BAB 4
Ukuran yang Sudah Berubah
Ayah tidak menyentuh jeruk yang dibawanya.
Sampai malam, kantong itu tetap berada di meja makan. Satu buah menggelinding keluar ketika aku meletakkan sayur, lalu berhenti di dekat tangannya.
Ayah mengambilnya dan memasukkannya kembali.
“Besok Ayah di rumah?” tanyaku.
“Memangnya kenapa?”
“Petugas mungkin datang lagi. Bagian belakang belum diukur.”
Ia menyendok nasi.
“Katanya sudah selesai.”
“Yang depan. Aku tidak mengizinkan mereka masuk ke belakang waktu Ayah tidak ada.”
Ayah mengangguk tanpa menatapku.
Aku duduk di seberangnya. Di antara kami ada semangkuk sayur bening, telur dadar, dan sambal yang kubeli dari warung karena belum sempat membuat sendiri.
Biasanya Ayah punya komentar tentang sambal warung itu. Terlalu manis, terlalu sedikit, atau cabainya tidak terasa. Malam itu ia makan tanpa mengatakan apa-apa.
“Yah.”
“Hm?”
“Tadi Ayah bilang tidak ingin aku sedih lagi.”
Sendoknya berhenti sebentar.
“Iya.”
“Ayah takut Arga bilang apa?”
Ia meletakkan sendok.
Dari rumah sebelah terdengar suara televisi. Pembawa acara tertawa keras, disusul tepuk tangan yang terlalu ramai untuk dapur kecil kami.
“Ayah cuma ingat dulu kamu susah sekali,” jawabnya.
Aku memandangi telur di piring.
Dulu.
Kata itu memuat banyak hal yang tidak pernah kami bicarakan lagi. Hari-hari ketika aku tidak ingin membuka jendela. Makanan yang dibawa Ibu ke kamar dan diambil kembali dalam keadaan hampir utuh. Pertanyaan tetangga yang dijawab Ayah dengan, Nara sedang kurang enak badan.
“Aku sudah besar, Yah.”
“Ayah tahu.”
“Aku bisa menentukan kapan mau bicara dan kapan tidak.”
Ayah mengusap bibirnya dengan ibu jari.
“Iya.”
Aku ingin percaya percakapan itu selesai dengan baik. Namun ketika ia kembali makan, bahunya masih tampak kaku.
Aku mengambil kantong jeruk dan memindahkannya ke rak.
Satu buah kutinggalkan di samping piringnya.
Konfirmasi kunjungan datang keesokan paginya melalui nomor administrasi proyek.
Pak Dedi menanyakan apakah pengukuran ruang belakang bisa dilakukan Kamis, pukul sepuluh. Aku menunjukkan pesan itu kepada Ayah sebelum membalas.
“Kamis Ayah ada?”
“Ada.”
“Jadi aku setujui?”
Ia membaca layar ponselku lebih lama daripada yang diperlukan.
“Iya.”
Aku mengetik jawaban singkat, lalu menambahkan satu permintaan.
Mohon pengukuran dilakukan tanpa mengganggu pekerjaan toko. Ruang kamar tidak difoto.
Balasannya datang beberapa menit kemudian.
Baik, Bu Nara. Sudah kami catat.
Aku menyimpan ponsel.
Di mesin sebelah, Sari sedang membuka jahitan yang salah ukuran. Ia menarik seutas benang panjang, lalu mematahkannya.
“Kamis?” tanyanya.
Aku mengangguk.
“Aku datang lebih pagi.”
“Tidak perlu.”
“Aku memang mau datang lebih pagi. Pesanan Bu Wati belum dipotong.”
Aku tidak membantah.
Sari kembali menunduk. Aku mengambil gunting besar, menghamparkan kain di meja, lalu mulai membuat garis kapur.
Garis pertama terlalu dekat dengan tepi.
Aku menghapusnya.
Kamis pagi hujan turun sebentar.
Air mengalir dari atap seng ke ember yang kami letakkan dekat pintu belakang. Suaranya berulang, satu tetes lebih keras daripada yang lain.
Ayah duduk di ruang tengah sejak pukul sembilan. Ia mengenakan kemeja abu-abu yang biasanya dipakai ke pertemuan warga.
Aku tidak menanyakan alasannya.
“Kalau pegal, Ayah bisa duduk di kursi depan,” kataku.
“Di sini saja.”
Aku menaruh segelas air di dekatnya.
Ketika lonceng pintu berbunyi, Ayah meraih gelas itu, tetapi tidak meminumnya.
Arga datang bersama seorang petugas pengukuran bernama Rudi. Pak Dedi sedang mendampingi tim lain, begitu penjelasannya.
Aku mengangguk dan menunjukkan tempat untuk meletakkan tas.
Arga memakai kemeja berwarna gelap dengan lengan digulung. Pada bagian bahunya ada titik-titik air hujan.
“Pagi,” katanya.
“Pagi. Ayah di belakang.”
Ia menatapku sesaat sebelum mengangguk.
Aku menyibak tirai.
“Ayah, petugasnya sudah datang.”
