‹ Daftar isi · Pernikahan yang Tak Pernah Kurencanakan

BAB 5

Harga Sebuah Kejujuran

Bu Wening berdiri di antara Hendra dan meja tempat Alya duduk.

“Kalau ingin bicara, silakan. Tapi surat itu tetap di tangan Alya.”

Hendra berhenti. Ia memandang perempuan itu sejenak, lalu menarik kursi dari meja sebelah.

“Saya tidak datang untuk mengambilnya.”

Raka tetap berdiri.

“Bagaimana Ayah tahu kami di sini?”

“Sekretaris saya melihatmu keluar kantor membawa map arsip Ratih. Setelah telepon tadi malam, saya menduga kamu akan mencari toko ini.”

“Itu belum menjawab bagaimana Ayah tahu kami datang sekarang.”

Hendra menghela napas.

“Saya menelepon toko. Wening mengatakan ada yang menanyakan foto lama.”

Bu Wening mengangguk kepada Alya.

“Saya tidak tahu dia akan datang. Dia hanya bertanya apakah Raka pernah ke sini.”

Alya melipat surat ibunya hingga bagian tulisan berada di dalam. Ia memasukkannya ke tas.

“Silakan jelaskan,” katanya.

Hendra menatap foto yang masih terletak di meja.

“Ibumu dan Ratih membangun usaha ini bersama. Sulastri mengurus toko. Ratih mencari pelanggan untuk acara perusahaan.”

“Lalu bagian ibu saya beralih kepada Anda?”

“Usaha itu mendapat pinjaman. Ada pengeluaran yang tidak tercatat dengan benar. Ketika jatuh tempo, Ratih meminta saya membantu.”

“Dengan mengambil bagian ibu saya?”

“Saya membayar sejumlah kewajiban usaha.”

Alya menggeleng.

“Saya tidak bertanya apa yang Anda bayarkan. Saya bertanya apakah ibu saya menyetujui pengalihan itu.”

Hendra diam.

Raka menarik kursi dan duduk di samping Alya.

“Ayah punya dokumen aslinya?”

“Ada di arsip.”

“Di kantor?”

“Saya perlu memeriksanya.”

Alya membuka buku catatannya. Ia menuliskan jawaban itu, lengkap dengan tanggal hari ini.

Gerakan penanya membuat Hendra memandangnya.

“Ini tidak perlu menjadi pertengkaran.”

“Kalau begitu, bantu saya memahaminya dengan bukti.”

Untuk pertama kalinya, Hendra tidak segera menjawab.

Di luar jendela, seorang kurir berhenti membawa peti bunga. Bu Wening memberi isyarat agar peti diletakkan di depan. Setelah kurir pergi, ia membalik papan kecil di pintu menjadi Tutup.

“Ada lagi yang perlu Anda ketahui,” kata Hendra akhirnya. “Ayahmu pernah meminta bantuan saya.”

Alya mengangkat wajah.

“Ayah saya?”

“Untuk biaya pengobatan.”

“Dalam bentuk pinjaman?”

Hendra mengangguk.

“Berapa?”

“Saya tidak ingat angka pastinya.”

“Kapan?”

“Beberapa tahun sebelum beliau meninggal.”

Alya menekan ujung pena ke kertas. Ayahnya meninggal hampir empat tahun sebelum ibunya. Surat tagihan yang diterimanya menyebut tanggal perjanjian jauh sesudah itu.

Ia mengeluarkan surat tagihan dan menggesernya ke tengah meja.

“Tanggal di sini bukan beberapa tahun sebelum ayah saya meninggal.”

Hendra membaca lembar tersebut.

“Saya tidak menangani penagihan.”

“Tapi perusahaan ini memakai nama Anda sebagai salah satu pengurus,” kata Raka.

“Ada banyak dokumen yang tidak saya urus langsung.”

“Namun Ayah meminta saya tidak meninggalkan dokumen apa pun di rumah Alya.”

Rahang Hendra mengeras.

“Saya sedang mencoba mencegah kesalahpahaman.”

Alya menutup bukunya.

“Kalau memang begitu, kirimkan dokumen asli atau salinan yang bisa diperiksa kepada pihak yang mendampingi saya. Jangan minta saya mengambil keputusan hari ini.”

Ia berdiri.

Percakapan itu belum memberinya jawaban, tetapi ia merasa cukup mendengar untuk sementara. Semakin banyak Hendra berbicara, semakin banyak hal yang perlu diperiksa.

Hendra ikut berdiri.

“Saya bisa menghentikan penagihan sambil kita menyelesaikan ini.”

Alya menoleh.

“Apa syaratnya?”

“Tidak ada.”

“Kalau begitu, sampaikan secara tertulis melalui perusahaan penagih.”

Hendra menatap putranya.

“Kamu yang mengajarinya bicara seperti ini?”

“Tidak,” jawab Raka. “Alya bisa bicara untuk dirinya sendiri.”

