‹ Daftar isi · Setelah Kamu Berhenti Menunggu

BAB 5

Dua Tiket

Tujuh tahun lalu, aku membeli dua tiket kereta pada hari ketika Ibu pertama kali membiarkanku menjahit kebaya pelanggan tanpa memeriksa ulang hasilnya.
Aku masih ingat tanganku gemetar saat menyerahkan kebaya itu.
Bu Endah mengenakannya di balik tirai, kemudian keluar sambil merapikan bagian pinggang.
“Pas,” katanya.
Satu kata.
Aku ingin memeluknya.
Ibu berdiri di dekat lemari kain dengan kedua tangan terlipat. Ia hanya mengangguk, tetapi setelah pelanggan pergi, ia mengambil gunting besar miliknya dan menyerahkannya kepadaku.
“Pakai yang ini. Guntingmu sudah makan kain.”
Aku menerima gunting itu seolah sedang menerima piala.
Sore harinya, dengan ongkos jahit pertama yang benar-benar disebut Ibu sebagai uangku, aku pergi ke stasiun.
Aku membeli dua tiket.
Satu atas namaku.
Satu atas nama Arga.
“Kamu betulan sudah beli?”
Arga memandangi tiket yang kuletakkan di antara dua gelas es teh.
Kami duduk di warung dekat lapangan. Angin menerbangkan ujung taplak plastik, membuat Arga harus menahannya dengan siku.
“Katamu beli sebelum kehabisan.”
“Iya, tapi kupikir kita pergi sama-sama besok.”
“Besok aku harus mengantar pesanan.”
Ia mengambil tiketnya.
“Aku transfer uangnya sekarang.”
“Tidak usah.”
“Nara.”
“Itu hadiah.”
Ia mendongak.
“Hadiah apa?”
“Lolos kuliah.”
Arga memutar tiket itu, membaca namanya sendiri.
Aku mencoba terlihat biasa saja. Padahal sejak dari loket aku sudah membayangkan reaksinya.
“Uangmu buat daftar kursus,” katanya.
“Masih ada.”
“Benar?”
Aku mengangguk.
Ia menatapku beberapa saat, kemudian mengeluarkan dompet.
Aku segera menahan tangannya.
“Kalau kamu bayar, nanti aku tersinggung.”
“Kalau aku tidak bayar, kamu yang mengurangi uang makan.”
“Aku sudah hitung.”
“Pakai hitungan siapa?”
“Hitunganku sendiri. Memang kamu saja yang bisa matematika?”
Arga tertawa.
Akhirnya ia memasukkan kembali dompetnya.
“Baik. Tapi makan selama perjalanan aku yang tanggung.”
“Jangan cuma roti.”
“Baik.”
“Dan kalau aku mual, jangan beli telur rebus.”
“Kenapa daftar syaratnya bertambah?”
Aku menarik tiket dari tangannya dan menyatukannya dengan milikku.
“Masih bisa kubatalkan.”
Ia segera merebut keduanya.
“Tidak boleh.”
Saat itu aku tertawa tanpa memikirkan apa pun yang mungkin terjadi setelah keberangkatan.
Arga diterima di jurusan arsitektur. Aku mendapat kesempatan mengikuti kursus menjahit lanjutan sambil membantu di tempat usaha Bu Mira, sepupu Ibu.
Kami akan tinggal di tempat berbeda. Arga di dekat kampus, aku di rumah Bu Mira sampai bisa menyewa kamar sendiri.
Rencananya tidak besar.
Kami hanya akan tiba di kota yang sama, lalu berusaha dari sana.
Bagiku, itu sudah cukup berani.
Ibu tahu soal keberangkatanku.
Selama beberapa minggu, ia membantuku menghitung biaya dan memilih pakaian yang perlu dibawa.
“Tidak usah semua dimasukkan,” katanya ketika melihat isi tasku. “Kamu mau kursus atau pindah lemari?”
“Siapa tahu perlu.”