Ayah berdiri dengan bertumpu pada lengan kursi.
Arga berhenti di ujung lorong.
“Selamat pagi, Pak Darma.”
Ayah mengangguk.
“Pagi.”
“Bagaimana kabarnya, Pak?”
“Baik.”
Tidak ada yang bergerak selama satu atau dua detik.
Pak Rudi akhirnya memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan. Ayah menyambutnya, dan percakapan kembali menemukan bentuk yang lebih mudah.
Ukuran bangunan.
Batas tanah.
Dinding tambahan.
Aku berdiri dekat meja makan, mendengarkan.
Arga tidak menanyakan hal lain.
Rumah kami selalu terasa lebih sempit ketika ada orang yang membawa alat ukur.
Pak Rudi meminta izin menggeser kursi. Aku mengangkat keranjang pakaian. Ayah menunjukkan bagian dinding yang dibangun setelah dapur diperluas.
“Yang ini dulu pintu,” katanya sambil menunjuk bidang tembok di dekat lemari.
Arga mencatat.
“Ditutup kapan, Pak?”
“Sudah lama. Waktu Nara masih sekolah.”
Aku menoleh ke dinding itu.
Dulu, lewat pintu tersebut, Ibu biasa menyerahkan segelas teh kepada pelanggan yang menunggu terlalu lama. Setelah ditutup, ia tetap beberapa kali berjalan ke sana sambil membawa gelas.
Kami menertawakannya waktu itu.
Sekarang aku bahkan hampir lupa pernah ada pintu di tempat tersebut.
Pak Rudi mengukur panjang ruangan, lalu meminta Arga memeriksa sudut dekat dapur. Aku berjalan lebih dulu untuk membuka pintu belakang.
Kayunya mengembang karena lembap.
Aku menarik gagang sekali.
Tidak bergerak.
Kutarik lebih kuat.
“Bagian bawahnya tersangkut,” kata Arga dari belakang.
“Aku tahu.”
Aku mengangkat sedikit pintu itu sambil menarik. Setelah bunyi gesekan panjang, pintunya terbuka.
Angin lembap masuk bersama bau tanah.
“Biasanya memang begitu kalau hujan,” kataku.
Arga melihat bagian bawah kusen, lalu mencatat sesuatu.
Aku segera bertanya, “Itu juga dimasukkan laporan?”
“Kondisi bangunan yang terlihat, iya.”
“Berarti semua kerusakan?”
“Yang berkaitan dengan pemeriksaan ini. Ini masih catatan pengamatan, belum pemeriksaan struktur.”
Aku mengangguk, meskipun mendadak merasa seperti rumahku sedang dinilai tanpa sempat kubereskan.
Arga tampaknya menangkap sesuatu dari wajahku.
“Pintunya perlu diserut sedikit,” katanya. “Tidak harus diganti.”
“Ayah dulu biasa mengerjakannya.”
Aku menyesali kalimat itu begitu selesai mengucapkannya.
Di belakang kami, Ayah sedang menjelaskan letak saluran air kepada Pak Rudi. Suaranya cukup keras untuk menunjukkan bahwa ia tidak mendengar.
Arga hanya mengangguk.
Ia tidak menawarkan datang membawa perkakas. Tidak mengatakan akan mencarikan orang.
Aku membiarkannya melanjutkan pencatatan.
Mereka selesai mengukur dapur sebelum setengah sebelas.
Pak Rudi keluar untuk memeriksa sisi bangunan dari gang. Ayah ikut menunjukkan batas dinding belakang, meninggalkan aku dan Arga di ruang tengah.
Aku menggeser lemari kecil agar jarak antardinding bisa diukur.
Di belakangnya terdapat bekas cat yang lebih terang.
Dan pada kusen di sebelahnya, sederet garis pensil.
Arga berhenti menulis.
Aku mengikuti pandangannya.
Angka tahun ditulis kecil-kecil di samping garis itu. Sebagian sudah memudar. Yang paling bawah hampir tertutup bekas plester, sedangkan yang paling atas masih cukup jelas.
Nara — 17.
Tulisan Ibu.
Aku lupa garis itu masih ada karena hampir selalu tertutup kalender dan sisi lemari.
Arga mendekat setengah langkah.
“Masih disimpan,” katanya pelan.
“Tidak sengaja.”
Ia menoleh.
“Belum pernah dicat lagi,” jelasku.
Arga memandang garis paling atas.
“Aku ingat kamu protes waktu yang ini dibuat.”
Aku tidak menjawab.
“Aku bilang kamu tambah tinggi.”
“Kamu mengangkat ujung penggarisnya.”
Senyum kecil muncul di wajahnya sebelum menghilang lagi.
“Kamu sadar?”
“Ibu yang memberi tahu setelah kamu pulang.”
Aku menatap bekas pensil itu.
Hari itu Ibu menyuruhku menempelkan punggung pada kusen. Arga memegang penggaris di atas kepala, sementara aku terus berusaha berdiri lebih tegak.
Ia mengatakan tinggiku bertambah dua sentimeter.
Aku begitu senang sampai tidak menyadari Ibu sedang menahan tawa.
