‹ Daftar isi · Penghuni Terakhir Sebelum Subuh

BAB 4

ADIK YANG DATANG SORE HARI

Daniswara datang ketika langit mulai berwarna tembaga.

Ia turun dari ojek sambil membawa ransel, dua bungkus makanan, dan kebiasaannya menganggap segala sesuatu bisa diselesaikan setelah makan.

“Muka Mbak kayak habis lihat orang mati.”

Rarasati memandang beranda.

Kursi rotan kosong.

“Aku memang mungkin melihatnya.”

Di meja makan, ia menceritakan semuanya.

Daniswara mendengarkan tanpa menyela, lalu meminta ditunjukkan foto lantai basah. Ia memperbesar gambarnya, mengatur kecerahan, kemudian mengembalikan ponsel.

“Bisa jadi Mbak kurang tidur.”

“Jejaknya ada di depan mataku.”

“Aku percaya Mbak melihat sesuatu.”

Cara ia mengatakan itu membuat Rarasati kesal, tetapi ia terlalu lelah untuk berdebat.

Mereka memeriksa rumah bersama.

Di ujung lorong belakang terdapat sebuah pintu hitam dengan kait besi. Berbeda dari pintu lain, bagian bawahnya dilapisi seng.

Daniswara menyorot engselnya.

“Katanya rusak?”

“Jangan dibuka.”

“Aku cuma lihat.”

Di kayu dekat gagang ada goresan-goresan pendek, tersusun dalam kelompok. Daniswara mendekatkan wajah.

“Ini tulisan.”

Rarasati melihatnya.

Bukan tulisan yang dibuat menggunakan pensil.

Huruf-huruf itu dicungkil dengan sesuatu yang kecil.

SULASTRI

Di bawahnya ada nama lain, tetapi tertutup cat.

Dari balik pintu terdengar suara tetesan.

Daniswara mundur.

“Pipa bocor?”

Rumah itu mendadak berderit panjang.

Mereka kembali ke depan.

Malamnya, Daniswara menidurkan diri di kamar seberang. Sebelum masuk, ia mengetuk dua kali dinding pemisah.

Dua ketukan itu kebiasaan mereka sejak kecil, ketika ibu pulang terlambat dan mereka saling memastikan masih terjaga.

Rarasati membalas dua kali.

Ia baru saja memejamkan mata ketika mendengar adiknya tertawa di lorong.

“Lho, Ibu?”

Darah Rarasati terasa berhenti.

Ia melompat turun dari tempat tidur.

“Dani, jangan!”

Ketika pintu dibuka, lorong sudah kosong.

Dari arah belakang, kait besi berbunyi.

Satu kali.

Lalu sebuah pintu menutup pelan.