BAB 5
Garis di Dinding
Kunci kedua ditemukan dalam kantong kain di sampul belakang buku.
Laras langsung mengenal bentuknya.
Kamar Damar.
Sejak adiknya hilang, pintu itu selalu dikunci. Ibu membersihkannya sendiri. Ketika Laras bertanya mengapa ia tak boleh masuk, ibu hanya berkata bahwa barang-barang Damar mudah rusak.
Kuncinya berputar dengan ringan.
Udara dingin menyentuh wajah Laras.
Kamar itu berbau bedak anak dan lemari yang terlalu lama tertutup. Sebuah seragam kecil tergantung di belakang pintu. Di atas ranjang, selimut bergambar kapal terlipat rapi.
Laras menyentuh ujungnya.
Ia ingat pernah berebut selimut itu dengan Damar saat hujan. Adiknya akan menarik seluruh kain ke tubuhnya, lalu tertawa ketika Laras pura-pura menggigil.
Di dekat lemari, garis-garis pensil tersusun pada dinding.
Pengukur tinggi badan.
Laras membaca tanggal di bawah garis pertama. Lalu garis berikutnya.
Jarinya berhenti.
Garis paling tinggi dibuat tujuh tahun setelah Damar menghilang.
Di bawahnya, ibu menulis:
Damar minta diukur lagi.
Pintu kamar bergerak menutup.
Laras berbalik cepat dan menahannya dengan kaki.
Dari dalam lemari terdengar bunyi kuku menggesek kayu.
Sekali.
Lalu tiga kali, lebih cepat.
“Mbak.”
Laras merasakan otot-otot di punggungnya menegang.
Suara itu kecil dan serak, seperti anak yang baru bangun tidur.
“Mbak, aku sudah tinggi.”
Di bawah lemari, sepasang telapak kaki basah perlahan muncul dalam gelap.
Laras keluar sebelum pintunya terbuka.
Laras langsung mengenal bentuknya.
Kamar Damar.
Sejak adiknya hilang, pintu itu selalu dikunci. Ibu membersihkannya sendiri. Ketika Laras bertanya mengapa ia tak boleh masuk, ibu hanya berkata bahwa barang-barang Damar mudah rusak.
Kuncinya berputar dengan ringan.
Udara dingin menyentuh wajah Laras.
Kamar itu berbau bedak anak dan lemari yang terlalu lama tertutup. Sebuah seragam kecil tergantung di belakang pintu. Di atas ranjang, selimut bergambar kapal terlipat rapi.
Laras menyentuh ujungnya.
Ia ingat pernah berebut selimut itu dengan Damar saat hujan. Adiknya akan menarik seluruh kain ke tubuhnya, lalu tertawa ketika Laras pura-pura menggigil.
Di dekat lemari, garis-garis pensil tersusun pada dinding.
Pengukur tinggi badan.
Laras membaca tanggal di bawah garis pertama. Lalu garis berikutnya.
Jarinya berhenti.
Garis paling tinggi dibuat tujuh tahun setelah Damar menghilang.
Di bawahnya, ibu menulis:
Damar minta diukur lagi.
Pintu kamar bergerak menutup.
Laras berbalik cepat dan menahannya dengan kaki.
Dari dalam lemari terdengar bunyi kuku menggesek kayu.
Sekali.
Lalu tiga kali, lebih cepat.
“Mbak.”
Laras merasakan otot-otot di punggungnya menegang.
Suara itu kecil dan serak, seperti anak yang baru bangun tidur.
“Mbak, aku sudah tinggi.”
Di bawah lemari, sepasang telapak kaki basah perlahan muncul dalam gelap.
Laras keluar sebelum pintunya terbuka.