Sesudahnya, Arga meminta Ibu mengukurnya juga.
Bekas garisnya masih ada, lebih tinggi, dekat engsel atas. Tidak diberi nama. Hanya tanda pendek yang sedikit miring.
Arga mengangkat mata ke sana.
Aku melihat gerakan itu dan tahu ia juga ingat.
“Perlu difoto?” tanyaku.
Ia menoleh kepadaku.
“Tidak.”
Aku segera mendorong lemari kembali.
Kaki kayunya berdecit. Arga meraih sisi yang lain, lalu berhenti sebelum menyentuhnya.
“Boleh?”
Aku mengangguk.
Kami menggesernya bersama.
Untuk beberapa detik, tangan kami berada pada permukaan kayu yang sama. Aku memperhatikan ujung sekrup yang mencuat di dekat ibu jarinya, lalu berkata, “Hati-hati, ada yang tajam.”
Arga memindahkan tangannya.
“Terima kasih.”
Setelah lemari menempel pada dinding, kami sama-sama mundur.
Garis tinggi badan itu kembali tertutup sebagian.
“Aku perlu memastikan satu hal,” kataku.
Arga memasukkan penanya ke sela buku.
“Soal proyek?”
“Iya.”
“Silakan.”
Aku berdiri di samping meja makan. Tidak ada pelanggan, tidak ada alasan untuk berpura-pura sibuk membuka buku.
“Apa keluargamu terlibat?”
Ia memandangku dengan lebih hati-hati.
“Perusahaan pengembangnya punya hubungan usaha dengan perusahaan keluargaku.”
“Hubungan usaha seperti apa?”
“Ada kerja sama pengembangan. Aku bekerja melalui biro arsitektur yang ditunjuk untuk menyusun kajian dan rancangan.”
Aku memikirkan nama perusahaan pada amplop.
“Jadi kamu sudah tahu daerah ini sebelum datang.”
“Iya.”
“Tahu tokoku ada di sini.”
“Iya.”
Suara air menetes dari atap belakang terdengar lagi.
“Kenapa tetap mengambil pekerjaan ini?”
Arga menunduk sebentar ke buku di tangannya.
“Aku sudah ikut sejak tahap awal. Waktu lokasi pastinya masuk dalam pembahasan, aku tahu aku akan bertemu kamu.”
Aku menunggunya melanjutkan.
“Aku seharusnya mempertimbangkan bagaimana itu akan terasa buatmu.”
“Memang.”
Ia mengangguk.
“Aku tidak bisa mengubah siapa yang datang kemarin,” katanya. “Tapi kalau kamu ingin urusan bangunanmu ditangani rekan lain, aku bisa meminta pengalihan.”
Aku melihat ke arah tirai toko. Dari sana terdengar Sari berbicara dengan pelanggan.
Beberapa hari lalu aku bahkan tidak sanggup mengetik nama Arga tanpa menghapusnya lagi.
Sekarang ia berdiri di rumahku, menawarkan keputusan yang terdengar masuk akal.
“Aku belum memutuskan,” kataku.
“Baik.”
“Aku tetap ingin semua informasi disampaikan lewat jalur yang sama dengan warga lain.”
“Tentu.”
“Jangan ada hal penting yang kamu kira bisa dijelaskan sambil lewat.”
Arga menatapku.
“Akan kucatat.”
Aku mengangguk, lalu menyingkir dari meja.
Percakapan itu belum membuatku tenang. Tetapi setidaknya ada sesuatu yang berhasil kukatakan dengan jelas.
Pak Rudi kembali sambil mengibaskan air dari ujung celananya. Ayah menyusul lebih lambat.
“Gang belakang cukup sempit,” kata Pak Rudi. “Nanti kami cocokkan dengan peta ukur.”
Arga membuka bukunya lagi.
Ayah duduk di kursi. Aku mendorong gelas air lebih dekat kepadanya.
“Sudah selesai?” tanyanya.
“Sudah, Pak,” jawab Arga. “Tinggal saya pastikan catatannya.”
Pak Rudi mengambil foto dinding dapur setelah meminta izin, menjaga agar bagian kamar tidak masuk gambar. Aku memperhatikannya dari pintu.
Ketika kembali ke ruang tengah, Arga sedang melihat bekas jahitan pada taplak meja.
Aku tahu taplak itu.
Ibu membuatnya dari sisa kain pesanan. Salah satu sudutnya tidak cukup lebar, jadi ia menyambung dengan kain polos yang warnanya sedikit berbeda.
Arga mengalihkan pandangan ketika aku mendekat.
“Ada yang kurang?” tanyaku.
“Tidak.”
Ia menutup buku.
“Aku sudah mencatat permintaanmu.”
Aku tidak tahu apakah yang dimaksud soal foto kamar atau percakapan kami tadi.
Aku hanya menjawab, “Terima kasih.”
Di depan toko, seorang anak perempuan berdiri di atas bangku kecil sementara Sari memasang jarum pentul pada ujung roknya.
Aku segera menghampiri.
“Kakinya lurus, Sayang. Jangan berjinjit.”
