BAB 3
Syarat dari Alya
Raka tidak mematikan pengeras suara.
“Dokumen yang mana, Yah?”
“Jangan mulai berdebat. Pulang.”
“Di sini ada salinan surat dengan nama Ayah dan tanda tangan Bu Sulastri.”
Alya menahan napas. Di seberang terdengar suara kursi bergeser.
“Kamu tidak mengerti urusannya.”
“Kalau begitu, jelaskan.”
“Bukan lewat telepon.”
Panggilan terputus.
Raka masih memegang telepon ketika Alya menarik kedua surat ke sisinya. Ia memasukkannya kembali ke amplop, lalu berdiri.
“Sepuluh menit Anda sudah habis.”
“Alya—”
“Saya perlu waktu untuk memahami ini. Sendiri.”
Raka memandang amplop itu, tetapi tidak berusaha mengambilnya.
“Boleh saya memotretnya?”
“Tidak sekarang.”
“Baik.”
Jawaban singkat itu membuat Alya menatapnya. Ia sudah bersiap menghadapi bantahan.
Raka mengeluarkan kartu nama dan meletakkannya di ujung meja.
“Simpan dokumennya. Kalau ada orang yang datang meminta tanda tangan, jangan merasa harus menerima hanya karena mereka menyebut nama saya.”
“Termasuk Anda?”
“Termasuk saya.”
Setelah Raka pergi, Alya mengunci pintu dua kali.
Ia membawa amplop ke kamar ibunya. Lemari di sudut ruangan masih berbau kapur barus dan sabun melati. Selama hampir setahun, Alya hanya membukanya untuk membersihkan debu.
Di laci paling bawah, ia menemukan map berisi ijazah, kuitansi rumah sakit, dan beberapa surat tanah. Ia membentangkannya di lantai.
Tanda tangan ibunya muncul di banyak halaman.
Alya membandingkannya dengan salinan yang dibawa Raka. Ia memiringkan kertas, mencoba meyakinkan dirinya bahwa perbedaan itu sekadar akibat hasil fotokopi.
Tetap terasa salah.
Namun, ia juga tahu perasaan tidak cukup untuk membuktikan apa pun.
Ia memotret kedua dokumen, menyimpannya dalam folder terpisah, lalu menghubungi Dita.
Sahabatnya itu bekerja sebagai staf administrasi di sebuah kantor hukum.
“Kamu masih di kantor?” tanya Alya.
“Sebentar lagi pulang. Kenapa?”
“Aku perlu orang yang bisa memeriksa dokumen rumah. Bukan cuma melihat tanda tangannya.”
Nada Dita berubah serius.
“Kamu diminta menandatangani sesuatu?”
“Belum.”
“Bagus. Jangan dulu. Besok pagi aku tanyakan apakah ada jadwal konsultasi yang kosong.”
Alya menutup telepon setelah mengucapkan terima kasih.
Di layar, sebuah pesan dari nomor baru masuk.
Ini Raka. Saya sudah memberi tahu ayah saya bahwa surat itu tetap bersama Anda. Saya tidak akan memberikan nomor Anda kepadanya.
Alya membaca pesan itu sambil duduk di lantai. Ia hendak membalas ketika pesan kedua muncul.
Tawaran tadi tidak mengikat apa pun. Anda tidak berutang jawaban kepada saya.
Untuk pertama kalinya sejak kedatangan Raka, bahu Alya sedikit mengendur.
Ia mengetik pelan.
Saya belum menerima tawaran Anda. Besok saya akan meminta pendapat dari pihak lain tentang dokumen ini.
Balasan datang beberapa menit kemudian.
Itu keputusan yang tepat.
***
Keesokan paginya, Dita menunggu Alya di depan kantor sambil membawa dua gelas kopi.
“Sekarang ceritakan dari awal,” katanya.
Alya menceritakan surat tagihan, amplop ibunya, hingga telepon dari ayah Raka.
