‹ Daftar isi · Jangan Jawab Suara Ibu

BAB 1

Teh yang Masih Hangat

Orang terakhir meninggalkan rumah sesaat sebelum magrib.

Laras berdiri di ambang pintu, memperhatikan sandal-sandal tetangga yang berangsur hilang dari teras. Di halaman, tanah bekas tiang tenda masih lembek. Beberapa gelas air mineral tergeletak di bawah kursi plastik. Angin mengangkat ujung kain putih bekas alas pemandian jenazah yang dijemur di samping rumah.

“Tidur di rumah saya saja,” kata Bu Ratih dari dekat pagar.

Laras menggeleng. “Besok masih harus beres-beres, Bu.”

Tetangganya memandang ke arah lorong di belakang Laras. Bibirnya terbuka sedikit, seperti hendak mengatakan sesuatu, lalu menutup lagi.

“Kalau perlu apa-apa, datang langsung. Rumah saya tidak dikunci.”

Setelah Bu Ratih pergi, Laras menutup pintu.

Kesunyian rumah itu terasa asing. Biasanya, selalu ada suara televisi dari ruang tengah atau bunyi gunting ibu memotong kain. Sekarang hanya jam dinding yang berdetak terlalu keras.

Di kamar ibu, aroma minyak kayu putih masih melekat pada seprai.

Laras duduk di tepi ranjang. Bantalnya penyok di tengah. Ia meratakannya dengan telapak tangan, lalu menemukan ujung kertas terlipat di bawah sarung bantal.

Namanya tertulis di bagian depan.

Laras.

Ia mengenali tulisan ibu, meskipun huruf-hurufnya jauh lebih gemetar daripada yang ia ingat.

Kalau Ibu memanggil setelah meninggal, jangan jawab.

Jangan buka pintu.

Jangan percaya meskipun ia menangis.

Laras mengernyit.

Dari dapur terdengar denting sendok.

Ia mengangkat kepala.

Bunyi itu datang lagi. Sendok beradu dengan bibir gelas, tiga kali, kemudian berhenti. Aroma teh melati perlahan menyusup ke kamar.

“Laras.”

Kertas di tangannya berkerisik.

Suara itu begitu akrab hingga tubuhnya lebih dulu bereaksi. Bibirnya sudah terbuka ketika matanya kembali menangkap kalimat pertama.

Ia menahan napas.

“Tehnya sudah Ibu buatkan,” panggil suara dari dapur. “Nanti keburu dingin.”