Anak itu menurunkan tumit dengan wajah tertangkap basah.
Ibunya tertawa.
“Dia minta roknya panjang sekali, Mbak. Katanya biar seperti putri.”
“Kalau terlalu panjang nanti tersandung.”
Aku berjongkok dan meratakan kain.
“Begini dulu, ya. Masih bisa dipanjangkan nanti.”
“Kalau aku tambah tinggi?”
“Iya.”
Ia tampak puas.
Aku melihat pita ukur di tangan sendiri, lalu sesaat teringat garis pensil pada kusen belakang.
Dulu Ibu menyimpan ruang pada kelim pakaianku supaya masih bisa diturunkan ketika aku tumbuh. Aku selalu memintanya segera, tidak sabar menunggu tubuhku menyusul kain.
Sekarang aku yang berjongkok di depan anak orang, mengatakan masih ada waktu.
Saat berdiri, kulihat Arga menunggu di dekat pintu bersama Pak Rudi. Ia tidak memotong pembicaraan.
Aku menyelesaikan catatan pesanan, lalu mendekatinya.
“Sudah semuanya?”
“Sudah.”
Pak Rudi mengucapkan terima kasih lebih dulu dan keluar untuk mengambil kendaraan.
Arga mengeluarkan selembar kartu dari saku bukunya. Ia meletakkannya di meja, cukup jauh dari gunting.
“Nomor kantor dan surel tim ada di sini. Kalau ada pertanyaan tentang data rumah, bisa dikirim ke sana.”
Aku membaca nama biro yang tercetak.
Di bawahnya ada nama Arga.
Aku tidak menyentuh kartu itu.
“Pak Dedi juga bisa?”
“Bisa.”
“Baik.”
Ia mengangkat tas.
Lalu, setelah melihat pelanggan sedang sibuk merapikan barang, ia berkata lebih pelan, “Aku masih ingin bicara denganmu.”
Aku menatapnya.
“Tapi aku dengar kamu bilang jangan sekarang,” lanjutnya. “Jadi aku tidak akan menanyakannya setiap datang.”
Aku melonggarkan jari yang tanpa sadar menggenggam pita ukur.
“Untuk saat ini, kita urus pekerjaan masing-masing dulu.”
Arga mengangguk.
“Baik, Nara.”
Ia pergi setelah mengucapkan salam kepada Sari dan Ayah.
Aku menunggu sampai mobilnya keluar dari jalan, kemudian mengambil kartu itu.
Kertasnya tebal, dengan sudut yang rapi.
Kusimpan di dalam map proyek.
Sore harinya, ketika toko mulai sepi, aku memindahkan lemari kecil di ruang tengah.
Tidak jauh. Hanya beberapa sentimeter agar kalender yang jatuh di belakangnya bisa diambil.
Tetapi setelah kalender kudapat, aku tidak langsung mendorong lemari kembali.
Aku berdiri di depan kusen.
Garis paling bawah dibuat ketika aku berumur delapan tahun. Tulisan Ibu masih bulat dan besar. Pada usia dua belas, ia menambahkan gambar bunga kecil di samping namaku karena aku mengeluh tidak banyak bertambah tinggi.
Di usia tujuh belas, garisnya nyaris rata dengan bekas paku.
Di atasnya ada tanda milik Arga.
Aku mengangkat tangan dan menyentuh garis itu dengan telunjuk.
Aku ingat ia berdiri membelakangiku, bahunya terlalu lebar untuk kusen sempit. Ibu menyuruhnya menundukkan kepala sedikit ketika penggaris tersangkut engsel.
Aku tertawa sampai perutku sakit.
Hari itu aku tidak membayangkan akan ada pagi ketika ia perlu meminta izin untuk memasuki rumah kami.
“Nara?”
Aku menoleh.
Ayah berdiri beberapa langkah dari dapur.
“Lemarinya mau dipindah?”
“Tidak.”
Ia melihat tanganku yang masih menempel pada kusen.
Tatapannya naik ke tanda pensil di atas kepalaku.
Aku menurunkan tangan.
“Arga ingat ini,” kataku.
Ayah tidak menjawab.
“Katanya dulu aku protes waktu diukur.”
“Memang.”
Aku tersenyum sedikit.
“Ibu memberitahuku dia curang.”
Ayah menatap kusen itu lebih lama, kemudian berjalan mendekat. Untuk sesaat kupikir ia akan menyentuh garis yang sama.
Tetapi ia hanya membungkuk dan membantuku menggeser lemari.
Kami melakukannya perlahan agar kakinya tidak menggores lantai.
Setelah selesai, Ayah kembali ke dapur.
Aku masih berdiri di sana ketika sesuatu yang selama ini kusimpan jauh-jauh mulai kembali dengan jelas.
Sebuah tas kecil di bawah tempat tidur.
Dua tiket yang kusembunyikan di dalam buku pola.
Dan suara Arga pada sore terakhir sebelum keberangkatan.
Jam tujuh, ya. Jangan datang terlalu cepat. Nanti kamu bosan menunggu.
Aku memejamkan mata.