Ucapan itu membuat Alya berhenti meraih tasnya.

Raka tidak memandangnya untuk mencari persetujuan. Ia tetap menatap ayahnya.

“Dan saya ingin melihat arsip yang berkaitan dengan Ibu. Lewat permintaan resmi jika perlu.”

“Kita bicarakan di rumah.”

“Kita akan bicara. Tapi saya tidak akan meminta Alya mengembalikan surat miliknya.”

***

Mereka keluar dari toko menjelang sore.

Bu Wening membungkus buku catatan dan surat-surat dengan kantong plastik agar tidak terkena hujan. Ia juga memberikan nomor teleponnya.

“Kalau ada bagian yang perlu saya jelaskan lagi, hubungi saja,” katanya kepada Alya.

Alya memeluknya sebelum berpisah.

Di trotoar, Raka berjalan beberapa langkah di belakang. Ketika Alya berhenti di bawah kanopi apotek, ia ikut berhenti dengan jarak yang cukup.

“Saya minta maaf,” katanya.

“Untuk ayah Anda?”

“Untuk cara saya datang kemarin. Saya melihat masalah yang sedang Anda hadapi, lalu langsung menempatkan kebutuhan saya di tengahnya.”

Alya memandang kendaraan yang lewat.

“Kemarin Anda memang membuat saya marah.”

“Saya tahu.”

“Hari ini juga belum membuat saya percaya sepenuhnya.”

“Anda tidak harus percaya secepat itu.”

Alya menoleh. Lengan kemeja Raka terkena percikan hujan dari jalan, tetapi ia tidak bergerak mendekat untuk berlindung di sisi Alya.

Ia menggeser sedikit posisinya, memberi tempat di bawah kanopi.

Raka masuk setelah melihat isyarat itu.

“Kenapa pernikahan?” tanya Alya. “Kenapa bukan bicara terus terang kepada kakek Anda?”

“Sudah. Beliau menganggap saya selalu menunda hidup di luar pekerjaan. Lalu urusan pribadi itu dijadikan ukuran apakah saya layak dipercaya mengelola perusahaan.”

“Dan Anda mau membuktikan beliau salah dengan berpura-pura menikah?”

Raka tertawa pendek, tanpa kegembiraan.

“Ketika Anda mengatakannya begitu, rencana saya terdengar jauh lebih buruk.”

“Memang.”

Mereka diam beberapa saat.

Lalu Alya bertanya, “Kalau saya menolak selamanya, apakah Anda tetap akan membantu mencari dokumen?”

“Ya.”

“Kenapa?”

“Ibu saya menyimpan surat itu. Ayah saya ada di dalam persoalannya. Saya perlu tahu yang sebenarnya, sekalipun hasilnya tidak menyenangkan bagi keluarga saya.”

Sebuah mobil berhenti di tepi jalan. Pengemudinya menurunkan kaca dan memanggil nama Alya. Kendaraan yang dipesannya sudah tiba.

Raka membukakan payung untuk mengantar sampai pintu mobil. Ia tidak menyentuh punggung Alya atau menarik lengannya ketika sebuah motor melintas. Ia hanya berkata, “Sebentar,” lalu menunggu jalan cukup aman.

Di samping mobil, Alya menatapnya.

“Kita cari dokumennya dulu.”

Raka mengangguk.

“Baik.”

“Tawaran pernikahan itu belum saya pertimbangkan.”

“Saya mengerti.”

Alya masuk ke mobil. Saat kendaraan mulai bergerak, ia melihat Raka masih berdiri di trotoar, menunggu sampai mobilnya bergabung dengan arus jalan.

Ia mengalihkan perhatian ke tas.

Surat ibunya belum selesai dibaca.

Dengan hati-hati, ia membuka lipatannya dan menemukan kalimat yang terputus ketika Hendra datang.

Tapi ada satu orang yang akhirnya bersedia membantu. Namanya Surya Adhitama.

Alya membaca nama itu sekali lagi.

Di bawahnya, ibunya menambahkan sebuah alamat dan pesan singkat.

Jika Ibu tidak sempat menyelesaikan ini, temui dia. Jangan pergi sendiri.

Telepon Alya bergetar.

Pesan dari Raka.

Kakek saya mendengar Ayah menyebut nama Anda. Beliau meminta bertemu besok pagi. Namanya Surya Adhitama.

Sebelum Alya sempat membalas, pesan berikutnya masuk.

Ada hal lain yang perlu saya sampaikan. Menurut Kakek, beliau sudah pernah bertemu Anda.

Alya memandangi surat di pangkuannya.

Ia sama sekali tidak ingat pernah mengenal lelaki bernama Surya.

Namun, ketika membalik lembar itu, ia menemukan satu kalimat terakhir yang ditulis lebih kecil daripada bagian lainnya.

Jangan percaya jika dia mengatakan pertemuan kalian yang pertama terjadi besok.