BAB 3
Kunci dari Kaleng Biskuit
Laras baru berani keluar setelah suara tukang sayur terdengar dari jalan.
Lorong kosong.
Lantai di depan kamar kering. Tidak ada lumpur, tidak ada bekas kaki. Di dapur, dua gelas teh berdiri di atas meja.
Laras menyentuh salah satunya.
Masih hangat.
Ia meninggalkan rumah tanpa mengganti pakaian.
Bu Ratih sedang menyapu teras ketika Laras masuk lewat pagar. Sapu itu terlepas begitu ia melihat wajah Laras.
“Kamu menjawab?”
Pertanyaan tersebut membuat tengkuk Laras menegang.
“Ibu tahu?”
“Jawab dulu.”
Laras menggeleng. “Tidak. Saya hampir—”
Bu Ratih menggenggam kedua bahunya dan membawanya masuk.
Rumah tetangganya berbau nasi baru matang. Radio kecil menyala di atas lemari. Suara penyiar yang membacakan berita membuat Laras mendadak ingin menangis. Semuanya begitu biasa. Begitu jauh dari dua gelas teh di rumahnya.
Bu Ratih mengambil kaleng biskuit dari rak.
Di dalamnya ada uang receh, beberapa kancing, dan sebuah kunci yang diikat benang merah.
“Ibumu menitipkan ini minggu lalu.”
“Untuk apa?”
“Lemari jahit.”
“Kenapa tidak diberikan kemarin?”
Bu Ratih mengusap wajah. “Dia bilang, berikan kalau kamu datang membawa cerita tentang panggilan.”
Laras menatap kunci di telapak tangannya.
“Kenapa Ibu saya menulis supaya saya jangan menjawab?”
Bu Ratih memalingkan muka ke jendela.
Di seberang jalan, rumah Laras tampak tenang. Tirai dapurnya bergerak pelan, padahal jendela itu tertutup.
“Dua puluh tahun lalu,” kata Bu Ratih, “adikmu menjawab suara yang sama.”
Lorong kosong.
Lantai di depan kamar kering. Tidak ada lumpur, tidak ada bekas kaki. Di dapur, dua gelas teh berdiri di atas meja.
Laras menyentuh salah satunya.
Masih hangat.
Ia meninggalkan rumah tanpa mengganti pakaian.
Bu Ratih sedang menyapu teras ketika Laras masuk lewat pagar. Sapu itu terlepas begitu ia melihat wajah Laras.
“Kamu menjawab?”
Pertanyaan tersebut membuat tengkuk Laras menegang.
“Ibu tahu?”
“Jawab dulu.”
Laras menggeleng. “Tidak. Saya hampir—”
Bu Ratih menggenggam kedua bahunya dan membawanya masuk.
Rumah tetangganya berbau nasi baru matang. Radio kecil menyala di atas lemari. Suara penyiar yang membacakan berita membuat Laras mendadak ingin menangis. Semuanya begitu biasa. Begitu jauh dari dua gelas teh di rumahnya.
Bu Ratih mengambil kaleng biskuit dari rak.
Di dalamnya ada uang receh, beberapa kancing, dan sebuah kunci yang diikat benang merah.
“Ibumu menitipkan ini minggu lalu.”
“Untuk apa?”
“Lemari jahit.”
“Kenapa tidak diberikan kemarin?”
Bu Ratih mengusap wajah. “Dia bilang, berikan kalau kamu datang membawa cerita tentang panggilan.”
Laras menatap kunci di telapak tangannya.
“Kenapa Ibu saya menulis supaya saya jangan menjawab?”
Bu Ratih memalingkan muka ke jendela.
Di seberang jalan, rumah Laras tampak tenang. Tirai dapurnya bergerak pelan, padahal jendela itu tertutup.
“Dua puluh tahun lalu,” kata Bu Ratih, “adikmu menjawab suara yang sama.”