Tentu saja aku datang terlalu cepat.
Sampai malam, kantong itu tetap berada di meja makan. Satu buah menggelinding keluar ketika aku meletakkan sayur, lalu berhenti di dekat tangannya.
Ayah mengambilnya dan memasukkannya kembali.
“Besok Ayah di rumah?” tanyaku.
“Memangnya kenapa?”
“Petugas mungkin datang lagi. Bagian belakang belum diukur.”
Ia menyendok nasi.
“Katanya sudah selesai.”
“Yang depan. Aku tidak mengizinkan mereka masuk ke belakang waktu Ayah tidak ada.”
Ayah mengangguk tanpa menatapku.
Aku duduk di seberangnya. Di antara kami ada semangkuk sayur bening, telur dadar, dan sambal yang kubeli dari warung karena belum sempat membuat sendiri.
Biasanya Ayah punya komentar tentang sambal warung itu. Terlalu manis, terlalu sedikit, atau cabainya tidak terasa. Malam itu ia makan tanpa mengatakan apa-apa.
“Yah.”
“Hm?”
“Tadi Ayah bilang tidak ingin aku sedih lagi.”
Sendoknya berhenti sebentar.
“Iya.”
“Ayah takut Arga bilang apa?”
Ia meletakkan sendok.
Dari rumah sebelah terdengar suara televisi. Pembawa acara tertawa keras, disusul tepuk tangan yang terlalu ramai untuk dapur kecil kami.
“Ayah cuma ingat dulu kamu susah sekali,” jawabnya.
Aku memandangi telur di piring.
Dulu.
Kata itu memuat banyak hal yang tidak pernah kami bicarakan lagi. Hari-hari ketika aku tidak ingin membuka jendela. Makanan yang dibawa Ibu ke kamar dan diambil kembali dalam keadaan hampir utuh. Pertanyaan tetangga yang dijawab Ayah dengan, Nara sedang kurang enak badan.
“Aku sudah besar, Yah.”
“Ayah tahu.”
“Aku bisa menentukan kapan mau bicara dan kapan tidak.”
Ayah mengusap bibirnya dengan ibu jari.
“Iya.”
Aku ingin percaya percakapan itu selesai dengan baik. Namun ketika ia kembali makan, bahunya masih tampak kaku.
Aku mengambil kantong jeruk dan memindahkannya ke rak.
Satu buah kutinggalkan di samping piringnya.
Konfirmasi kunjungan datang keesokan paginya melalui nomor administrasi proyek.
Pak Dedi menanyakan apakah pengukuran ruang belakang bisa dilakukan Kamis, pukul sepuluh. Aku menunjukkan pesan itu kepada Ayah sebelum membalas.
“Kamis Ayah ada?”
“Ada.”
“Jadi aku setujui?”
Ia membaca layar ponselku lebih lama daripada yang diperlukan.
“Iya.”
Aku mengetik jawaban singkat, lalu menambahkan satu permintaan.
Mohon pengukuran dilakukan tanpa mengganggu pekerjaan toko. Ruang kamar tidak difoto.
Balasannya datang beberapa menit kemudian.
Baik, Bu Nara. Sudah kami catat.
Aku menyimpan ponsel.
Di mesin sebelah, Sari sedang membuka jahitan yang salah ukuran. Ia menarik seutas benang panjang, lalu mematahkannya.
“Kamis?” tanyanya.
Aku mengangguk.
“Aku datang lebih pagi.”
“Tidak perlu.”
“Aku memang mau datang lebih pagi. Pesanan Bu Wati belum dipotong.”
Aku tidak membantah.
Sari kembali menunduk. Aku mengambil gunting besar, menghamparkan kain di meja, lalu mulai membuat garis kapur.
Garis pertama terlalu dekat dengan tepi.
Aku menghapusnya.
Kamis pagi hujan turun sebentar.
Air mengalir dari atap seng ke ember yang kami letakkan dekat pintu belakang. Suaranya berulang, satu tetes lebih keras daripada yang lain.
Ayah duduk di ruang tengah sejak pukul sembilan. Ia mengenakan kemeja abu-abu yang biasanya dipakai ke pertemuan warga.
Aku tidak menanyakan alasannya.
“Kalau pegal, Ayah bisa duduk di kursi depan,” kataku.
“Di sini saja.”
Aku menaruh segelas air di dekatnya.
Ketika lonceng pintu berbunyi, Ayah meraih gelas itu, tetapi tidak meminumnya.
Arga datang bersama seorang petugas pengukuran bernama Rudi. Pak Dedi sedang mendampingi tim lain, begitu penjelasannya.
Aku mengangguk dan menunjukkan tempat untuk meletakkan tas.
Arga memakai kemeja berwarna gelap dengan lengan digulung. Pada bagian bahunya ada titik-titik air hujan.
“Pagi,” katanya.
“Pagi. Ayah di belakang.”
Ia menatapku sesaat sebelum mengangguk.
Aku menyibak tirai.
“Ayah, petugasnya sudah datang.”
Ayah berdiri dengan bertumpu pada lengan kursi.
