‹ Daftar isi · Penghuni Terakhir Sebelum Subuh

BAB 5

NAMA YANG HILANG

Ransel Daniswara masih berada di kamar.

Ponselnya tergeletak di atas bantal.

Makanan yang belum dihabiskannya ada di meja.

Tetapi adiknya tidak ditemukan.

Rarasati menggedor pintu hitam hingga sisi tangannya memerah.

“Dani!”

Kayu itu dingin.

Begitu dingin sampai telapak tangannya sakit.

Ia mencoba kunci kuningan. Tidak masuk. Ia mencari palu, pisau dapur, apa pun yang dapat digunakan untuk merusak kait. Besinya tidak bergerak sedikit pun.

Menjelang pagi, ia berlari ke warung Bu Rukmini.

“Adik saya hilang.”

Perempuan itu mengerutkan dahi.

“Adik yang mana?”

“Daniswara. Datang kemarin sore.”

Bu Rukmini menatapnya dengan wajah bingung yang terlalu jujur untuk menjadi kebohongan.

“Bukannya Mbak anak tunggal?”

Rarasati merasa perutnya mengempis.

Ia menelepon bibi di kota.

Jawabannya sama.

“Raras, kamu tidak punya adik.”

Ia membuka galeri ponsel.

Foto mereka berdua saat wisuda masih ada, tetapi Daniswara tidak lagi berdiri di sampingnya. Hanya tersisa ruang kosong antara tubuh Rarasati dan pohon di belakang.

Foto ulang tahun ibu memperlihatkan tiga gelas, dua piring, dan satu kursi yang tidak diduduki siapa pun.

Rarasati terduduk di pinggir jalan.

Nama Daniswara masih tersimpan dalam kontak.

Namun, ketika dibuka, kolom namanya kosong.

Angka nomornya menghilang satu demi satu.

Ia segera mengambil pulpen dari tas.

Di lengan kirinya, dengan tekanan sampai ujung pena menggores kulit, ia menulis:

DANISWARA ADIKKU. DIA DATANG KEMARIN. DIA BELUM PULANG.

Ketika kembali, Pak Wirasena berdiri di depan pintu hitam.

“Rumah ini tidak langsung mengambil orang,” katanya.

Rarasati mencengkeram kerah bajunya.

“Apa yang sudah kamu lakukan?”

Kain itu terasa lembap dan rapuh.

“Yang diambil lebih dulu tempatnya di dunia,” jawab lelaki itu.

Dari balik pintu terdengar dua ketukan.

Rarasati melepaskan pegangannya.

Dua ketukan lagi.

Kemudian suara Daniswara, sangat jauh:

“Mbak, jangan sampai lupa namaku.”