Dita tidak menyela. Namun, ketika Alya menyebut tawaran pernikahan, gelas kopinya berhenti di tengah jalan.
“Dia menawarkan apa?”
“Aku sudah menolak.”
“Bagus.”
“Aku juga tidak tahu apakah semua yang dia katakan benar.”
“Lebih bagus lagi kamu menyadarinya.”
Konsultasi berlangsung hampir satu jam. Alya keluar membawa daftar dokumen yang perlu diminta dan catatan tentang hal-hal yang belum dapat disimpulkan.
Salinan yang dibawa Raka tidak cukup untuk menentukan keabsahan utang. Mereka perlu melihat dasar perjanjian, riwayatnya, dan dokumen asli yang berkaitan.
Tidak ada jawaban ajaib. Tidak ada kalimat yang langsung menyelamatkan rumahnya.
Tetapi Alya tahu apa yang harus dilakukan berikutnya.
Di depan kantor, ia menghubungi Raka.
“Saya ingin bertemu.”
“Di mana?”
“Kedai kopi dekat kantor hukum di Jalan Cendana. Jam dua. Saya datang bersama teman.”
“Baik.”
“Dan jangan membawa dokumen pernikahan.”
Ada jeda singkat.
“Saya mengerti.”
***
Raka tiba lima menit lebih awal. Kali ini ia mengenakan kemeja sederhana, tanpa jas. Ketika Alya dan Dita datang, ia berdiri dan memperkenalkan diri kepada keduanya.
Alya meletakkan buku catatan di meja.
“Saya punya syarat.”
Raka tidak bergerak meraih pena.
“Saya dengarkan.”
“Pertama, urusan utang rumah ini harus diperiksa terpisah dari tawaran Anda. Saya tidak akan menikah hanya karena takut kehilangan rumah.”
“Setuju.”
“Kedua, saya ingin salinan dokumen lain yang menyebut ibu saya. Yang memang boleh Anda berikan. Kalau ada yang tidak bisa dibuka, katakan terus terang.”
Raka mengangguk.
“Ketiga, jangan menghubungi orang-orang di sekitar saya untuk membujuk saya.”
“Saya tidak akan melakukannya.”
Dita memperhatikan Raka sebelum ikut berbicara.
“Dan kalau Alya memutuskan tidak melanjutkan pembicaraan, keputusan itu harus dihormati.”
“Ya.”
Alya menutup bukunya.
“Ini bukan persetujuan menikah.”
“Saya paham.”
Raka mengeluarkan sebuah map tipis.
“Ada sesuatu yang perlu Anda lihat sebelum kita bicara lebih jauh.”
Alya tidak langsung menyentuhnya.
“Dari mana?”
“Arsip usaha lama ibu saya. Saya mencarinya tadi malam.”
Di dalam map ada salinan daftar pembayaran. Nama Sulastri tercantum beberapa kali, bersama jumlah uang dan tanggal penerimaan.
Pada bagian keterangan tertulis dua kata:
Pembagian keuntungan.
Alya mengangkat wajah.
“Ibu saya bekerja untuk keluarga Anda?”
Raka menggeleng pelan.
“Sepertinya bukan sebagai pegawai.”
Ia menunjuk nama usaha di bagian atas halaman.
Ratih & Sulastri Florist.
Alya teringat toko bunga dalam foto. Bangku di seberang jalan. Ibunya yang menangis dengan seikat sedap malam di pangkuan.
Lalu ia melihat tanggal pembayaran terakhir.
Hari itu sama dengan tanggal pada surat yang berisi penolakan ibunya.
“Ada berkas setelah tanggal ini?” tanyanya.
Raka mengeluarkan satu lembar lagi, tetapi sebelum menyerahkannya, ia menatap Alya.
“Ada.”
Alya mengambil kertas tersebut.
Di sana tertulis bahwa seluruh bagian usaha milik Sulastri telah dialihkan.
Penerimanya adalah Hendra Adhitama.
Dan di bawah nama ibunya, kembali muncul tanda tangan yang tidak Alya kenali.