Arga berhenti di ujung lorong.
“Selamat pagi, Pak Darma.”
Ayah mengangguk.
“Pagi.”
“Bagaimana kabarnya, Pak?”
“Baik.”
Tidak ada yang bergerak selama satu atau dua detik.
Pak Rudi akhirnya memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan. Ayah menyambutnya, dan percakapan kembali menemukan bentuk yang lebih mudah.
Ukuran bangunan.
Batas tanah.
Dinding tambahan.
Aku berdiri dekat meja makan, mendengarkan.
Arga tidak menanyakan hal lain.
Rumah kami selalu terasa lebih sempit ketika ada orang yang membawa alat ukur.
Pak Rudi meminta izin menggeser kursi. Aku mengangkat keranjang pakaian. Ayah menunjukkan bagian dinding yang dibangun setelah dapur diperluas.
“Yang ini dulu pintu,” katanya sambil menunjuk bidang tembok di dekat lemari.
Arga mencatat.
“Ditutup kapan, Pak?”
“Sudah lama. Waktu Nara masih sekolah.”
Aku menoleh ke dinding itu.
Dulu, lewat pintu tersebut, Ibu biasa menyerahkan segelas teh kepada pelanggan yang menunggu terlalu lama. Setelah ditutup, ia tetap beberapa kali berjalan ke sana sambil membawa gelas.
Kami menertawakannya waktu itu.
Sekarang aku bahkan hampir lupa pernah ada pintu di tempat tersebut.
Pak Rudi mengukur panjang ruangan, lalu meminta Arga memeriksa sudut dekat dapur. Aku berjalan lebih dulu untuk membuka pintu belakang.
Kayunya mengembang karena lembap.
Aku menarik gagang sekali.
Tidak bergerak.
Kutarik lebih kuat.
“Bagian bawahnya tersangkut,” kata Arga dari belakang.
“Aku tahu.”
Aku mengangkat sedikit pintu itu sambil menarik. Setelah bunyi gesekan panjang, pintunya terbuka.
Angin lembap masuk bersama bau tanah.
“Biasanya memang begitu kalau hujan,” kataku.
Arga melihat bagian bawah kusen, lalu mencatat sesuatu.
Aku segera bertanya, “Itu juga dimasukkan laporan?”
“Kondisi bangunan yang terlihat, iya.”
“Berarti semua kerusakan?”
“Yang berkaitan dengan pemeriksaan ini. Ini masih catatan pengamatan, belum pemeriksaan struktur.”
Aku mengangguk, meskipun mendadak merasa seperti rumahku sedang dinilai tanpa sempat kubereskan.
Arga tampaknya menangkap sesuatu dari wajahku.
“Pintunya perlu diserut sedikit,” katanya. “Tidak harus diganti.”
“Ayah dulu biasa mengerjakannya.”
Aku menyesali kalimat itu begitu selesai mengucapkannya.
Di belakang kami, Ayah sedang menjelaskan letak saluran air kepada Pak Rudi. Suaranya cukup keras untuk menunjukkan bahwa ia tidak mendengar.
Arga hanya mengangguk.
Ia tidak menawarkan datang membawa perkakas. Tidak mengatakan akan mencarikan orang.
Aku membiarkannya melanjutkan pencatatan.
Mereka selesai mengukur dapur sebelum setengah sebelas.
Pak Rudi keluar untuk memeriksa sisi bangunan dari gang. Ayah ikut menunjukkan batas dinding belakang, meninggalkan aku dan Arga di ruang tengah.
Aku menggeser lemari kecil agar jarak antardinding bisa diukur.
Di belakangnya terdapat bekas cat yang lebih terang.
Dan pada kusen di sebelahnya, sederet garis pensil.
Arga berhenti menulis.
Aku mengikuti pandangannya.
Angka tahun ditulis kecil-kecil di samping garis itu. Sebagian sudah memudar. Yang paling bawah hampir tertutup bekas plester, sedangkan yang paling atas masih cukup jelas.
Nara — 17.
Tulisan Ibu.
Aku lupa garis itu masih ada karena hampir selalu tertutup kalender dan sisi lemari.
Arga mendekat setengah langkah.
“Masih disimpan,” katanya pelan.
“Tidak sengaja.”
Ia menoleh.
“Belum pernah dicat lagi,” jelasku.
Arga memandang garis paling atas.
“Aku ingat kamu protes waktu yang ini dibuat.”
Aku tidak menjawab.
“Aku bilang kamu tambah tinggi.”
“Kamu mengangkat ujung penggarisnya.”
Senyum kecil muncul di wajahnya sebelum menghilang lagi.
“Kamu sadar?”
“Ibu yang memberi tahu setelah kamu pulang.”
Aku menatap bekas pensil itu.
Hari itu Ibu menyuruhku menempelkan punggung pada kusen. Arga memegang penggaris di atas kepala, sementara aku terus berusaha berdiri lebih tegak.
Ia mengatakan tinggiku bertambah dua sentimeter.
Aku begitu senang sampai tidak menyadari Ibu sedang menahan tawa.