“Yang ini saja belum pernah kamu pakai.”
Ia mengangkat blus merah muda yang kubeli dari pasar malam. Aku mengambilnya dan melipat ulang.
“Bisa dipakai nanti.”
Ibu menatapku, kemudian tersenyum kecil.
“Kalau begitu bawa.”
Kami duduk di lantai kamar. Di sebelah Ibu ada kantong obat dan segelas air yang belum diminum.
Aku meliriknya.
“Ibu yakin tidak apa-apa?”
Ia mengikuti pandanganku.
“Ini tinggal diminum setelah makan.”
“Bukan itu.”
Ibu meletakkan pakaian di pangkuannya.
Beberapa bulan terakhir ia lebih mudah lelah. Kadang baru menjahit satu jam, ia sudah berhenti untuk meregangkan punggung. Ayah menyuruhnya mengurangi pesanan, tetapi setiap ada pelanggan datang, jawabannya selalu sama.
Bisa. Kapan diperlukan?
“Aku bisa berangkat bulan depan,” kataku.
“Kursusnya mulai minggu depan.”
“Nanti aku tanya kelas berikutnya.”
“Ra.”
Aku menunduk, meratakan lipatan blus.
Ibu menyentuh tanganku.
“Bu Mira sudah mengosongkan kamar. Kamu juga sudah menabung lama.”
“Kalau Ibu capek?”
“Ayahmu ada. Pesanan bisa dikurangi.”
Aku menatap wajahnya, mencari tanda bahwa ia hanya sedang menenangkanku.
Ibu justru meraih sebuah kantong kain kecil dari samping tempat tidur.
“Ini dibawa.”
Di dalamnya ada pita ukur, bantalan jarum, beberapa jarum tangan, dan gunting kecil bergagang hitam.
“Gunting besarnya tidak sekalian?” tanyaku.
“Itu buat Ibu kerja.”
Aku tersenyum.
Ia mengambil gunting kecil itu, memeriksa ujungnya, lalu memasukkannya kembali.
“Telepon kalau tidak tahu jalan. Tanya kalau tidak paham. Jangan pura-pura mengerti cuma karena malu.”
“Iya, Bu.”
“Kalau sakit, bilang.”
“Iya.”
“Kalau uangmu tinggal sedikit, juga bilang. Jangan sampai Ibu tahu dari Bu Mira.”
Aku mengangguk lagi.
Ibu kembali melipat pakaian. Aku membantunya dalam diam.
Baru setelah beberapa saat ia bertanya, “Arga berangkat pakai kereta yang sama?”
Tanganku berhenti di atas kaus.
“Iya.”
“Sudah punya tempat tinggal?”
“Sudah. Dekat kampus.”
Ibu mengangguk.
“Bagus. Di jalan bisa saling menjaga.”
Aku menahan senyum, gagal, lalu berpura-pura memeriksa ritsleting tas.
Ibu melihat semuanya.
Ia tidak mengejekku.
Ayah lebih banyak diam.
Waktu itu lututnya belum sesering sekarang terasa nyeri. Ia masih berangkat bekerja pagi-pagi dan pulang dengan bau debu gudang melekat pada kemeja.
Dua hari sebelum keberangkatan, ia menemukanku sedang menulis alamat Bu Mira pada selembar kertas.
“Untuk apa?”
“Dimasukkan ke tas. Kalau ponsel mati.”
Ayah mengambil kertas itu dan membacanya.
“Jauh dari jalan besar?”
“Kata Bu Mira tidak. Bisa naik angkot sekali.”
Ia mengangguk.
“Uang pegangan cukup?”
“Cukup.”
Ayah menyerahkan kembali kertasnya.
Aku menunggu ia menanyakan jam keberangkatan.
Tetapi ia hanya masuk kamar.
Malamnya aku mendengar suara Ayah dan Ibu berbicara pelan. Aku sedang menempelkan label nama pada kotak perlengkapan jahit dan tidak berniat mendengarkan.
Hanya satu kalimat Ayah yang sampai kepadaku.
