‹ Daftar isi · Jangan Jawab Suara Ibu

BAB 4

Catatan Seorang Ibu

Lemari jahit terletak di ruang tengah, di samping mesin jahit tua yang kakinya mulai berkarat.

Laras masih ingat bersembunyi di bawah meja mesin itu ketika kecil. Ia akan menahan tawa, sementara Damar berkeliling rumah sambil menghitung keras-keras.

Satu. Dua. Tiga.

Ia berhenti mengingat.

Kunci berbenang merah membuka laci paling bawah.

Di dalamnya terdapat buku cokelat, amplop kosong, dan foto keluarga yang tepinya dimakan lembap.

Laras membuka buku itu.

12 November.

Tiga hari pencarian. Mereka bilang Damar hanyut. Tidak ada yang melihatnya ke sungai. Kenapa semua orang terus menyebut sungai?

Halaman berikutnya penuh coretan.

Damar memanggil dari belakang rumah malam ini.

Aku membawa lampu. Tidak ada siapa-siapa.

Dari dalam sumur, ia bilang lapar.

Laras menyandarkan punggung ke kursi.

Sejak kecil, ia selalu diberi tahu bahwa adiknya meninggal di sungai. Ibunya mengatakan hal itu dengan wajah yang sama setiap kali Laras bertanya: letih, tertutup, tidak bisa diganggu.

Ia membaca lagi.

Yang pulang membawa suara Damar. Tetapi ia tidak tahu lagu yang biasa kunyanyikan sebelum tidur.

Ketika kutanya, ia marah.

Semua pintu terbuka sendiri.

Pada halaman berikutnya, tulisan ibu berubah kecil-kecil.

Aku tetap mendengarkannya.

Aku tahu aku salah.

Dari dapur terdengar kursi bergeser.

Laras menoleh.

Di rumah yang sudah terang oleh matahari itu, untuk sesaat ia mencium teh melati.