‹ Daftar isi · Pernikahan yang Tak Pernah Kurencanakan

BAB 4

Pertemuan di Toko Bunga

Dita menarik kursinya lebih dekat, tetapi tidak menyentuh dokumen di tangan Alya.

“Kita bawa salinannya untuk diperiksa,” katanya. “Jangan mengambil kesimpulan di sini.”

Alya mengangguk. Matanya masih tertuju pada tanda tangan ibunya.

Ada sesuatu yang menyakitkan dari melihat nama orang yang sudah meninggal muncul di kertas yang tak bisa lagi ia jelaskan sendiri.

“Siapa yang menyimpan arsip ini?” tanyanya.

“Ibu saya,” jawab Raka. “Dalam lemari kerjanya.”

“Apakah ayah Anda tahu Anda membawanya?”

“Belum.”

Alya menurunkan kertas.

“Saya tidak ingin Anda memberikan sesuatu yang sebenarnya tidak boleh dibawa.”

“Saya mendapat akses untuk mengurus arsip pribadi ibu. Tapi untuk dokumen perusahaan, saya harus meminta lewat jalur resmi. Yang ini salinan dari berkas pribadinya.”

Dita mencatat keterangan itu, lalu meminta Raka menuliskan dari mana setiap salinan diperoleh.

Raka melakukannya tanpa keberatan.

Setelah urusan dokumen selesai, Alya mengeluarkan foto toko bunga dari tasnya.

“Tempat ini masih ada.”

Raka mendekat untuk melihatnya.

“Anda tahu alamatnya?”

“Saya pernah ke sana bersama ibu.”

“Boleh saya ikut?”

Alya memandang Dita.

“Aku harus kembali ke kantor,” kata sahabatnya itu. “Tapi kirim alamat dan kabar setelah sampai.”

Alya menyerahkan teleponnya agar Dita bisa melihat lokasi yang ia cari. Kemudian ia menatap Raka.

“Kita bertemu di sana. Saya berangkat sendiri.”

“Baik.”

***

Toko itu berada di antara tempat fotokopi dan sebuah apotek kecil. Papan namanya telah berganti, tetapi jendela tinggi dengan bingkai hijau masih sama.

Alya berhenti di seberang jalan.

Bangku tempat ia pernah duduk bersama ibunya sudah tidak ada. Sebagai gantinya, sebuah sepeda motor terparkir di bawah pohon ketapang.

Raka datang beberapa menit kemudian. Ia tidak langsung mengajak Alya menyeberang.

“Mau menunggu sebentar?”

Alya menggeleng.

“Kalau terlalu lama berdiri di sini, saya mungkin pulang.”

Raka berjalan di sampingnya, menyesuaikan langkah ketika Alya berhenti untuk membiarkan mobil lewat.

Lonceng kecil berbunyi saat pintu toko dibuka.

Aroma daun basah dan bunga krisan menyambut mereka. Seorang perempuan berusia sekitar enam puluh tahun sedang membungkus pot anggrek.

“Cari bunga untuk acara apa?” tanyanya.

“Sebenarnya kami ingin bertanya tentang toko ini,” jawab Alya.

Perempuan itu menatap mereka bergantian.

“Kalau soal sewa, saya bukan pemilik bangunannya.”

Alya mengeluarkan foto.

“Apakah Ibu mengenal dua orang ini?”

Perempuan tersebut mengambil kacamata dari saku bajunya. Ia mendekatkan foto, lalu terdiam.

“Dari mana kamu mendapatkannya?”

“Salah satunya ibu saya. Sulastri.”

Perempuan itu memandang Alya lebih saksama.

“Kamu Alya?”

Alya mengangguk.

“Saya Wening. Dulu membantu ibumu merangkai bunga.”

Nama itu terasa samar-samar akrab. Alya ingat seseorang yang selalu menyelipkan permen jahe ke saku seragamnya.

“Bu Wening?”

Perempuan itu tersenyum, tetapi matanya mulai basah.

“Kamu sudah besar sekali.”

Bu Wening mempersilakan mereka duduk di meja kecil belakang toko. Sebelum mengikuti, Raka membantu memindahkan pot yang menghalangi jalan.

Ketika ia menyebut namanya, tangan Bu Wening berhenti di atas teko.

“Adhitama?”

“Ratih ibu saya.”

Bu Wening meletakkan teko dengan hati-hati.