“Anak itu belum tahu hidup di sana seperti apa.”
Kupikir yang dimaksud adalah aku.
Aku masih berpikir begitu ketika Ibu keluar dari kamar dan mengingatkanku supaya tidur.
Sehari sebelum berangkat, Arga menungguku di depan toko.
Ia membawa buku gambar dengan ujung sampul yang terkelupas.
“Punya kamu,” katanya.
Aku membukanya.
Halaman-halaman awal berisi gambar pakaianku. Ia pernah meminjamnya untuk melihat rancangan kerah yang menurutku tidak jatuh dengan benar.
Di halaman paling belakang, ada gambar yang belum pernah kulihat.
Sebuah toko kecil.
Jendela lebar. Meja panjang. Dua mesin jahit. Rak kain di dinding.
Di atas pintunya tertulis:
NARA.
Aku memandang gambar itu lebih lama daripada yang ingin kuakui.
“Kenapa cuma namaku?”
“Memangnya mau nama siapa?”
“Ibu juga.”
Arga mengambil pensil dari saku, lalu menambahkan tulisan kecil di bawahnya.
Didirikan bersama Lestari.
Aku tertawa.
“Seperti nama perusahaan.”
“Bisa diganti nanti.”
Aku menyentuh gambar jendelanya.
“Yang ini mahal.”
“Yang mana?”
“Kacanya sebesar ini. Kalau pecah, aku harus jahit berapa kebaya?”
“Berarti jangan dipecahkan.”
“Jawabanmu bagus sekali.”
Ia bersandar pada meja.
“Bisa dibuat bertahap. Awalnya satu mesin dulu.”
Aku menatap gambar itu lagi.
“Meja potongnya harus lebih lebar.”
Arga mengambil buku, memperpanjang gambar meja.
“Begini?”
“Kurang.”
Ia menambahkannya lagi sampai hampir menyentuh dinding.
“Sekarang orangnya lewat mana?” tanyanya.
Aku tertawa dan mengambil kembali buku tersebut.
Kami berdiri berdekatan di antara gantungan pakaian dan meja yang penuh sisa kain. Di luar, seseorang mendorong gerobak sambil membunyikan sendok pada mangkuk.
Arga melihat jam.
“Aku harus pulang dulu. Ada yang perlu dibereskan.”
“Barangmu belum selesai?”
“Sedikit lagi.”
“Jangan sampai ketinggalan.”
Ia menatapku dengan wajah dibuat serius.
“Aku yang harus bilang begitu. Kamu kalau mengisi tas seperti mau membawa satu rumah.”
“Ibu yang cerita?”
“Tidak perlu cerita. Tasmu kelihatan dari sini.”
Aku memukul lengannya dengan buku.
Sebelum pergi, ia mengambil dua tiket yang kusimpan di antara halaman.
“Besok ketemu di stasiun saja, ya,” katanya. “Aku dari rumah langsung.”
“Jam berapa?”
“Jam tujuh. Keretanya setengah delapan.”
“Aku tahu. Aku yang beli.”
“Iya, Bu.”
Ia mengembalikan tiket itu.
“Jangan datang terlalu cepat. Nanti kamu bosan menunggu.”
“Aku tidak pernah bosan di stasiun.”
“Karena belum pernah menunggu aku.”
Aku mendongak.
“Kamu akan terlambat?”
“Tidak.”
Ia menjawabnya sambil tersenyum.
Aku percaya.
Pada hari keberangkatan, Ibu menyiapkan nasi dalam dua kotak.
“Satu buat Arga,” katanya.
“Dia bilang mau beli makan.”
“Di kereta mahal.”
Aku memasukkan keduanya ke tas jinjing.
Sore itu Ibu kelihatan letih. Ia beberapa kali berhenti untuk duduk, tetapi tetap bersikeras memeriksa isi tasku.
Ayah belum pulang.
“Tidak menunggu Ayah?” tanya Ibu ketika aku mengenakan sepatu.
