‹ Daftar isi · Penghuni Terakhir Sebelum Subuh

BAB 2

LANGKAH DI ATAS KEPALA

Rumah itu terasa lebih luas setelah pintunya ditutup.

Dari luar, Rarasati hanya melihat bangunan tua dengan beranda dan beberapa jendela. Di dalam, ada ruang tamu, ruang tengah, ruang makan, dan lorong panjang yang seolah memanjang setiap kali disinari senter.

Listrik menyala, tetapi cahayanya kekuningan.

Kipas di ruang tengah berputar pelan tanpa menghasilkan angin.

Di dinding tergantung foto keluarga. Wajah ibunya, Sekarini, masih sangat muda. Di sebelahnya berdiri seorang laki-laki berkumis tebal yang tidak Rarasati kenal. Bagian foto di antara mereka rusak, seperti pernah digosok menggunakan benda tajam.

Ia memilih kamar depan.

Kasurnya keras. Seprai berbau kapur barus. Ketika duduk, debu halus melayang dari bantal dan membuat hidungnya gatal.

Daniswara menelepon pukul sembilan malam.

“Sudah sampai, Mbak?”

“Sudah. Besok jangan terlalu sore.”

“Rumahnya seram?”

“Rumah tua.”

“Berarti seram.”

Rarasati hampir tertawa.

Suara adiknya membuat ruangan itu terasa biasa kembali. Mereka membicarakan surat tanah, calon pembeli, dan utang pengobatan ibu yang belum lunas.

Setelah telepon ditutup, keheningan datang begitu cepat sampai telinganya terasa tersumbat.

Pukul dua lewat, ia terbangun oleh suara langkah.

Pelan.

Berat.

Berjalan tepat di atas kepalanya.

Rarasati membuka mata.

Plafon kamar tersusun dari papan putih yang sudah menguning. Di salah satu sudut ada noda berbentuk telapak tangan.

Langkah itu bergerak dari ujung kamar menuju pintu.

Berhenti.

Lalu kembali.

Ia bangun dan menyalakan lampu.

Rumah ini tidak punya lantai dua.

Rarasati mengambil ponsel. Tidak ada sinyal. Jam menunjukkan 03.17.

Dari luar kamar terdengar bunyi gesekan.

Sesuatu diseret sepanjang lorong.

Ia mendekati pintu, tetapi teringat pesan Pak Wirasena.

Beberapa saat tidak terjadi apa-apa.

Kemudian seseorang berbisik dari sisi lain.

“Satu.”

Rarasati menahan napas.

“Dua.”

Suaranya tipis, seperti anak kecil yang berbicara dengan mulut menempel pada kayu.

“Tiga.”

Gagang pintu turun sedikit.

Rarasati mundur.

Hitungan itu berlanjut sampai dua belas.

Sesudahnya, ada jeda panjang.

Begitu panjang hingga ia mulai mendengar detak jantungnya sendiri.

Lalu suara itu bertanya:

“Yang satu lagi tidur di mana?”