BAB 3
BEKAS AIR DI DINDING
Pagi membuat rumah itu tampak nyaris tidak berbahaya.
Cahaya masuk melalui kaca berdebu. Burung berkicau di pohon sawo. Dari kejauhan terdengar sepeda motor dan seseorang menawarkan sayur.
Rarasati berdiri di depan pintu kamarnya.
Tidak ada orang.
Namun, lantai di luar basah.
Dua belas pasang jejak kaki kecil mengarah dari lorong belakang dan berhenti di depan pintunya. Tidak satu pun menunjukkan arah kembali.
Ia memotret semuanya.
Di layar ponsel, lantainya terlihat kering.
Rarasati menurunkan ponsel perlahan.
Air masih mengilap di bawah kakinya.
Ia keluar mencari Pak Wirasena, tetapi beranda kosong. Cangkir semalam masih berada di meja. Ketika disentuh, bagian dalamnya dipenuhi tanah kering.
Warung terdekat berada di pertigaan desa.
Perempuan pemiliknya memperkenalkan diri sebagai Rukmini. Ia sedang membungkus nasi ketika Rarasati menyebut nama rumah itu.
Tangannya berhenti.
“Rumah keluarga Wiradana?”
“Saya cucunya, mungkin. Saya tidak pernah tahu nama kakek.”
Bu Rukmini memandang wajahnya lebih saksama.
“Anaknya Sekarini?”
Rarasati mengangguk.
Perempuan itu menarik napas pendek, lalu menyodorkan kursi.
Ketika Rarasati bertanya tentang Pak Wirasena, Bu Rukmini tidak langsung menjawab.
“Yang menjaga rumah itu dulu memang namanya Wirasena.”
“Sekarang juga masih.”
Bu Rukmini menatap jalan di belakang Rarasati.
“Suami saya yang ikut mengangkat petinya, Mbak.”
Suara radio di rak terasa mendadak terlalu keras.
“Beliau meninggal kapan?”
“Tujuh belas tahun lalu.”
Rarasati berusaha mengingat wajah lelaki tua semalam. Kerutan di pipi. Kuku yang menghitam. Bau kapur barus ketika ia mendekat.
“Mungkin orang lain yang namanya sama.”
Bu Rukmini berdiri dan mengambil foto dari laci. Foto pemakaman. Orang-orang membawa peti melewati jalan desa.
Di sudut bawah tertulis nama Wirasena.
Rarasati mengenali wajah pada bingkai kecil di depan peti.
Saat ia kembali ke rumah, Pak Wirasena sudah duduk di beranda.
Lelaki itu memandang sepatunya yang berlumpur.
“Sudah sarapan, Mbak?”
Rarasati tidak menjawab.
Di belakang kursi rotan, garis bekas air pada dinding tampak lebih tinggi daripada kemarin.
Cahaya masuk melalui kaca berdebu. Burung berkicau di pohon sawo. Dari kejauhan terdengar sepeda motor dan seseorang menawarkan sayur.
Rarasati berdiri di depan pintu kamarnya.
Tidak ada orang.
Namun, lantai di luar basah.
Dua belas pasang jejak kaki kecil mengarah dari lorong belakang dan berhenti di depan pintunya. Tidak satu pun menunjukkan arah kembali.
Ia memotret semuanya.
Di layar ponsel, lantainya terlihat kering.
Rarasati menurunkan ponsel perlahan.
Air masih mengilap di bawah kakinya.
Ia keluar mencari Pak Wirasena, tetapi beranda kosong. Cangkir semalam masih berada di meja. Ketika disentuh, bagian dalamnya dipenuhi tanah kering.
Warung terdekat berada di pertigaan desa.
Perempuan pemiliknya memperkenalkan diri sebagai Rukmini. Ia sedang membungkus nasi ketika Rarasati menyebut nama rumah itu.
Tangannya berhenti.
“Rumah keluarga Wiradana?”
“Saya cucunya, mungkin. Saya tidak pernah tahu nama kakek.”
Bu Rukmini memandang wajahnya lebih saksama.
“Anaknya Sekarini?”
Rarasati mengangguk.
Perempuan itu menarik napas pendek, lalu menyodorkan kursi.
Ketika Rarasati bertanya tentang Pak Wirasena, Bu Rukmini tidak langsung menjawab.
“Yang menjaga rumah itu dulu memang namanya Wirasena.”
“Sekarang juga masih.”
Bu Rukmini menatap jalan di belakang Rarasati.
“Suami saya yang ikut mengangkat petinya, Mbak.”
Suara radio di rak terasa mendadak terlalu keras.
“Beliau meninggal kapan?”
“Tujuh belas tahun lalu.”
Rarasati berusaha mengingat wajah lelaki tua semalam. Kerutan di pipi. Kuku yang menghitam. Bau kapur barus ketika ia mendekat.
“Mungkin orang lain yang namanya sama.”
Bu Rukmini berdiri dan mengambil foto dari laci. Foto pemakaman. Orang-orang membawa peti melewati jalan desa.
Di sudut bawah tertulis nama Wirasena.
Rarasati mengenali wajah pada bingkai kecil di depan peti.
Saat ia kembali ke rumah, Pak Wirasena sudah duduk di beranda.
Lelaki itu memandang sepatunya yang berlumpur.
“Sudah sarapan, Mbak?”
Rarasati tidak menjawab.
Di belakang kursi rotan, garis bekas air pada dinding tampak lebih tinggi daripada kemarin.