“Kalau menunggu, nanti terlalu mepet. Aku pamit lewat telepon.”
Ibu mengangguk, meskipun matanya sempat bergerak ke jam dinding.
Aku berjongkok di dekat kursinya.
“Kalau capek, tutup toko.”
“Iya.”
“Jangan terima pesanan banyak.”
“Iya.”
“Obatnya diminum.”
Ibu tertawa kecil.
“Kamu belum pergi sudah mengatur dari jauh.”
Aku mencium tangannya.
Ia mengusap rambut di dekat telingaku.
“Hati-hati.”
Aku memeluknya sebentar.
Aroma sabun cuci dan kain yang baru disetrika melekat pada bajunya. Aku sudah mengenal aroma itu sejak kecil, sampai tidak pernah terpikir bahwa suatu hari aku akan kesulitan mengingatnya dengan tepat.
Di ambang pintu, aku berbalik.
Ibu masih duduk di kursi.
Ia mengangkat tangan.
Aku membalasnya, lalu berjalan ke ujung gang untuk mencari ojek.
Aku tiba pukul enam lewat dua puluh.
Langit belum sepenuhnya gelap. Pedagang di depan stasiun sedang menyalakan lampu, dan seorang anak tidur di pangkuan ibunya pada bangku tunggu.
Aku memilih tempat dekat pintu masuk.
Arga akan mudah melihatku dari sana.
Ponselku tinggal separuh baterai. Aku mengirim pesan kepadanya.
Aku sudah sampai.
Lalu kepada Ibu.
Sudah di stasiun. Nanti kalau sudah naik aku telepon.
Ibu membalas dengan satu kata.
Iya.
Aku menelepon Ayah.
Tidak diangkat.
Kukirim pesan bahwa aku berangkat dan meminta ia menjaga Ibu.
Setelah itu, aku duduk sambil memangku tas jinjing.
Pada pukul enam lewat empat puluh, aku memeriksa dua tiket.
Nomor gerbong sama.
Kursi berdampingan.
Aku membayangkan Arga akan memilih dekat jendela, lalu berpura-pura memberikannya kepadaku setelah aku meminta.
Aku sudah menyiapkan alasan bahwa aku mudah mual.
Padahal aku hanya ingin melihat lampu-lampu rumah menjauh.
Pukul tujuh kurang lima, aku meneleponnya.
Nada sambung terdengar sampai berhenti.
Tidak ada jawaban.
Aku mengirim pesan lagi.
Kamu sudah di jalan?
Pukul tujuh, seorang petugas mengumumkan informasi kedatangan kereta.
Aku berdiri agar lebih mudah terlihat.
Setiap motor yang berhenti di depan stasiun membuatku menoleh.
Seorang laki-laki turun membawa koper hitam.
Bukan Arga.
Dua mahasiswa datang sambil tertawa.
Bukan Arga.
Aku kembali menelepon.
Kali ini panggilan tidak tersambung.
Aku menatap layar, kemudian mencoba sekali lagi.
Sama.
Pukul tujuh lewat sepuluh, aku mulai marah.
Marah yang masih ringan. Marah yang kubayangkan akan hilang setelah ia tiba dengan wajah menyesal.
Aku mengetik:
Kalau sudah dekat, bilang. Aku tunggu di depan.
Pesan itu tetap tidak mendapat jawaban.
Ketika kereta datang, bangku di sekitarku kosong hampir bersamaan.
Orang-orang mengangkat tas. Seorang ibu membangunkan anaknya. Pedagang terakhir menawarkan air mineral sebelum menjauh dari jalur penumpang.
Aku berdiri dengan dua tiket di tangan.
Arga belum datang.
Aku menelepon lagi.
“Bisa diisi sambil menunggu, Mbak,” kata seorang petugas, melihatku memandangi pintu masuk. “Kereta berhenti sebentar.”
“Saya menunggu teman.”
“Sudah dekat?”
Aku mengangguk sebelum tahu jawabannya.