“Dokumen yang mana, Yah?”
“Jangan mulai berdebat. Pulang.”
“Di sini ada salinan surat dengan nama Ayah dan tanda tangan Bu Sulastri.”
Alya menahan napas. Di seberang terdengar suara kursi bergeser.
“Kamu tidak mengerti urusannya.”
“Kalau begitu, jelaskan.”
“Bukan lewat telepon.”
Panggilan terputus.
Raka masih memegang telepon ketika Alya menarik kedua surat ke sisinya. Ia memasukkannya kembali ke amplop, lalu berdiri.
“Sepuluh menit Anda sudah habis.”
“Alya—”
“Saya perlu waktu untuk memahami ini. Sendiri.”
Raka memandang amplop itu, tetapi tidak berusaha mengambilnya.
“Boleh saya memotretnya?”
“Tidak sekarang.”
“Baik.”
Jawaban singkat itu membuat Alya menatapnya. Ia sudah bersiap menghadapi bantahan.
Raka mengeluarkan kartu nama dan meletakkannya di ujung meja.
“Simpan dokumennya. Kalau ada orang yang datang meminta tanda tangan, jangan merasa harus menerima hanya karena mereka menyebut nama saya.”
“Termasuk Anda?”
“Termasuk saya.”
Setelah Raka pergi, Alya mengunci pintu dua kali.
Ia membawa amplop ke kamar ibunya. Lemari di sudut ruangan masih berbau kapur barus dan sabun melati. Selama hampir setahun, Alya hanya membukanya untuk membersihkan debu.
Di laci paling bawah, ia menemukan map berisi ijazah, kuitansi rumah sakit, dan beberapa surat tanah. Ia membentangkannya di lantai.
Tanda tangan ibunya muncul di banyak halaman.
Alya membandingkannya dengan salinan yang dibawa Raka. Ia memiringkan kertas, mencoba meyakinkan dirinya bahwa perbedaan itu sekadar akibat hasil fotokopi.
Tetap terasa salah.
Namun, ia juga tahu perasaan tidak cukup untuk membuktikan apa pun.
Ia memotret kedua dokumen, menyimpannya dalam folder terpisah, lalu menghubungi Dita.
Sahabatnya itu bekerja sebagai staf administrasi di sebuah kantor hukum.
“Kamu masih di kantor?” tanya Alya.
“Sebentar lagi pulang. Kenapa?”
“Aku perlu orang yang bisa memeriksa dokumen rumah. Bukan cuma melihat tanda tangannya.”
Nada Dita berubah serius.
“Kamu diminta menandatangani sesuatu?”
“Belum.”
“Bagus. Jangan dulu. Besok pagi aku tanyakan apakah ada jadwal konsultasi yang kosong.”
Alya menutup telepon setelah mengucapkan terima kasih.
Di layar, sebuah pesan dari nomor baru masuk.
Ini Raka. Saya sudah memberi tahu ayah saya bahwa surat itu tetap bersama Anda. Saya tidak akan memberikan nomor Anda kepadanya.
Alya membaca pesan itu sambil duduk di lantai. Ia hendak membalas ketika pesan kedua muncul.
Tawaran tadi tidak mengikat apa pun. Anda tidak berutang jawaban kepada saya.
Untuk pertama kalinya sejak kedatangan Raka, bahu Alya sedikit mengendur.
Ia mengetik pelan.
Saya belum menerima tawaran Anda. Besok saya akan meminta pendapat dari pihak lain tentang dokumen ini.
Balasan datang beberapa menit kemudian.
Itu keputusan yang tepat.
***
Keesokan paginya, Dita menunggu Alya di depan kantor sambil membawa dua gelas kopi.
“Sekarang ceritakan dari awal,” katanya.
Alya menceritakan surat tagihan, amplop ibunya, hingga telepon dari ayah Raka.
Dita tidak menyela. Namun, ketika Alya menyebut tawaran pernikahan, gelas kopinya berhenti di tengah jalan.