Sesudahnya, Arga meminta Ibu mengukurnya juga.
Bekas garisnya masih ada, lebih tinggi, dekat engsel atas. Tidak diberi nama. Hanya tanda pendek yang sedikit miring.
Arga mengangkat mata ke sana.
Aku melihat gerakan itu dan tahu ia juga ingat.
“Perlu difoto?” tanyaku.
Ia menoleh kepadaku.
“Tidak.”
Aku segera mendorong lemari kembali.
Kaki kayunya berdecit. Arga meraih sisi yang lain, lalu berhenti sebelum menyentuhnya.
“Boleh?”
Aku mengangguk.
Kami menggesernya bersama.
Untuk beberapa detik, tangan kami berada pada permukaan kayu yang sama. Aku memperhatikan ujung sekrup yang mencuat di dekat ibu jarinya, lalu berkata, “Hati-hati, ada yang tajam.”
Arga memindahkan tangannya.
“Terima kasih.”
Setelah lemari menempel pada dinding, kami sama-sama mundur.
Garis tinggi badan itu kembali tertutup sebagian.
“Aku perlu memastikan satu hal,” kataku.
Arga memasukkan penanya ke sela buku.
“Soal proyek?”
“Iya.”
“Silakan.”
Aku berdiri di samping meja makan. Tidak ada pelanggan, tidak ada alasan untuk berpura-pura sibuk membuka buku.
“Apa keluargamu terlibat?”
Ia memandangku dengan lebih hati-hati.
“Perusahaan pengembangnya punya hubungan usaha dengan perusahaan keluargaku.”
“Hubungan usaha seperti apa?”
“Ada kerja sama pengembangan. Aku bekerja melalui biro arsitektur yang ditunjuk untuk menyusun kajian dan rancangan.”
Aku memikirkan nama perusahaan pada amplop.
“Jadi kamu sudah tahu daerah ini sebelum datang.”
“Iya.”
“Tahu tokoku ada di sini.”
“Iya.”
Suara air menetes dari atap belakang terdengar lagi.
“Kenapa tetap mengambil pekerjaan ini?”
Arga menunduk sebentar ke buku di tangannya.
“Aku sudah ikut sejak tahap awal. Waktu lokasi pastinya masuk dalam pembahasan, aku tahu aku akan bertemu kamu.”
Aku menunggunya melanjutkan.
“Aku seharusnya mempertimbangkan bagaimana itu akan terasa buatmu.”
“Memang.”
Ia mengangguk.
“Aku tidak bisa mengubah siapa yang datang kemarin,” katanya. “Tapi kalau kamu ingin urusan bangunanmu ditangani rekan lain, aku bisa meminta pengalihan.”
Aku melihat ke arah tirai toko. Dari sana terdengar Sari berbicara dengan pelanggan.
Beberapa hari lalu aku bahkan tidak sanggup mengetik nama Arga tanpa menghapusnya lagi.
Sekarang ia berdiri di rumahku, menawarkan keputusan yang terdengar masuk akal.
“Aku belum memutuskan,” kataku.
“Baik.”
“Aku tetap ingin semua informasi disampaikan lewat jalur yang sama dengan warga lain.”
“Tentu.”
“Jangan ada hal penting yang kamu kira bisa dijelaskan sambil lewat.”
Arga menatapku.
“Akan kucatat.”
Aku mengangguk, lalu menyingkir dari meja.
Percakapan itu belum membuatku tenang. Tetapi setidaknya ada sesuatu yang berhasil kukatakan dengan jelas.
Pak Rudi kembali sambil mengibaskan air dari ujung celananya. Ayah menyusul lebih lambat.
“Gang belakang cukup sempit,” kata Pak Rudi. “Nanti kami cocokkan dengan peta ukur.”
Arga membuka bukunya lagi.
Ayah duduk di kursi. Aku mendorong gelas air lebih dekat kepadanya.
“Sudah selesai?” tanyanya.
“Sudah, Pak,” jawab Arga. “Tinggal saya pastikan catatannya.”
Pak Rudi mengambil foto dinding dapur setelah meminta izin, menjaga agar bagian kamar tidak masuk gambar. Aku memperhatikannya dari pintu.
Ketika kembali ke ruang tengah, Arga sedang melihat bekas jahitan pada taplak meja.
Aku tahu taplak itu.
Ibu membuatnya dari sisa kain pesanan. Salah satu sudutnya tidak cukup lebar, jadi ia menyambung dengan kain polos yang warnanya sedikit berbeda.
Arga mengalihkan pandangan ketika aku mendekat.
“Ada yang kurang?” tanyaku.
“Tidak.”
Ia menutup buku.
“Aku sudah mencatat permintaanmu.”
Aku tidak tahu apakah yang dimaksud soal foto kamar atau percakapan kami tadi.
Aku hanya menjawab, “Terima kasih.”
Di depan toko, seorang anak perempuan berdiri di atas bangku kecil sementara Sari memasang jarum pentul pada ujung roknya.
Aku segera menghampiri.
“Kakinya lurus, Sayang. Jangan berjinjit.”
