk.
Arga menarik ritsleting tas, tetapi ujungnya tersangkut. Ia mencoba sekali, lalu melepaskan kain yang terjepit.
Gerakan kecil itu memberiku waktu untuk bernapas.
“Aku tidak datang untuk membuatmu tidak nyaman,” katanya.
Aku menatap tangannya.
“Tapi kamu datang.”
“Iya.”
Tidak ada alasan setelah jawaban itu.
Aku pernah membayangkan pertemuan kami.
Dalam beberapa bayangan, aku akan marah. Dalam bayangan lain, aku sudah begitu bahagia sampai kepulangannya tidak lagi berarti apa-apa.
Tak pernah kubayangkan aku justru sibuk memastikan dokumen tidak terlipat dan uang kembalian pelanggan tidak salah.
Arga berdiri.
“Kalau suatu saat kamu bersedia, ada yang ingin kubicarakan.”
Pertanyaan itu membuat dadaku terasa sempit.
“Sekarang kamu punya waktu?”
Ia memandangku.
“Punya.”
Aku hampir tertawa.
Tujuh tahun lalu aku juga punya waktu.
Aku membawa tas kecil, dua tiket, dan waktu yang begitu banyak sampai kupikir menunggu beberapa menit lagi tidak akan mengubah apa pun.
Aku menunduk sebelum wajahku memberitahukan terlalu banyak hal.
“Pelanggan saya bisa datang kapan saja.”
Arga melihat papan BUKA di pintu.
“Baik.”
Aku meratakan telapak tangan di atas map.
“Jangan sekarang.”
Ia mengangguk.
“Aku mengerti.”
Aku tidak yakin ia mengerti. Tetapi ia tidak meminta penjelasan, dan untuk pagi itu aku membutuhkannya berhenti di sana.
Sari keluar membawa dua gelas air tepat ketika Arga mengangkat tas.
“Oh, sudah selesai?”
“Pendataan awalnya sudah,” jawab Arga.
Ia menerima gelas yang ditawarkan, mengucapkan terima kasih, lalu minum beberapa teguk sambil tetap berdiri.
Sari meletakkan gelasku di dekat buku pesanan.
Arga memandangnya sebentar.
“Sari, ya?”
“Iya.”
“Apa kabar?”
“Baik.”
Hanya itu.
Aku mengenal suara Sari ketika ia sedang menahan banyak pendapat.
Arga meletakkan gelas dengan hati-hati.
“Saya pamit dulu.”
Aku berjalan ke pintu dan membukanya.
Ia berhenti di ambang, seolah hendak mengatakan sesuatu lagi. Tatapannya berpindah dari wajahku ke bagian dalam toko, lalu kembali.
“Terima kasih sudah mengizinkan kami masuk.”
Aku mengangguk.
“Sama-sama.”
Ia melangkah keluar.
Lonceng berbunyi di atas kepalanya. Aku menunggu sampai ia tiba di seberang jalan, kemudian menutup pintu.
Tidak kukunci.
Hanya kututup.
Tetapi jari-jariku tetap berada pada pegangannya beberapa saat.
“Duduk,” kata Sari.
“Aku mau menyimpan dokumen dulu.”
“Bisa nanti.”
Aku membawa map ke meja, meletakkannya terlalu dekat dengan tepi, lalu memindahkannya lagi.
Sari menarik kursi.
Kali ini aku duduk.
Ia mendorong gelas air ke arahku.
Aku minum. Airnya terasa dingin pada tenggorokan yang sejak tadi kering.
“Kamu mau aku marah-marah?” tanyanya.
Aku menggeleng.
“Mau aku diam?”
Aku mengangguk.
Sari duduk di sebelahku.
Kami mendengarkan suara printer dari seberang dan mesin motor yang lewat. Di dalam toko, jam dinding berdetak terlalu jelas.
Aku memandangi telapak tanganku. Ada bekas merah kecil akibat menekan pena.
“Aku pikir kalau bertemu lagi, aku sudah tidak akan begini,” kataku.
Sari menunggu.
“Aku bahkan sudah lupa suaranya.”
“Tadi?”
Aku menelan ludah.
“Ternyata belum.”
Sari meraih sekotak tisu dan meletakkannya di antara kami tanpa menyuruhku mengambil.
Aku membenci kenyataan bahwa mataku langsung panas.
“Dia duduk di sini,” kataku pelan. “Bertanya ukuran ruangan, mencatat nama pemilik, lalu minum.”
