‹ Daftar isi · Pernikahan yang Tak Pernah Kurencanakan

BAB 2

Nama di Balik Amplop

Alya menatap pria di hadapannya, menunggu tawa atau penjelasan yang lebih masuk akal. Raka justru menggeser amplop ke arahnya.

“Baca dulu.”

“Setelah Anda menawarkan pernikahan sebagai pembayaran utang rumah saya?”

“Saya tahu kedengarannya buruk.”

“Kedengarannya Anda datang ke rumah orang yang sedang kesulitan karena Anda pikir dia tidak punya pilihan.”

Raka melepaskan tangannya dari amplop.

“Anda boleh menolak.”

Alya berdiri dan membuka pintu depan. Udara dingin menyapu ruang tamu.

“Kalau begitu, saya menolak.”

Raka tidak membantah. Ia bangkit, meraih payung yang disandarkan dekat pintu, lalu berhenti di ambang.

“Suratnya tetap untuk Anda.”

“Kenapa tidak dikirim lewat pos saja?”

“Karena nama ibu Anda ada di dalamnya. Saya berharap Anda bisa membantu menjelaskan sesuatu.”

Alya memandang amplop di meja. Di bawah nama ibunya tertulis alamat rumah ini, lengkap dengan nomor yang dulu dicat ulang oleh ayahnya. Tidak banyak orang mengetahui alamat lama tersebut.

Ia menutup pintu, tetapi belum menguncinya.

“Sepuluh menit,” katanya. “Untuk menjelaskan surat itu.”

Raka kembali duduk.

Alya mengambil amplop dengan hati-hati. Perekatnya sudah terbuka, meninggalkan bekas kecokelatan. Di dalamnya terdapat dua lembar kertas dan sepotong foto.

Foto itu memperlihatkan ibunya berdiri di depan sebuah toko bunga. Di sampingnya ada perempuan berambut pendek yang menggendong anak laki-laki.

Alya membalik foto.

Untuk Ratih. Kalau suatu hari anak-anak kita bertemu, semoga mereka tidak perlu mewarisi kesalahan kita.

Di bawah kalimat itu ada nama yang dikenalnya.

Sulastri. Nama ibunya.

“Ratih ibu Anda?” tanya Alya.

Raka mengangguk.

“Anak di foto ini?”

“Saya.”

Alya meneliti wajah anak tersebut, lalu mengangkat pandangan. Ada kemiripan pada mata dan bentuk alisnya. Namun, yang membuatnya gelisah adalah toko bunga di belakang mereka.

Toko itu masih ada dalam ingatannya.

Ibunya pernah mengajaknya ke sana ketika ia kecil. Mereka membeli bunga sedap malam, lalu duduk lama di bangku seberang jalan. Saat itu ibunya menangis tanpa menjelaskan sebabnya.

“Ibu Anda sekarang di mana?”

“Meninggal tiga bulan lalu.”

Alya menurunkan foto.

“Maaf.”

Raka mengangguk singkat. Matanya beralih ke surat yang belum dibuka.

“Saya menemukan amplop ini saat membereskan kamarnya. Ada nama ibu Anda di beberapa dokumen lain. Saya baru mendapat alamat yang benar minggu lalu.”

Alya membuka lembar pertama.

Tulisan itu milik ibunya. Ia mengenali huruf S yang besar dan cara ibunya selalu menyambungkan dua huruf terakhir.

Ratih,

Aku tidak akan menandatangani surat itu. Rumah ini bukan milikku seorang. Ada hak anakku di dalamnya, dan aku tidak tahu apa yang sudah dijanjikan kepada keluargamu.

Jika kamu masih menganggapku sahabat, datanglah sendiri. Jangan suruh orang kantor itu lagi.

Alya membaca bagian terakhir dua kali.

Tanggal pada surat itu adalah enam bulan sebelum ibunya meninggal.

“Surat apa yang tidak mau ditandatangani ibu saya?”

“Itu yang belum saya ketahui.”

“Dan Anda datang membawa tawaran menikah?”

Raka menunduk sesaat. Ketika berbicara lagi, suaranya lebih pelan.

“Perusahaan keluarga saya sedang berada dalam perebutan kendali. Kakek saya memegang saham terbesar. Beliau ingin saya menikah sebelum memberi kuasa untuk mengambil alih pengelolaan.”

“Lalu Anda memilih orang asing?”

“Saya ingin membuat kesepakatan dengan seseorang yang bersedia menetapkan batas sejak awal. Saya tidak ingin menjanjikan hubungan yang belum tentu bisa saya jalani.”

“Itu masih belum menjawab kenapa saya.”

Raka memandangi surat di tangan Alya.

“Saya datang untuk mencari jawaban tentang ibu kita. Setelah mengetahui keadaan rumah ini, saya berpikir kita mungkin bisa saling membantu.”

Alya melipat surat itu kembali.

“Saya bukan jalan keluar untuk urusan keluarga Anda.”

“Benar,” kata Raka. “Saya terlalu cepat menawarkan.”

Untuk beberapa saat, hanya suara hujan yang terdengar.

Alya mengambil lembar kedua. Kertasnya berbeda, lebih putih dan tampak seperti salinan dokumen resmi. Di bagian atas tertulis alamat rumahnya.

Di bawahnya ada dua nama.

Nama ibunya.

Dan seorang laki-laki bernama Hendra Adhitama.

Alya menunjuk nama tersebut.

“Siapa ini?”

Wajah Raka berubah.

“Ayah saya.”

Alya menarik kertas itu mendekat. Pada bagian bawah terdapat tanda tangan ibunya, tetapi bentuknya terasa asing. Huruf awalnya terlalu kecil. Garis akhirnya juga terputus.

Ia mengambil surat tagihan dari meja dan meletakkannya di samping dokumen itu.

Nama perusahaan pemberi pinjamannya sama.

“Raka,” katanya perlahan, “apa hubungan ayah Anda dengan utang rumah saya?”

Raka tidak segera menjawab. Ia menatap kedua lembar kertas itu, lalu mengeluarkan telepon.

Sebelum ia sempat menekan nomor, layar menyala.

Panggilan masuk dari Ayah.

Alya melihat nama itu. Raka melihatnya juga.

“Angkat,” kata Alya.

Raka menerima panggilan dan menyalakan pengeras suara.

Suara laki-laki terdengar dari seberang.

“Kamu sudah menemui anak Sulastri?”

Jari Alya mengencang pada tepi meja.

Raka menatapnya sebelum menjawab.

“Sudah. Kenapa Ayah tahu saya di sini?”

Ada jeda singkat.

“Pulang sekarang. Dan jangan tinggalkan dokumen apa pun di rumah itu.”