‹ Daftar isi · Jangan Jawab Suara Ibu

BAB 2

Seseorang di Depan Kamar

Laras menutup pintu kamar ibu sepelan mungkin.

Kuncinya keras. Ia harus mengangkat daun pintu sedikit sebelum anak kunci bisa diputar. Bunyi klik yang kecil itu membuatnya tersentak.

Di luar, sendok berhenti berdenting.

“Laras?”

Ia mundur.

Sandal diseret dari arah dapur. Srek. Diam sebentar. Srek.

Persis cara ibu berjalan sejak lutut kanannya sering sakit.

Laras merogoh ponsel. Sinyalnya satu garis. Ia membuka nomor Bu Ratih, menekan tombol panggil, lalu segera mengecilkan volume.

Tidak tersambung.

Langkah itu berhenti di depan kamar.

Tok. Tok. Tok.

“Kenapa dikunci?”

Laras menutup mulut dengan ujung kerudung. Air matanya mengalir tanpa ia sadari.

“Ibu cuma mau masuk.”

Bayangan gelap menutupi celah bawah pintu.

Laras memperhatikan lantai. Setetes air muncul dari celah itu, lalu tetes berikutnya. Airnya kecokelatan, membawa serpihan kecil yang menyerupai akar.

Bau tanah basah memenuhi kamar.

“Ras, Ibu kedinginan.”

Di balik pintu terdengar batuk pendek, kemudian napas yang berat. Laras mengenali semuanya. Bahkan cara suara itu menekan panggilan Ras, panggilan yang tidak pernah digunakan siapa pun selain ibu.

Tangannya bergerak menuju kunci.

Lalu sesuatu jatuh ke lantai di luar.

Duk.

Suara itu rendah dan berat, seolah seseorang baru meletakkan karung basah.

“Ibu capek berdiri.”

Laras menarik tangannya.

Ia duduk di sudut kamar sampai lututnya menempel ke dada. Di luar, gagang pintu turun perlahan, kembali naik, lalu turun lagi.

Menjelang subuh, suara itu akhirnya berhenti.

Sebelum langkahnya menjauh, terdengar bisikan begitu dekat dengan lubang kunci.

“Kamu sudah besar sekarang.”

Diam sesaat.

“Dulu lebih gampang.”