Petugas itu berjalan melanjutkan pemeriksaan.
Aku menelepon Ibu.
Tidak diangkat.
Mungkin ia sudah tidur. Mungkin ponselnya di kamar sementara ia ke belakang.
Aku menelepon Arga sekali lagi.
Jari-jariku mulai dingin.
Di dekat gerbong, seorang penumpang meminta bantuan menaikkan koper. Pintu-pintu terbuka. Cahaya dari dalam kereta jatuh pada lantai peron.
Aku bisa naik.
Tiketku ada. Alamat Bu Mira ada di dalam tas. Uangku cukup.
Aku melangkah dua kali.
Lalu menoleh ke pintu masuk.
Bagaimana kalau Arga datang sesaat setelah aku masuk?
Bagaimana kalau ponselnya mati dan ia mengira aku masih menunggu di depan?
Aku berhenti di antara bangku dan jalur menuju gerbong, memegang tas begitu erat sampai pegangannya melukai jari.
Petugas tadi kembali.
“Mbak, mau naik?”
Aku membuka mulut, tetapi tidak segera menjawab.
Ia melihat kedua tiketku.
“Temannya belum datang?”
Aku menggeleng.
“Kalau mau berangkat, sekarang, ya.”
Dari dalam gerbong, seorang perempuan sedang menaruh tas di rak. Seorang laki-laki menarik tirai jendela. Kursi-kursi itu segera membawa orang lain menuju kehidupan mereka masing-masing.
Aku mengangkat ponsel.
Layar menampilkan panggilan yang gagal.
“Sebentar,” kataku.
Petugas itu tidak bisa memberiku waktu lebih banyak.
Peluit berbunyi.
Aku mundur ketika pintu ditutup.
Lalu kereta mulai bergerak.
Pelan pada awalnya.
Cukup pelan untuk membuatku merasa masih bisa mengubah keputusan.
Aku mencari wajah Arga di antara orang-orang di ujung peron, seolah ia mungkin tiba dengan berlari sambil memanggil namaku.
Tidak ada.
Gerbong terakhir lewat di hadapanku.
Aku berdiri sampai lampu merah di belakang kereta mengecil dan hilang.
Dua tiket itu masih berada di tanganku.
Setelahnya, stasiun terasa terlalu luas.
Aku duduk kembali di bangku yang sama.
Ponselku tinggal sedikit baterai.
Aku mengetik satu pesan, menghapusnya, lalu mengetik lagi.
Kereta sudah berangkat. Aku masih di sini.
Pesan itu tidak dibalas.
Aku menunggu.
Pada pukul delapan, kemarahanku mulai berubah menjadi takut.
Aku memikirkan kecelakaan. Ban bocor. Jalan yang terhalang. Apa pun yang bisa menjelaskan mengapa orang yang kemarin menggambar tokoku kini tidak bisa menjawab telepon.
Aku menghubungi nomor rumahnya yang tersimpan di ponsel.
Nada sambung panjang.
Tidak ada yang mengangkat.
Aku tidak tahu nomor teman-temannya yang lain. Selama ini, jika ingin bicara dengan Arga, aku tinggal menghubungi Arga.
Sesederhana itu.
Aku baru menyadari betapa sedikit jalan lain yang kumiliki ketika satu-satunya jalan tersebut tertutup.
Tas jinjing di pangkuanku terasa hangat.
Aku membukanya.
Dua kotak nasi tersusun rapi, masing-masing dengan sendok yang dibungkus tisu.
Aku segera menutupnya kembali.
Ayah menemukanku menjelang pukul sembilan.
Ia datang dari arah pintu masuk dengan kemeja kerja yang belum diganti.
Aku berdiri.
“Yah?”
Ia melihat tas di samping kakiku, lalu dua tiket di tanganku.
“Pulang, Ra.”
“Ayah tahu aku di sini?”
“Kamu kirim pesan.”
Aku menatap pintu masuk di belakangnya.
“Arga belum datang.”