“Dia menawarkan apa?”
“Aku sudah menolak.”
“Bagus.”
“Aku juga tidak tahu apakah semua yang dia katakan benar.”
“Lebih bagus lagi kamu menyadarinya.”
Konsultasi berlangsung hampir satu jam. Alya keluar membawa daftar dokumen yang perlu diminta dan catatan tentang hal-hal yang belum dapat disimpulkan.
Salinan yang dibawa Raka tidak cukup untuk menentukan keabsahan utang. Mereka perlu melihat dasar perjanjian, riwayatnya, dan dokumen asli yang berkaitan.
Tidak ada jawaban ajaib. Tidak ada kalimat yang langsung menyelamatkan rumahnya.
Tetapi Alya tahu apa yang harus dilakukan berikutnya.
Di depan kantor, ia menghubungi Raka.
“Saya ingin bertemu.”
“Di mana?”
“Kedai kopi dekat kantor hukum di Jalan Cendana. Jam dua. Saya datang bersama teman.”
“Baik.”
“Dan jangan membawa dokumen pernikahan.”
Ada jeda singkat.
“Saya mengerti.”
***
Raka tiba lima menit lebih awal. Kali ini ia mengenakan kemeja sederhana, tanpa jas. Ketika Alya dan Dita datang, ia berdiri dan memperkenalkan diri kepada keduanya.
Alya meletakkan buku catatan di meja.
“Saya punya syarat.”
Raka tidak bergerak meraih pena.
“Saya dengarkan.”
“Pertama, urusan utang rumah ini harus diperiksa terpisah dari tawaran Anda. Saya tidak akan menikah hanya karena takut kehilangan rumah.”
“Setuju.”
“Kedua, saya ingin salinan dokumen lain yang menyebut ibu saya. Yang memang boleh Anda berikan. Kalau ada yang tidak bisa dibuka, katakan terus terang.”
Raka mengangguk.
“Ketiga, jangan menghubungi orang-orang di sekitar saya untuk membujuk saya.”
“Saya tidak akan melakukannya.”
Dita memperhatikan Raka sebelum ikut berbicara.
“Dan kalau Alya memutuskan tidak melanjutkan pembicaraan, keputusan itu harus dihormati.”
“Ya.”
Alya menutup bukunya.
“Ini bukan persetujuan menikah.”
“Saya paham.”
Raka mengeluarkan sebuah map tipis.
“Ada sesuatu yang perlu Anda lihat sebelum kita bicara lebih jauh.”
Alya tidak langsung menyentuhnya.
“Dari mana?”
“Arsip usaha lama ibu saya. Saya mencarinya tadi malam.”
Di dalam map ada salinan daftar pembayaran. Nama Sulastri tercantum beberapa kali, bersama jumlah uang dan tanggal penerimaan.
Pada bagian keterangan tertulis dua kata:
Pembagian keuntungan.
Alya mengangkat wajah.
“Ibu saya bekerja untuk keluarga Anda?”
Raka menggeleng pelan.
“Sepertinya bukan sebagai pegawai.”
Ia menunjuk nama usaha di bagian atas halaman.
Ratih & Sulastri Florist.
Alya teringat toko bunga dalam foto. Bangku di seberang jalan. Ibunya yang menangis dengan seikat sedap malam di pangkuan.
Lalu ia melihat tanggal pembayaran terakhir.
Hari itu sama dengan tanggal pada surat yang berisi penolakan ibunya.
“Ada berkas setelah tanggal ini?” tanyanya.
Raka mengeluarkan satu lembar lagi, tetapi sebelum menyerahkannya, ia menatap Alya.
“Ada.”
Alya mengambil kertas tersebut.
Di sana tertulis bahwa seluruh bagian usaha milik Sulastri telah dialihkan.
Penerimanya adalah Hendra Adhitama.
Dan di bawah nama ibunya, kembali muncul tanda tangan yang tidak Alya kenali.