Anak itu menurunkan tumit dengan wajah tertangkap basah.
Ibunya tertawa.
“Dia minta roknya panjang sekali, Mbak. Katanya biar seperti putri.”
“Kalau terlalu panjang nanti tersandung.”
Aku berjongkok dan meratakan kain.
“Begini dulu, ya. Masih bisa dipanjangkan nanti.”
“Kalau aku tambah tinggi?”
“Iya.”
Ia tampak puas.
Aku melihat pita ukur di tangan sendiri, lalu sesaat teringat garis pensil pada kusen belakang.
Dulu Ibu menyimpan ruang pada kelim pakaianku supaya masih bisa diturunkan ketika aku tumbuh. Aku selalu memintanya segera, tidak sabar menunggu tubuhku menyusul kain.
Sekarang aku yang berjongkok di depan anak orang, mengatakan masih ada waktu.
Saat berdiri, kulihat Arga menunggu di dekat pintu bersama Pak Rudi. Ia tidak memotong pembicaraan.
Aku menyelesaikan catatan pesanan, lalu mendekatinya.
“Sudah semuanya?”
“Sudah.”
Pak Rudi mengucapkan terima kasih lebih dulu dan keluar untuk mengambil kendaraan.
Arga mengeluarkan selembar kartu dari saku bukunya. Ia meletakkannya di meja, cukup jauh dari gunting.
“Nomor kantor dan surel tim ada di sini. Kalau ada pertanyaan tentang data rumah, bisa dikirim ke sana.”
Aku membaca nama biro yang tercetak.
Di bawahnya ada nama Arga.
Aku tidak menyentuh kartu itu.
“Pak Dedi juga bisa?”
“Bisa.”
“Baik.”
Ia mengangkat tas.
Lalu, setelah melihat pelanggan sedang sibuk merapikan barang, ia berkata lebih pelan, “Aku masih ingin bicara denganmu.”
Aku menatapnya.
“Tapi aku dengar kamu bilang jangan sekarang,” lanjutnya. “Jadi aku tidak akan menanyakannya setiap datang.”
Aku melonggarkan jari yang tanpa sadar menggenggam pita ukur.
“Untuk saat ini, kita urus pekerjaan masing-masing dulu.”
Arga mengangguk.
“Baik, Nara.”
Ia pergi setelah mengucapkan salam kepada Sari dan Ayah.
Aku menunggu sampai mobilnya keluar dari jalan, kemudian mengambil kartu itu.
Kertasnya tebal, dengan sudut yang rapi.
Kusimpan di dalam map proyek.
Sore harinya, ketika toko mulai sepi, aku memindahkan lemari kecil di ruang tengah.
Tidak jauh. Hanya beberapa sentimeter agar kalender yang jatuh di belakangnya bisa diambil.
Tetapi setelah kalender kudapat, aku tidak langsung mendorong lemari kembali.
Aku berdiri di depan kusen.
Garis paling bawah dibuat ketika aku berumur delapan tahun. Tulisan Ibu masih bulat dan besar. Pada usia dua belas, ia menambahkan gambar bunga kecil di samping namaku karena aku mengeluh tidak banyak bertambah tinggi.
Di usia tujuh belas, garisnya nyaris rata dengan bekas paku.
Di atasnya ada tanda milik Arga.
Aku mengangkat tangan dan menyentuh garis itu dengan telunjuk.
Aku ingat ia berdiri membelakangiku, bahunya terlalu lebar untuk kusen sempit. Ibu menyuruhnya menundukkan kepala sedikit ketika penggaris tersangkut engsel.
Aku tertawa sampai perutku sakit.
Hari itu aku tidak membayangkan akan ada pagi ketika ia perlu meminta izin untuk memasuki rumah kami.
“Nara?”
Aku menoleh.
Ayah berdiri beberapa langkah dari dapur.
“Lemarinya mau dipindah?”
“Tidak.”
Ia melihat tanganku yang masih menempel pada kusen.
Tatapannya naik ke tanda pensil di atas kepalaku.
Aku menurunkan tangan.
“Arga ingat ini,” kataku.
Ayah tidak menjawab.
“Katanya dulu aku protes waktu diukur.”
“Memang.”
Aku tersenyum sedikit.
“Ibu memberitahuku dia curang.”
Ayah menatap kusen itu lebih lama, kemudian berjalan mendekat. Untuk sesaat kupikir ia akan menyentuh garis yang sama.
Tetapi ia hanya membungkuk dan membantuku menggeser lemari.
Kami melakukannya perlahan agar kakinya tidak menggores lantai.
Setelah selesai, Ayah kembali ke dapur.
Aku masih berdiri di sana ketika sesuatu yang selama ini kusimpan jauh-jauh mulai kembali dengan jelas.
Sebuah tas kecil di bawah tempat tidur.
Dua tiket yang kusembunyikan di dalam buku pola.
Dan suara Arga pada sore terakhir sebelum keberangkatan.
Jam tujuh, ya. Jangan datang terlalu cepat. Nanti kamu bosan menunggu.
Aku memejamkan mata.
Tentu saja aku datang terlalu cepat.