BAB 1
KUNCI YANG MASIH HANGAT
Sopir mobil sewaan itu menolak masuk lebih jauh.
“Dari sini kelihatan rumahnya, Mbak.”
Rarasati menatap jalan tanah di balik kaca. Hujan baru berhenti. Dua bekas roda membentuk parit kecil yang dipenuhi air cokelat, membelah kebun bambu menuju sebuah bangunan beratap tinggi.
“Masih sekitar tiga ratus meter.”
“Iya.”
Laki-laki itu tidak menjelaskan apa-apa lagi. Tangannya tetap mencengkeram setir.
Rarasati akhirnya turun.
Begitu pintu mobil tertutup, udara lembap langsung melekat di tengkuknya. Bau tanah basah bercampur sesuatu yang lebih tua: kayu lapuk, daun membusuk, dan air yang terlalu lama terkurung di tempat gelap.
Mobil itu berputar sebelum ia sempat mengangkat koper.
Di ujung jalan, rumah peninggalan ibunya berdiri di antara dua pohon sawo. Jendela-jendelanya tinggi dan sempit. Sebagian tertutup papan dari dalam. Lumut menghitam di sepanjang dinding bawah, membentuk garis setinggi pinggang orang dewasa.
Rarasati berhenti di depan pagar.
Ada orang di beranda.
Seorang lelaki tua bertubuh kurus sedang duduk di kursi rotan, mengenakan kemeja putih yang warnanya sudah menyerupai air cucian beras.
“Mbak Rarasati?”
“Iya. Pak Wirasena?”
Lelaki itu mengangguk.
Ibunya pernah menyebut nama itu dalam surat terakhir: penjaga rumah yang akan menyerahkan kunci jika Rarasati memutuskan pulang.
“Saya kira rumahnya kosong.”
“Memang kosong.”
Rarasati memandang kursi, cangkir, dan sepasang sandal di bawah kaki lelaki itu.
Pak Wirasena bangkit perlahan, lalu meletakkan sebuah kunci kuningan di telapak tangannya.
Kunci itu hangat.
Bukan hangat karena digenggam seseorang.
Rasanya seperti baru diangkat dari dekat api.
“Adik saya menyusul besok,” kata Rarasati. “Kami paling lama tiga hari di sini.”
Mendengar kata adik, wajah Pak Wirasena berubah.
Ia melirik pintu utama.
“Kalau tidur, pilih kamar depan. Jangan membuka kamar di lorong belakang.”
“Kenapa?”
“Engselnya rusak.”
Jawaban itu terlalu cepat.
Sebelum Rarasati sempat bertanya lagi, lelaki tua itu sudah berjalan menuruni tangga beranda.
“Pak, ada listrik?”
“Ada.”
“Air?”
“Ada.”
Pak Wirasena berhenti di pagar.
“Kalau menjelang subuh ada yang menghitung dari belakang pintu, jangan ikut menghitung.”
Angin menggesekkan rumpun bambu.
Rarasati menunggu lelaki itu tersenyum.
Ia tidak tersenyum.
Di dalam rumah, sesuatu jatuh.
Bunyinya kecil.
Seperti kunci lain yang baru saja diletakkan di lantai.
“Dari sini kelihatan rumahnya, Mbak.”
Rarasati menatap jalan tanah di balik kaca. Hujan baru berhenti. Dua bekas roda membentuk parit kecil yang dipenuhi air cokelat, membelah kebun bambu menuju sebuah bangunan beratap tinggi.
“Masih sekitar tiga ratus meter.”
“Iya.”
Laki-laki itu tidak menjelaskan apa-apa lagi. Tangannya tetap mencengkeram setir.
Rarasati akhirnya turun.
Begitu pintu mobil tertutup, udara lembap langsung melekat di tengkuknya. Bau tanah basah bercampur sesuatu yang lebih tua: kayu lapuk, daun membusuk, dan air yang terlalu lama terkurung di tempat gelap.
Mobil itu berputar sebelum ia sempat mengangkat koper.
Di ujung jalan, rumah peninggalan ibunya berdiri di antara dua pohon sawo. Jendela-jendelanya tinggi dan sempit. Sebagian tertutup papan dari dalam. Lumut menghitam di sepanjang dinding bawah, membentuk garis setinggi pinggang orang dewasa.
Rarasati berhenti di depan pagar.
Ada orang di beranda.
Seorang lelaki tua bertubuh kurus sedang duduk di kursi rotan, mengenakan kemeja putih yang warnanya sudah menyerupai air cucian beras.
“Mbak Rarasati?”
“Iya. Pak Wirasena?”
Lelaki itu mengangguk.
Ibunya pernah menyebut nama itu dalam surat terakhir: penjaga rumah yang akan menyerahkan kunci jika Rarasati memutuskan pulang.
“Saya kira rumahnya kosong.”
“Memang kosong.”
Rarasati memandang kursi, cangkir, dan sepasang sandal di bawah kaki lelaki itu.
Pak Wirasena bangkit perlahan, lalu meletakkan sebuah kunci kuningan di telapak tangannya.
Kunci itu hangat.
Bukan hangat karena digenggam seseorang.
Rasanya seperti baru diangkat dari dekat api.
“Adik saya menyusul besok,” kata Rarasati. “Kami paling lama tiga hari di sini.”
Mendengar kata adik, wajah Pak Wirasena berubah.
Ia melirik pintu utama.
“Kalau tidur, pilih kamar depan. Jangan membuka kamar di lorong belakang.”
“Kenapa?”
“Engselnya rusak.”
Jawaban itu terlalu cepat.
Sebelum Rarasati sempat bertanya lagi, lelaki tua itu sudah berjalan menuruni tangga beranda.
“Pak, ada listrik?”
“Ada.”
“Air?”
“Ada.”
Pak Wirasena berhenti di pagar.
“Kalau menjelang subuh ada yang menghitung dari belakang pintu, jangan ikut menghitung.”
Angin menggesekkan rumpun bambu.
Rarasati menunggu lelaki itu tersenyum.
Ia tidak tersenyum.
Di dalam rumah, sesuatu jatuh.
Bunyinya kecil.
Seperti kunci lain yang baru saja diletakkan di lantai.