“Kalau begitu, kalian memang perlu bicara.”

Alya menggenggam tali tasnya.

“Kami menemukan dokumen pengalihan bagian usaha ibu saya kepada Pak Hendra.”

“Jadi surat itu muncul lagi.”

“Ibu pernah melihatnya?”

“Pernah ada orang datang membawa map. Saya tidak membaca semua isinya.”

“Apakah ibu saya menandatanganinya?”

Bu Wening tidak langsung menjawab.

“Yang saya ingat, ibumu menyuruh orang itu pergi. Setelahnya dia menelepon Ratih. Mereka bertengkar.”

Raka menunduk.

“Karena ayah saya?”

“Saya tidak mendengar seluruh percakapan,” jawab Bu Wening. “Saya tidak mau mengarang bagian yang tidak saya tahu.”

Alya menghargai jawaban itu, meskipun ia berharap mendapat kepastian.

Bu Wening bangkit dan membuka lemari pendek di belakang meja. Dari dalamnya ia mengeluarkan kaleng biskuit berisi kartu pelanggan, foto, dan buku catatan kecil.

“Sulastri pernah menitipkan ini. Katanya mau diambil setelah urusannya selesai.”

“Kenapa tidak diberikan kepada kami?”

“Saya datang ke rumah setelah pemakaman. Ada kerabatmu yang menerima. Katanya barang-barang ibumu sedang dibereskan, nanti saya akan dihubungi.”

Alya teringat rumah yang penuh tamu dan hari-hari yang terasa kabur setelah ibunya meninggal. Ia tidak tahu siapa yang ditemui Bu Wening.

“Saya tidak pernah mendapat pesannya.”

Bu Wening mengusap tutup kaleng.

“Seharusnya saya datang lagi.”

Alya membuka buku catatan itu.

Beberapa halaman berisi pesanan bunga. Di bagian belakang ada daftar tanggal, nomor kuitansi, dan nama sebuah kantor.

Di antara halaman terselip kunci kecil dengan gantungan plastik bertuliskan angka tujuh.

“Itu kunci apa?” tanya Raka.

“Laci meja lama,” jawab Bu Wening. “Mejanya masih dipakai untuk menyimpan pita.”

Ia menunjuk meja kayu di dekat jendela. Salah satu lacinya memiliki bekas goresan panjang.

Alya memasukkan kunci. Pada putaran pertama, kuncinya macet.

“Jangan dipaksa,” kata Raka.

Ia berjongkok, melihat posisi laci tanpa mengambil kunci dari tangan Alya.

“Coba angkat sedikit bagian depannya.”

Alya mengikuti arahannya. Kunci berputar.

Saat laci terbuka, punggung tangannya menyentuh tangan Raka yang menahan sisi meja. Raka segera menarik tangannya, memberi ruang.

Di dalam laci ada buku kuitansi dan sebuah amplop cokelat.

Alya mengambil amplop itu. Namanya tertulis di depan.

Untuk Alya, jika Ibu belum sempat menjelaskan.

Ia duduk sebelum membuka isinya.

Raka memindahkan segelas air ke dekatnya. Ia tidak meminta ikut membaca.

Di dalam amplop terdapat surat pendek dan satu foto lain.

Alya membaca kalimat pertama.

Alya, kalau suatu hari ada yang mengatakan Ibu menjaminkan rumah untuk usaha bunga, mintalah mereka menunjukkan dokumen aslinya. Ibu tidak pernah menyetujuinya.

Alya berhenti. Tenggorokannya terasa sempit.

Bu Wening duduk di seberangnya, sementara Raka tetap diam di kursi sebelah.

Setelah beberapa saat, Alya melanjutkan.

Ibu membuat kesalahan karena terlalu lama mempercayai orang yang berjanji akan membereskan semuanya. Tapi ada satu orang yang akhirnya bersedia membantu. Namanya—

Lonceng pintu toko berbunyi.

Bu Wening menoleh.

Seorang laki-laki berdiri di antara rangkaian bunga dekat pintu masuk. Kemejanya rapi, rambutnya mulai memutih, dan wajahnya memiliki kemiripan yang sulit diabaikan.

Raka berdiri.

“Ayah?”

Hendra tidak menjawab putranya. Pandangannya langsung jatuh pada surat di tangan Alya.

“Sepertinya,” katanya, “sudah waktunya saya menjelaskan.”