Ayah mengulurkan tangan untuk mengambil tasku.
“Ayo pulang.”
“Mungkin dia di jalan.”
“Nara.”
“Aku belum bisa menghubunginya.”
Ayah memegang tali tas, menunggu aku melepaskannya.
Aku mencari wajahnya.
“Ayah ketemu dia?”
Ia tidak langsung menjawab.
“Sudah malam. Ibumu menunggu.”
Aku menoleh sekali lagi ke jalan.
Beberapa warung mulai menutup dagangan. Motor yang berhenti di depan stasiun hanya menurunkan seorang bapak dengan kantong plastik.
Aku melepaskan tas.
Di perjalanan pulang, aku duduk di belakang Ayah sambil terus memegang ponsel.
Aku tidak memeluk pinggangnya. Satu tanganku mencengkeram pegangan belakang motor, satu lagi menutupi layar agar cahaya jalan tidak memantul.
Tidak ada pesan baru.
Ketika baterainya habis, aku tetap menggenggamnya.
Ibu masih terjaga.
Ia bangkit begitu melihatku masuk, tetapi aku lebih dulu berkata, “Arga belum bisa dihubungi.”
Aku mengatakannya cepat-cepat, seolah ada seseorang yang menuduhnya.
Ibu menatap Ayah.
Ayah membawa tasku ke kamar.
“Mungkin ada keperluan mendadak,” kataku lagi.
Ibu mendekat dan mengambil tas jinjing dari tanganku.
“Sudah makan?”
Aku menggeleng.
Ia membuka tas, melihat dua kotak nasi, lalu menutupnya perlahan.
“Duduk dulu.”
“Aku mau mengisi baterai.”
“Iya. Setelah itu duduk.”
Aku masuk kamar.
Dua tiket kuselipkan kembali ke dalam buku pola agar tidak kusut.
Aku masih berpikir akan memperlihatkannya kepada Arga besok. Aku akan mengatakan bahwa ia berutang dua tiket dan penjelasan panjang.
Mungkin aku akan menangis sedikit.
Mungkin ia akan menggenggam tanganku dan meminta maaf.
Aku bahkan membayangkan kalimat yang akan kuucapkan supaya tidak terdengar terlalu marah.
Malam itu, sebelum tidur, aku mengirim pesan terakhir.
Aku pulang. Kalau sudah bisa, telepon aku.
Aku meletakkan ponsel di dekat bantal dengan suara dering paling keras.
Tidak ada telepon malam itu.
Besoknya juga tidak.
Aku membuka mata ketika suara sendok jatuh terdengar dari dapur.
Kamis sore telah gelap.
Aku masih berdiri di dekat lemari, di hadapan kusen dengan bekas pensil yang memudar.
Dari belakang, Ayah mengatakan sendoknya hanya terlepas.
Aku menjawab bahwa tidak apa-apa.
Lalu masuk ke kamar.
Buku pola lama tersimpan di bagian bawah lemari, terbungkus kantong kain agar tidak dimakan debu. Sudah lama aku tidak membukanya.
Aku duduk di lantai dan mengangkat buku itu ke pangkuan.
Beberapa halaman lepas dari jilidnya. Ada rancangan kerah, ukuran lengan, serta catatan Ibu yang mengingatkanku menambahkan kampuh.
Di halaman terakhir, toko kecil itu masih ada.
Jendelanya lebar.
Meja potongnya terlalu besar.
Namaku tertulis di atas pintu.
Aku membalik halaman dengan hati-hati.
Dua tiket terselip di lipatan belakang, warnanya telah pudar.
Selama bertahun-tahun, aku mengingat malam itu sebagai malam ketika Arga tidak datang.
Tetapi kini ada satu percakapan lain yang terdengar kembali dengan jelas.
Aku belum bisa menghubunginya.
Ayo pulang.
Ayah ketemu dia?
Aku menatap tiket di tanganku.
Pertanyaan itu pernah kutanyakan.
Dan Ayah tidak pernah menjawabnya.