Aku menarik napas yang tidak cukup panjang.
“Semua kelihatannya mudah sekali.”
Sari menatap pintu.
“Mungkin kamu belum melihat semuanya.”
“Aku tidak tahu apakah aku mau.”
“Tidak harus hari ini.”
Aku mengambil selembar tisu.
Air mata pertama jatuh sebelum sempat kuusap. Aku segera menunduk, kesal karena sepanjang kunjungannya aku berhasil bertahan dan justru pecah setelah ia pergi.
Sari tetap diam.
Beberapa saat kemudian, ia meraih blus pelanggan dan mulai memasang jarum pentul di dekatku. Ia sengaja mengerjakannya dengan tangan agar mesin tidak berbunyi.
Aku duduk sampai bisa bernapas tanpa tersendat.
Menjelang tengah hari, aku sudah kembali bekerja.
Dua pelanggan datang. Satu membawa resleting rusak, satu lagi ingin mengambil rok. Aku bisa menghitung uang dengan benar. Aku bisa menjelaskan kenapa jahitan tertentu perlu dibongkar.
Hal-hal kecil itu menenangkan.
Ketika hendak menyimpan dokumen, aku melihat buku pesanan masih terbuka pada daftar pertanyaan pagi tadi.
Di bawah tiga pertanyaan, ada garis pendek dari pena yang kutekan terlalu lama.
Aku memandangi ruang kosong setelahnya.
Lalu menulis:
Malam itu, kenapa kamu tidak datang?
Aku membaca kalimat tersebut sekali.
Kemudian menutup buku.
Ayah pulang setelah zuhur.
Ia membawa kantong jeruk yang terlalu banyak untuk alasan sekadar bertamu ke rumah Pak Yusuf.
“Dikasih?” tanyaku.
“Beli di jalan.”
Aku menerima kantong itu dan membawanya ke meja.
Ayah melihat gelas tambahan yang belum sempat dicuci.
“Sudah selesai surveinya?”
“Sudah.”
“Ada masalah?”
“Belum tahu. Mereka baru mendata.”
Ia mengangguk dan melepaskan sandal.
Aku menunggu.
Ayah menyentuh sandaran kursi yang tadi diduduki Arga, lalu menarik tangannya kembali.
“Dia datang?” tanyanya.
Aku berdiri di seberang meja.
“Arga?”
Ayah mengangguk tanpa menatapku.
“Iya.”
Untuk beberapa saat ia hanya membetulkan posisi sandal dengan ujung kaki.
“Dia tanya apa?”
Aku menatap wajahnya.
“Luas bangunan. Penggunaan ruang. Dokumen.”
Ayah mengangguk lagi.
Aku ingat bagaimana tadi pagi ia mengusap lensa kacamata yang sudah bersih. Bagaimana ia pergi beberapa menit sebelum jadwal kedatangan.
“Tanya Ibu juga,” tambahku.
Wajah Ayah terangkat.
“Apa yang kamu bilang?”
“Yang sebenarnya. Ibu sudah meninggal.”
Ayah memejamkan mata sebentar.
“Dia belum tahu?”
“Belum.”
Aku menggeser kantong jeruk agar tidak menimpa buku pesanan.
“Ayah kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
Jawaban itu datang terlalu cepat.
Aku menunggunya memperbaiki jawaban, tetapi ia malah membawa kantong obat dari saku dan meletakkannya di rak.
“Ayah makan dulu,” katanya.
“Nasinya di dapur.”
Ia berjalan melewatiku.
Di depan tirai, langkahnya berhenti.
“Ra.”
Aku menoleh.
Ayah memegang tepi kain tirai dengan jari yang mulai berkerut.
“Kalau dia ingin bicara di luar urusan bangunan…”
Ia tidak segera melanjutkan.
Aku merasakan tubuhku menegang lagi.
“Kenapa?”
Ayah menatapku. Ada sesuatu pada wajahnya yang belum pernah kulihat setiap kali kami menyebut masa lalu.
“Ayah cuma tidak ingin kamu sedih lagi.”
Aku berdiri tanpa bergerak sampai ia menghilang ke ruang belakang.
Di atas meja, buku pesanan tertutup di bawah telapak tanganku.
Baru pagi itu aku bertemu Arga kembali.
Tetapi menjelang siang, orang yang paling sulit kupahami justru ayahku sendiri.